ENSIKLOPEDIA
Codex Hammurabi
| Hammurabi 𒄩𒄠𒈬𒊏𒁉code: akk is deprecated | |
|---|---|
| Raja Babilonia Raja Empat Penjuru Dunia | |
| Raja Kekaisaran Babilonia Lama | |
| Berkuasa | ca 1792–ca 1750 SM (KT) |
| Pendahulu | Sin-Muballit |
| Penerus | Samsu-iluna |
| Kelahiran | ca 1810 SM Babilon, Kekaisaran Babilonia Lama |
| Kematian | ca 1750 SM (umur 59–60) Babilon, Kekaisaran Babilonia Lama |
| Keturunan | Samsu-iluna |
Hammurabi (/ˌhæmʊˈrɑːbi/; Akkadia Babilonia Kuno: 𒄩𒄠𒈬𒊏𒁉, romanized: Ḫammu-rāpicode: akk is deprecated ;[2][a] bahasa Akkadia: [xammuˈraːpʰi]; ca 1810–ca 1750 SM), juga dieja sebagai Hammurapi,[4][5] adalah raja Amori keenam dari Kekaisaran Babilonia Lama, yang bertakhta dari ca 1792 hingga ca 1750 SM. Ia meneruskan takhta ayahnya, Sin-Muballit, yang turun takhta karena kesehatannya yang memburuk. Pada masa pemerintahannya, ia menaklukkan negara-negara kota seperti Larsa, Eshnunna, dan Mari. Ia menggulingkan Ishme-Dagan I, raja Asyur, dan memaksa putranya Mut-Ashkur untuk membayar upeti, yang membawa hampir seluruh wilayah Mesopotamia di bawah kekuasaan Babilonia.
Hammurabi paling dikenal karena menerbitkan undang-undangnya, yang diyakini sebagai wahyu dari Syamas, dewa keadilan Babilonia. Berbeda dengan undang-undang Sumeria sebelumnya, seperti Undang-Undang Ur-Nammu, yang berfokus pada kompensasi bagi korban kejahatan, Undang-Undang Hammurabi merupakan salah satu undang-undang pertama yang lebih menekankan pada hukuman fisik bagi pelaku. Undang-undang ini menetapkan hukuman spesifik untuk setiap kejahatan dan merupakan salah satu pedoman pertama yang menetapkan asas praduga tak bersalah. Hal ini dimaksudkan untuk membatasi tindakan balasan yang diizinkan bagi orang yang dirugikan dalam mencari keadilan retributif. Undang-Undang Hammurabi dan Hukum Musa di dalam Taurat memiliki banyak kesamaan.
Hammurabi dipandang oleh banyak orang sebagai sosok dewa semasa hidupnya. Setelah kematiannya, Hammurabi dipuja sebagai penakluk besar yang menyebarkan peradaban dan memaksa seluruh bangsa untuk tunduk kepada Marduk, dewa nasional bangsa Babilonia. Di kemudian hari, pencapaian militernya mulai dikesampingkan dan perannya sebagai pemberi hukum yang ideal menjadi aspek utama dari warisannya. Bagi bangsa Mesopotamia pada masa selanjutnya, masa pemerintahan Hammurabi menjadi kerangka acuan untuk semua peristiwa yang terjadi di masa lalu yang jauh. Bahkan setelah kekaisaran yang ia bangun runtuh, ia tetap dipuja sebagai penguasa panutan, dan banyak raja di seluruh wilayah Timur Dekat mengklaimnya sebagai leluhur. Hammurabi ditemukan kembali oleh para arkeolog pada akhir abad kesembilan belas dan sejak itu dipandang sebagai tokoh penting dalam sejarah hukum.
