Danau Tasikardi adalah suatu danau buatan di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kota Serang, Provinsi Banten, sekaligus menjadi salah satu cagar budaya peninggalan masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf yang ditetapkan secara resmi pada tahun 1998.[1] Letaknya sekitar 10 km dari pusat kota Serang. Namanya berasal dari bahasa Sunda Kuno yang berarti 'danau buatan'. Luasnya 5 hektare dan bagian dasarnya dilapisi ubin batu bata.[2] Saat ini Danau Tasikardi digunakan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat sekitar.
Sejarah
Danau Tasikardi dibuat pada masa pemerintahan Maulana Yusuf (bertahta 1570-1580 M), sultan Banten kedua dan merupakan tempat peristirahatan sultan dan keluarganya. Danau yang dibangun oleh Hendrik Lucas Cardeel ini memiliki peranan ganda, yaitu menampung air dari Sungai Cibanten demi pengairan sawah, dan memasok air ke keraton dan masyarakat sekitarnya.[1][3] Air Danau Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowan melalui pipa yang terbuat dari tanah liat dan berdiameter 2,40 meter. Sebelum digunakan, air disaring dan diendapkan di tempat penyaringan khusus yang disebut situs pangindelan abang atau 'penyaringan merah', situs pengindelan putih dan situs pangindelan emas.[1][2][4]
Danau Tasikardi, bersama Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, Pasar Lama Serang, Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara masuk dalam situs Banten Lama. Di tengah danau terdapat sebuah pulau yang bernama Kaputren yang dahulunya merupakan tempat untuk bertafakur bagi ibunda sultan. Di pulau tersebut masih dapat dilihat peninggalan Kesultanan Banten, seperti kolam penampungan air, pendopo, dan kamar mandi keluarga kesultanan. Selang berganti waktu, danau ini digunakan sebagai tempat rekreasi bagi keluagra sultan, bahkan hingga saat ini Danau Tasikardi digunakan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat sekitar. [2][1] Selain itu, pada tahun 1706 danau ini pernah menjadi tempat untuk menerima tamu dari Belanda yaitu Cornellis de Bruin.[1][4]