Biografi
Adh-Dhahhak lahir pada tahun 626.[7] Ia ikut dalam Penaklukan Damaskus pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab lalu tinggal di sana.[7] Adh-Dhahhak kemudian menjadi pendukung Mu'awiyah, gubernur Syam, dan menjabat sebagai shāḥib as-syurṭhah (kepala pasukan keamanan). Mu'awiyah kemudian mengangkatnya menjadi gubernur Jund Dimasyq (distrik militer Damaskus). Pada tahun 656, Adh-Dhahhak mengalahkan Malik al-Asytar, seorang pendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib di dataran antara Harran dan Ar-Raqqah, yang memaksa al-Asytar mundur ke Mosul. Pada Pertempuran Shiffin antara Muawiyah dan Ali, Adh-Dhahhak memimpin infanteri pasukan Syam. Ia kemudian dikirim untuk melawan pendukung Ali di Hijaz, tetapi pasukannya yang berkekuatan 3.000 orang berhasil dihalau oleh salah satu jenderal Ali, Hujr bin Adi al-Kindi.
Muawiyah mengangkat Adh-Dhahhak sebagai gubernur Kufah pada tahun 673/74 atau 674/75, tetapi ia dipecat dari jabatannya tiga atau empat tahun kemudian. Ketika Muawiyah berada di ranjang kematiannya pada tahun 680, ia memilih Adh-Dhahhak dan Muslim bin Uqbah sebagai wakilnya dan memerintahkan mereka untuk mengamankan suksesi putranya Yazid bin Muawiyah. Adh-Dhahhak memimpin salat jenazah Muawiyah dan membantu memastikan aksesi Yazid; pada gilirannya, yang terakhir mengukuhkan Adh-Dhahhak sebagai gubernur Jund Dimasyq. Yazid meninggal pada tahun 683 dan digantikan oleh putranya Muawiyah bin Yazid, yang jatuh sakit parah beberapa minggu kemudian. Sebelum meninggal, Muawiyah memilih Adh-Dhahhak untuk menjadi imam salat di Damaskus untuk menggantikannya sampai khalifah baru diangkat.
Ketika terjadi ketidakstabilan politik setelah kematian Muawiyah bin Yazid dan tidak memiliki pengganti yang cocok, Adh-Dhahhak diam-diam mendukung terhadap Abdullah bin az-Zubair. Ia adalah khalifah saingan Bani Umayyah di Makkah. Adh-Dhahhak kemudian secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Ibnu az-Zubair, yang kemudian tidak hanya mengukuhkan jabatannya sebagai gubernur Damaskus, tetapi juga memberinya wewenang atas gubernur Jund Hims dan Jund Qinnasrin yang juga mendukung Ibnu az-Zubair. Sementara itu, seorang jenderal Umayyah, Ubaidillah bin Ziyad, mengusulkan kepada Adh-Dhahhak agar ia menjadi pemuka suku Quraisy dan membujuknya untuk kembali mendukung Bani Umayyah. Adh-Dhahhak pada awalnya menerima usulan Ubaidillah akan tetapi karena pendukungnya tetap memaksa untuk mengakui kekhalifahan Ibnu az-Zubair, ia kemudian menolaknya mengingat tidak ada yang cocok untuk menjadi khalifah dari garis keturunan Bani Umayyah. Setelah itu, Ubaidillah bersama dengan pendukung lama Muawiyah, seperti Hassan bin Malik bin Bahdal dari Bani Kalb dan para pemuka kabilah Bani Qudha'ah dan Yaman, mengajukan pemuka Umayyah, Marwan bin al-Hakam, sebagai calon khalifah mereka.
Adh-Dhahhak kemudian meninggalkan Damaskus untuk memimpin suku Qais pendukung Ibnu az-Zubair di dataran Marj Rahith, sebelah utara Damaskus. Sementara itu, Ubaidillah bin Ziyad memasuki Damaskus dan mengakui Marwan sebagai khalifah baru dalam salat Jumat. Marwan dan pendukungnya, terutama Bani Kalb, kemudian menghadapi pasukan Adh-Dhahhak. Setelah dua puluh hari akhir tahun 684, Adh-Dhahhak terbunuh dan pasukannya dikalahkan dalam Pertempuran Marj Rahith. Dalam Al-Bidayah wan Nihayah, disebutkan bahwa Adh-Dhahhak dibunuh oleh Zahmah bin Abdullah dari Bani Kalb, dan berita terbunuhnya pertama kali disebarkan oleh Rauh bin Zinba' al-Judzami.[10]
Ia meninggalkan anak-anak, antara lain Amr, Muhammad, Abdurrahman dan Habib.[4] Salah satu putranya, Abdurrahman, kemudian kembali mendukung Bani Umayyah dan menjabat sebagai gubernur Madinah di bawah Khalifah Yazid bin Abdul-Malik (berkuasa 720–724). Beberapa bangunan yang terkait dengan Adh-Dhahhak bertahan berabad-abad kemudian setelah kematiannya, termasuk rumah dan pemandiannya di Damaskus yang dicatat oleh sejarawan abad ke-12 Ibnu Asakir dan sebuah masjid di dinding selatan Istana Damaskus yang diakui oleh sejarawan abad ke-16 al-Almawi.