Kehidupan
Latar belakang dan naik takhta

Hammurabi naik takhta sebagai raja dari sebuah kerajaan kecil di tengah situasi geopolitik yang kompleks. Hammurabi adalah raja Dinasti Pertama bangsa Amori dari negara kota Babilon, dan mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Sin-Muballit, pada ca 1792 SM.[6] Babilon adalah salah satu dari sekian banyak negara kota yang sebagian besar diperintah oleh bangsa Amori yang tersebar di dataran Mesopotamia bagian tengah dan selatan, serta saling berperang untuk memperebutkan lahan pertanian yang subur.[7] Meskipun banyak budaya hidup berdampingan di Mesopotamia, budaya Babilonia memperoleh tingkat keunggulan tertentu di kalangan kelas terpelajar di seluruh wilayah Timur Tengah di bawah pemerintahan Hammurabi.[8] Raja-raja yang mendahului Hammurabi telah mendirikan sebuah negara kota yang relatif kecil pada tahun 1894 SM, yang menguasai sedikit wilayah di luar kota itu sendiri. Babilon berada di bawah bayang-bayang kerajaan yang lebih tua, lebih besar, dan lebih kuat, seperti Elam, Asyur, Isin, Eshnunna, dan Larsa selama sekitar satu abad setelah didirikan. Namun, ayahnya Sin-Muballit telah mulai mengonsolidasikan pemerintahan atas wilayah kecil di Mesopotamia tengah bagian selatan di bawah kekuasaan Babilonia dan, pada masa pemerintahannya, telah menaklukkan negara-negara kota kecil seperti Borsippa, Kish, dan Sippar.[8]
Kerajaan Eshnunna yang kuat menguasai bagian hulu Sungai Tigris, sementara Larsa menguasai delta sungai tersebut. Di sebelah timur Mesopotamia terletak kerajaan Elam yang kuat, yang secara teratur menyerang dan memaksa negara-negara kecil di Mesopotamia selatan untuk membayar upeti. Di wilayah utara Mesopotamia, raja Asyur, Shamshi-Adad I, yang telah mewarisi koloni-koloni Asyur yang telah berusia berabad-abad di Asia Kecil, telah memperluas wilayahnya hingga ke Levant dan bagian tengah Mesopotamia,[9] meskipun kematiannya yang terlalu cepat membuat kekaisarannya menjadi agak terpecah belah.[10]
Pemerintahan dan penaklukan

Beberapa tahun pertama pemerintahan Hammurabi berlangsung cukup damai.[11] Hammurabi menggunakan kekuasaannya untuk melakukan serangkaian pekerjaan umum, termasuk meninggikan tembok kota untuk tujuan pertahanan, dan memperluas kuil-kuil.[12] Kerajaan Elam yang kuat, yang membentang di rute perdagangan penting melintasi Pegunungan Zagros, menginvasi dataran Mesopotamia.[13] Bersama para sekutu di antara negara-negara dataran, Elam menyerang dan menghancurkan kerajaan Eshnunna, membinasakan sejumlah kota dan memaksakan kekuasaannya di beberapa bagian dataran tersebut untuk pertama kalinya.[14]
Untuk mengonsolidasikan posisinya, Elam mencoba menyulut perang antara kerajaan Babilonia pimpinan Hammurabi dan kerajaan Larsa.[15] Hammurabi dan raja Larsa membuat aliansi setelah mereka mengetahui kelicikan ini dan berhasil menumpas bangsa Elam, meskipun Larsa tidak memberikan banyak kontribusi pada upaya militer tersebut.[15] Marah oleh kegagalan Larsa untuk datang membantunya, Hammurabi berbalik menyerang kekuatan selatan tersebut, sehingga memperoleh kendali atas seluruh dataran rendah Mesopotamia pada ca 1763 SM.[16]
Karena Hammurabi dibantu selama perang di selatan oleh sekutu-sekutunya dari utara seperti Yamhad dan Mari, ketidakhadiran para tentara di wilayah utara memicu terjadinya kerusuhan.[16] Melanjutkan ekspansinya, Hammurabi mengalihkan perhatiannya ke utara untuk meredam kerusuhan tersebut. Segera setelah itu, ia menghancurkan Eshnunna.[17] Selanjutnya pasukan Babilonia menaklukkan sisa negara-negara utara, termasuk mantan sekutu Babilon, yakni Mari, meskipun penaklukan Mari ini mungkin merupakan bentuk penyerahan diri tanpa adanya konflik yang nyata.[18][19]
