Dee lahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong (alm) dan Tiurlan br Siagian (alm). Sepertinya, darah seni mengalir turun-menurun kepada seluruh anggota keluarga ini. Setidaknya, tiga saudara perempuan Dee juga aktif di bidang seni, meskipun tidak sama-sama menjadi penulis. Kakak perempuan pertamanya, Key Mangunsong adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kakak perempuan keduanya, Imelda Rosalin adalah seorang pianis dan penyanyi jazz. Adik perempuannya, Arina Ephipania adalah seorang penyanyi dan merupakan vokalis grup musik Mocca.[1]
Pendidikan
Berikut adalah daftar riwayat pendidikan Dee Lestari.
SDN Banjarsari III Bandung.
SMPN 2 Bandung.
SMAN 2 Bandung.
Sarjana Ilmu Politik dari FISIP Universitas Parahyangan Bandung, jurusan Hubungan Internasional.
Trio RSD meluncurkan album perdana, Antara Kita pada tahun 1995 yang kemudian dilanjutkan dengan album Bertiga (1997). RSD kemudian berkibar di bawah bendera Sony Music Indonesia dan merilis album Satu (1999) dengan nomor andalan antara lain, "Kepadamu" dan "Tak Perlu Memiliki". Menjelang akhir tahun 2002, RSD mengemas lagu-lagu terbaiknya ke dalam album The Best of Rida Sita Dewi dengan tambahan dua lagu baru, yakni "Ketika Kau Jauh" ciptaan Stephan Santoso/Inno Daon dan "Terlambat Bertemu", karya pentolan Kahitna, Yovie Widianto.
Pada tahun 2006, Dee meluncurkan album berbahasa Inggris berjudul Out Of Shell.[3] Kemudian, tahun 2008 Ia meluncurkan album RectoVerso.[4] Album ini mengundang Arina Mocca berduet di lagu "Aku Ada" dan berduet di lagu "Peluk" dengan Aqi Alexa. Hits besarnya adalah "Malaikat Juga Tahu". Di album ini juga Dee merilis ulang lagu milik Marcell Siahan berjudul "Firasat".
Karier Menulis
Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul "Sikat Gigi" pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, Ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi" ke Majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis. Lalu, Ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, Ia menulis cerita bersambung berjudul "Rico the Coro" yang dimuat di Majalah Mode. Bahkan, ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, Ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.
Novel pertamanya yang sensasional, Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh, dirilis pada 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan merupakan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan Supernova Satu edisi bahasa Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahli dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.
Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan seri kedua, yaitu Supernova 2: Akar pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak pencantuman lambang Omkara/Aum yang merupakan aksara suci Brahman Tuhan Maha Esa dalam Hindu sebagai kover buku. Akhirnya, disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan muncul lagi pada cetakan ke-2 dan seterusnya.
Pada bulan Januari 2005, Dee merilis novel ketiga dari seri Supernova, yaitu Supernova 3: Petir. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, Ia memasukkan 4 tokoh baru dalam Petir. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.
Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbaru, yaitu Rectoverso yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso merupakan istilah untuk dua citra yang seolah terpisah tetapi sesungguhnya satu kesatuan dan saling melengkapi. Buku Rectoverso terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tajuk dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Laman khusus mengenai ulasan buku Rectoverso ada di www.dee-rectoverso.com[pranala nonaktif permanen]
Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas. Tahun 2012, Dee kembali mengeluarkan novel keempat seri Supernova yang berjudul Supernova 4: Partikel dengan tokoh utama Zarah.
Oktober 2014, Dee menerbitkan novel lanjutan novel seri Supernova yang berjudul Supernova 5: Gelombang dengan tokoh utama Alfa.
Pada tanggal 26 Februari 2016, seri terakhir Supernova dengan judul Supernova 6: Inteligensi Embun Pagi (IEP) telah beredar di toko buku di Indonesia. Sebelumnya, Dee menjual novel dengan sistem pre order bertandatangan yang dilangsungkan selama 19 hari. Akibatnya, Ia harus menandatangani ribuan buku IEP pesanan pembaca setia yang biasa disebut Addeection.
Kehidupan Pribadi
Dee menikah dengan penyanyi R&B, Marcell Siahaan pada 12 September2003. Melalui pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana (lahir 5 Agustus2004). Pernikahan ini berakhir setelah Dee menggugat cerai Marcell di Pengadilan Negeri Bale Bandung pada 27 Juni2008.[5] Dee kemudian menikahi seorang pakar penyembuhan holistik, Reza Gunawan pada 11 November2008 di Sydney dan dikarunai anak kedua yang bernama Atisha Prajna Tiara. Pada 6 September 2022, Reza meninggal karena penyakit stroke.[6][7]
Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2006 sebagai karya sastra terbaik - Filosofi Kopi (Kementerian Pendidikan & Kebudayaan Indonesia)