Hammurabi memasuki perang berkepanjangan dengan Ishme-Dagan I dari Asyur untuk memperebutkan kendali atas Mesopotamia, di mana kedua raja tersebut membuat aliansi dengan negara-negara kecil demi mendapatkan keuntungan. Pada akhirnya Hammurabi menang, menggulingkan Ishme-Dagan I sesaat sebelum kematiannya sendiri. Mut-Ashkur, raja baru Asyur, dipaksa untuk membayar upeti kepada Hammurabi.[20]
Hanya dalam beberapa tahun, Hammurabi berhasil menyatukan seluruh wilayah Mesopotamia di bawah kekuasaannya.[19] Kerajaan Asyur bertahan tetapi dipaksa untuk membayar upeti selama masa pemerintahannya, dan dari negara-negara kota besar di wilayah tersebut, hanya Aleppo dan Qatna di sebelah barat di kawasan Levant yang mampu mempertahankan kemerdekaan mereka.[19] Namun, sebuah prasasti (monumen batu) peninggalan Hammurabi telah ditemukan jauh di utara hingga ke Diyarbekir, di mana ia mengklaim gelar "Raja bangsa Amori".[21]
Sejumlah besar lauh tanah liat berisi perjanjian, yang berasal dari masa pemerintahan Hammurabi dan para penerusnya, telah ditemukan, serta 55 pucuk surat miliknya sendiri.[22] Surat-surat ini memberikan gambaran sekilas mengenai cobaan sehari-hari dalam memerintah sebuah kekaisaran, mulai dari penanganan banjir dan mengamanatkan perubahan pada kalender yang cacat, hingga mengurus kawanan ternak Babilonia yang sangat banyak.[23] Hammurabi mangkat dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kekaisaran kepada putranya, Samsu-iluna, pada ca 1750 SM, dan di bawah pemerintahannya kekaisaran Babilonia dengan cepat mulai runtuh.[24]
Keluarga
Setidaknya tiga putra dan satu putri Hammurabi (Ḫammu-rāpi) telah dibuktikan keberadaannya secara pasti:
- Sumu-ditāna, tampaknya merupakan putra tertua, pengunjung Mari[25]
- Sumu-ḫammu, putra Sumu-ditāna[25]
- Mutu-Numaḫa, pengunjung Mari[25]
- Samsu-ilūna, penerus Hammurabi[26]
- Perempuan tak bernama, menikah dengan Ṣillī-Sîn, raja Ešnunna[27][25]
- Lamassani, pemuja (nadītum) dewa Šamaš, kemungkinan adalah putri raja[25]
- Arwītum, kemungkinan putri raja, menikah dengan Narām-Sîn[25]
- Tunamis-Saḫ, tambahan putra yang diragukan (namanya tampaknya merupakan nama Kass), tercatat sebagai leluhur Ninurta-kudurrī-uṣur yang ternama, putra Šamaš-rēša-uṣur, yang mana keduanya merupakan gubernur Sūḫu pada abad ke-9 SM[28]
Undang-undang
Undang-Undang Hammurabi adalah kumpulan 282 hukum yang mengatur berbagai macam masalah.[29] Kumpulan hukum ini bukanlah undang-undang tertua yang bertahan[30][b] tetapi terbukti lebih berpengaruh dalam perpolitikan dunia dan hubungan internasional[32][33] karena alih-alih berfokus pada pemberian kompensasi kepada korban kejahatan, seperti halnya undang-undang bangsa Sumeria sebelumnya, Undang-Undang Hammurabi justru berfokus pada hukuman fisik bagi pelakunya.[33] Undang-undang ini juga merupakan salah satu undang-undang pertama yang membatasi tindakan balasan yang diizinkan bagi orang yang dirugikan dalam mencari keadilan retributif[33] dan salah satu contoh terawal dari gagasan praduga tak bersalah, yang menyiratkan bahwa pihak tertuduh maupun penuduh memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan bukti.[34] Struktur undang-undang ini sangatlah spesifik, dengan masing-masing pelanggaran mendapatkan hukuman yang telah ditetapkan. Banyak pelanggaran yang berujung pada kematian, hukuman cacat fisik, atau penggunaan filosofi Lex Talionis ("Mata ganti mata, gigi ganti gigi").[35][33]
Undang-Undang Hammurabi diukir di atas sebuah prasasti dan ditempatkan di tempat umum agar dapat dilihat oleh semua orang, meskipun diyakini bahwa hanya sedikit orang yang melek huruf pada masa itu. Prasasti tersebut kemudian dijarah oleh bangsa Elam dan dipindahkan ke ibu kota mereka, Susa; prasasti ini ditemukan kembali di sana pada tahun 1901 di Iran dan sekarang berada di Museum Louvre di Paris.
Undang-Undang Hammurabi memuat 282 hukum, yang ditulis oleh para juru tulis pada 12 lempengan.[32] Berbeda dengan undang-undang sebelumnya, undang-undang ini ditulis dalam bahasa Akkadia, bahasa sehari-hari di Babilon, dan dengan demikian dapat dibaca oleh setiap orang yang melek huruf di kota tersebut. Pada masa ini, bahasa Akkadia menggantikan bahasa Sumeria, dan Hammurabi memulai reformasi bahasa yang kelak menjadikan bahasa Akkadia sebagai bahasa yang paling umum digunakan pada masa tersebut.[36] Ukiran di bagian atas prasasti tersebut menggambarkan Hammurabi yang sedang menerima undang-undang dari Syamas, dewa keadilan Babilonia,[37] dan bagian pendahuluannya menyatakan bahwa Hammurabi dipilih oleh Syamas untuk membawa hukum tersebut kepada rakyat.[38]
Berkat reputasi Hammurabi sebagai sang pemberi hukum, penggambarannya dapat ditemukan di berbagai gedung hukum di seluruh dunia. Hammurabi adalah satu dari 23 pemberi hukum yang digambarkan dalam relief rendah dari marmer di ruang sidang DPR Amerika Serikat di dalam Gedung Kapitol Amerika Serikat.[39] Sebuah lis ukir karya Adolph Weinman yang menggambarkan "para pemberi hukum agung dalam sejarah", termasuk Hammurabi, berada di dinding selatan Gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat.[40][41]
Warisan
Peringatan anumerta

Hammurabi dihormati melampaui semua raja lain pada milenium kedua SM[45] dan ia menerima kehormatan langka dengan dinyatakan sebagai dewa semasa hidupnya.[46] Nama pribadi "Hammurabi-ili" yang berarti "Hammurabi adalah dewaku" menjadi umum selama dan setelah masa pemerintahannya. Dalam tulisan-tulisan dari masa yang tak lama setelah kematiannya, Hammurabi dikenang terutama atas tiga pencapaian: membawa kemenangan dalam perang, membawa perdamaian, dan mewujudkan keadilan.[46]
Penaklukan yang dilakukan oleh Hammurabi di kemudian hari dianggap sebagai bagian dari misi suci untuk menyebarkan peradaban ke seluruh bangsa.[47] Sebuah prasasti dari Ur mengagungkannya melalui sudut pandangnya sendiri sebagai penguasa perkasa yang menundukkan kejahatan dan memaksa semua bangsa untuk menyembah Marduk.[48] Prasasti tersebut menyatakan: "Orang-orang Elam, Gutium, Subartu, dan Tukrish, yang pegunungannya jauh dan bahasanya tidak jelas, aku letakkan di tangan [Marduk]. Aku sendiri terus meluruskan pikiran mereka yang kebingungan." Sebuah himne di kemudian hari yang juga ditulis melalui sudut pandang Hammurabi sendiri memujinya sebagai kekuatan supernatural yang dahsyat bagi Marduk:[47]
Aku adalah raja, pengekang yang mencengkeram para pelaku kejahatan, yang menyatukan pikiran orang-orang,
Aku adalah naga agung di antara raja-raja, yang mengacaukan siasat mereka,
Aku adalah jaring yang direntangkan di atas musuh,
Aku adalah pemicu ketakutan, yang ketika mengangkat matanya yang tajam, memberikan hukuman mati kepada mereka yang tidak taat,
Aku adalah jaring besar yang menutupi niat jahat,
Aku adalah singa muda, yang mematahkan jaring dan tongkat kerajaan,
Aku adalah jaring pertempuran yang menjerat dia yang menyinggung perasaanku.[48]
Setelah memuji pencapaian militer Hammurabi, himne tersebut pada akhirnya menyatakan: "Aku adalah Hammurabi, sang raja keadilan."[46] Dalam peringatan-peringatan di masa selanjutnya, peran Hammurabi sebagai pemberi hukum yang agung mulai lebih ditekankan di atas semua pencapaiannya yang lain, sementara pencapaian militernya menjadi dikesampingkan. Masa pemerintahan Hammurabi menjadi titik acuan untuk semua peristiwa yang terjadi di masa lalu yang jauh. Sebuah himne untuk dewi Isytar, yang dari bahasanya menyiratkan bahwa himne itu ditulis selama masa pemerintahan Ammisaduqa, penerus keempat Hammurabi, menyatakan: "Raja yang pertama kali mendengar lagu ini sebagai lagu kepahlawananmu adalah Hammurabi. Lagu untukmu ini digubah pada masa pemerintahannya. Semoga ia diberi kehidupan untuk selamanya!"[45] Selama berabad-abad setelah kematiannya, hukum-hukum Hammurabi terus disalin oleh para juru tulis sebagai bagian dari latihan menulis mereka, dan bahkan sebagian diterjemahkan ke dalam bahasa Sumeria.[49]
Warisan politik

Selama masa pemerintahan Hammurabi, Babilon merebut kedudukan sebagai "kota paling suci" di Mesopotamia selatan dari pendahulunya, Nippur.[51] Di bawah pemerintahan penerus Hammurabi, yakni Samsu-iluna, Kekaisaran Babilonia yang berumur pendek mulai runtuh. Di Mesopotamia utara, baik bangsa Amori maupun Babilonia diusir dari Asyur oleh Puzur-Sin, seorang penguasa asli berbahasa Akkadia, pada ca 1740 SM. Sekitar waktu yang sama, para penutur asli bahasa Akkadia menggulingkan kekuasaan Babilonia Amori di ujung selatan Mesopotamia, dan mendirikan Dinasti Negeri Laut, yang letaknya kurang lebih berada di wilayah Sumeria kuno. Para penerus Hammurabi yang tidak cakap menghadapi kekalahan berturut-turut dan kehilangan wilayah di tangan raja-raja Asyur seperti Adasi dan Bel-ibni, serta oleh Dinasti Negeri Laut di selatan, Elam di timur, dan bangsa Kass dari wilayah timur laut. Dengan demikian, Babilon dengan cepat menyusut kembali menjadi negara kecil dan minor seperti pada saat awal didirikannya.[52]
Pukulan mematikan (coup de grace) bagi Dinasti Amori pimpinan Hammurabi terjadi pada tahun 1595 SM, ketika Babilon dijarah dan ditaklukkan oleh Kekaisaran Het yang kuat, yang dengan demikian mengakhiri seluruh jejak politik bangsa Amori di Mesopotamia.[53] Namun, bangsa Het yang berbahasa Indo-Eropa tidak menetap di sana, dan menyerahkan Babilon kepada sekutu Kass mereka, yaitu bangsa yang menuturkan bahasa isolat dari wilayah pegunungan Zagros. Dinasti Kass ini memerintah Babilon selama lebih dari 400 tahun dan mengadopsi banyak aspek dari budaya Babilonia, termasuk undang-undang Hammurabi.[53] Meskipun Dinasti Amori telah runtuh, Hammurabi masih tetap dikenang dan dipuja.[49] Ketika raja Elam Shutruk-Nahhunte I menyerbu Babilon pada 1158 SM dan merampas banyak monumen batu, ia memerintahkan agar sebagian besar tulisan pada prasasti-prasasti tersebut dihapus dan mengukir prasasti baru di atasnya.[49] Namun, pada prasasti yang memuat hukum-hukum Hammurabi, hanya empat atau lima kolom yang dihapus dan tidak ada prasasti baru yang pernah ditambahkan padanya.[50] Lebih dari seribu tahun setelah kematian Hammurabi, para raja Suhu, sebuah wilayah di sepanjang sungai Efrat yang letaknya persis di barat laut Babilon, mengklaimnya sebagai leluhur mereka.[54]
Sebuah prasasti kerajaan Babilonia Baru, yang dimaksudkan untuk dipajang di atas monumen batu, memperingati pemberian pengecualian pajak dari kerajaan kepada sembilan kota Babilonia dan menampilkan sang protagonis kerajaan sebagai sosok Hammurabi yang kedua.[55]
Hubungan dengan tokoh-tokoh Alkitab dan Hukum Musa

Pada akhir abad kesembilan belas, Undang-Undang Hammurabi menjadi pusat perdebatan utama dalam kontroversi Babel und Bibel ("Babilonia dan Alkitab") yang memanas di Jerman mengenai hubungan antara Alkitab dan teks-teks Babilonia kuno.[56] Pada bulan Januari 1902, ahli Asiriologi Jerman Friedrich Delitzsch memberikan kuliah di Sing-Akademie zu Berlin di hadapan Kaisar dan istrinya, di mana ia berargumen bahwa Hukum Musa dalam Perjanjian Lama disalin langsung dari Undang-Undang Hammurabi.[57] Kuliah Delitzsch sangatlah kontroversial sehingga, menjelang September 1903, ia telah mengumpulkan 1.350 artikel pendek dari surat kabar dan jurnal, lebih dari 300 artikel yang lebih panjang, dan dua puluh delapan pamflet, yang semuanya ditulis sebagai tanggapan atas kuliah tersebut, serta kuliah sebelumnya mengenai kisah Air Bah dalam Epos Gilgamesh. Artikel-artikel tersebut sebagian besar sangat kritis terhadap Delitzsch, meskipun ada beberapa yang bersimpati. Kaisar menjaga jarak dari Delitzsch dan pandangan-pandangan radikalnya dan, pada musim gugur 1904, Delitzsch terpaksa memberikan kuliah ketiganya di Köln dan Frankfurt am Main alih-alih di Berlin.[56] Asumsi hubungan antara Hukum Musa dan Undang-Undang Hammurabi kemudian menjadi bagian utama dari argumen Delitzsch dalam bukunya pada tahun 1920–1921, Die große Täuschung (Penipuan Besar), bahwa Alkitab Ibrani telah benar-benar tercemar oleh pengaruh Babilonia dan bahwa umat Kristen hanya dapat memercayai pesan Arya yang sejati dari Perjanjian Baru apabila mereka menyingkirkan sepenuhnya Perjanjian Lama buatan manusia.[57] Pada awal abad kedua puluh, banyak sarjana percaya bahwa Hammurabi adalah Amrafel, Raja Sinear dalam Kitab Kejadian 14:1.[58][59] Pandangan ini kini sebagian besar telah ditolak,[60][61] dan keberadaan Amrafel tidak dibuktikan dalam tulisan-tulisan mana pun dari luar Alkitab.[61]
Paralel antara narasi ini dan pemberian Kitab Perjanjian kepada Musa oleh Yahweh di puncak Gunung Sinai di dalam Kitab Keluaran Alkitabiah dan kemiripan di antara kedua undang-undang tersebut mengisyaratkan adanya leluhur yang sama dalam latar belakang Semitik keduanya.[62][63][64][65] Meskipun demikian, fragmen dari undang-undang sebelumnya telah ditemukan dan kecil kemungkinannya bahwa hukum-hukum Musa terinspirasi secara langsung oleh Undang-Undang Hammurabi.[62][63][64][65][c] Beberapa sarjana membantah hal ini; David P. Wright berargumen bahwa Kitab Perjanjian Yahudi secara "langsung, utamanya, dan secara keseluruhan" didasarkan pada Undang-Undang Hammurabi.[66] Pada tahun 2010, sebuah tim arkeolog dari Universitas Ibrani menemukan lempeng beraksara paku yang berasal dari abad kedelapan belas atau ketujuh belas SM di Hazor, Israel yang memuat hukum-hukum yang secara jelas berasal dari Undang-Undang Hammurabi.[67]
Referensi
Catatan
- ↑ Dari bahasa Amori ʻAmmurāpi ("kerabat adalah penyembuh"), yang berasal dari kata ʻAmmu ("kerabat dari pihak ayah") dan Rāpi ("penyembuh"). Ahli peradaban klasik Alan Millard menegaskan bahwa Hammurapi adalah ejaan yang lebih tepat daripada Hammurabi.[3]
- ↑ Mendahuluinya adalah Undang-Undang Ur-Nammu, Undang-Undang Eshnunna, dan Undang-Undang Lipit-Ishtar.[31]
- ↑ Barton, seorang mantan profesor bahasa Semit di Universitas Pennsylvania, menyatakan bahwa meskipun terdapat persamaan di antara kedua teks tersebut, studi mengenai keseluruhan kedua hukum tersebut "meyakinkan para pelajar bahwa hukum Perjanjian Lama sama sekali tidak bergantung pada hukum Babilonia secara esensial." Ia menyatakan bahwa "kemiripan semacam itu" muncul dari "kesamaan latar belakang dan pandangan intelektual secara umum" di antara kedua kebudayaan, tetapi "perbedaan-perbedaan yang mencolok menunjukkan bahwa tidak ada peminjaman secara langsung."[63]
Kutipan
- ↑ Roux 1992, between 266–267.
- ↑ Douglas Frayne, The Royal Inscriptions of Mesopotamia: Early Periods, vol. 4: Old Babylonian Period (2003–1595 SM), Toronto, 1990: 332.
- ↑ Millard 2004.
- ↑ Khwshnaw 2023.
- ↑ Hone, Charles F. (1917).
The Sacred Books and Early Literature of the East. 1. Wikisource.
[scan] - ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 1.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 1–2.
- 1 2 Van De Mieroop 2005, hlm. 3.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 3–4.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 16.
- ↑ Adolf, Antony (8 Mei 2013). Peace: A World History. John Wiley & Sons. hlm. 3. ISBN 978-0-7456-5459-1.
An early study claims that 'peace and prosperity prevailed during his reign', though more recent research confines this preponderantly peaceful period to the first two decades Hammurabi ruled.
- ↑ Arnold 2005, hlm. 43.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 15–16.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 17.
- 1 2 Van De Mieroop 2005, hlm. 18.
- 1 2 Van De Mieroop 2005, hlm. 31.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 40–41.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 54–55, 64–65.
- 1 2 3 Arnold 2005, hlm. 45.
- ↑ Beck, Roger B.; Black, Linda; Krieger, Larry S.; Naylor, Phillip C.; Shabaka, Dahia Ibo (1999). World History: Patterns of Interaction. Evanston, IL: McDougal Littell. ISBN 978-0-395-87274-1. OCLC 39762695.
- ↑ Clay, Albert Tobias (1919). The Empire of the Amorites. Yale University Press. hlm. 97.
- ↑ Breasted 2003, hlm. 129.
- ↑ Breasted 2003, hlm. 129–130.
- ↑ Arnold 2005, hlm. 42.
- 1 2 3 4 5 6 Rients de Boer, "The Members of the Royal House of Old Babylonian Babylon," Isin, hlm. 27–43: 31, 37–38, 2021/2
- ↑ Van De Mieroop, King Hammurabi of Babylon, 2005: 112.
- ↑ Van De Mieroop, King Hammurabi of Babylon, 2005: 73
- ↑ Van De Mieroop, King Hammurabi of Babylon, 2005: 130; Troels P. Arbøll, The Cuneiform Texts from the Danish Excavations of Ḥamā in Syria (1931–1938), Copenhagen, 2023: 65.
- ↑ H. Otto Sommer (1908). Records of the Past, Volume II, Part III.. Wikisource.
- ↑ Driver & Miles (1952), hlm. 9.
- ↑ Roth 1995, hlm. 13, 23, 57.
- 1 2 Breasted 2003, hlm. 141.
- 1 2 3 4 Bertman 2003, hlm. 71.
- ↑ Victimology: Theories and Applications, Ann Wolbert Burgess, Albert R. Roberts, Cheryl Regehr, Jones & Bartlett Learning, 2009, hlm. 103
- ↑ Prince 1904, hlm. 606–607.
- ↑ Maher, John C. (2017). Multilingualism: A Very Short Introduction. Oxford University Press. hlm. 108. ISBN 978-0-19-872499-5.
... Akkadian (Babylonian) replaced Sumerian ... The Code of Hammurabi was written in the daily language of Babylon, Akkadian. Hammurabi (c.1810–1750 BC), the sixth king of the First Babylonian Empire, initiated language reforms to make Akkadian the pre-eminent lingua franca of antiquity; inscriptions have been found on stone, silver and clay artefacts.
- ↑ Kleiner, Fred S. (2010). Gardner's Art through the Ages: The Western Perspective. Vol. 1 (Edisi Thirteenth). Boston, Massachusetts: Wadsworth Cengage Learning. hlm. 29. ISBN 978-0-495-57360-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 June 2014. Diakses tanggal 1 November 2020.
- ↑ Smith, J. M. Powis (2005). The Origin and History of Hebrew Law. Clark, New Jersey: The Lawbook Exchange, Ltd. hlm. 13. ISBN 978-1-58477-489-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 April 2021. Diakses tanggal 1 November 2020.
- ↑ "Hammurabi". Architect of the Capitol. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 November 2021. Diakses tanggal 19 May 2008.
- ↑ "Courtroom Friezes" (PDF). Supreme Court of the United States. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 June 2010. Diakses tanggal 19 May 2008.
- ↑ Biskupic, Joan (11 March 1998). "Lawgivers: From Two Friezes, Great Figures of Legal History Gaze Upon the Supreme Court Bench". WP Company LLC. The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 August 2020. Diakses tanggal 28 November 2017.
- ↑ Cuneiform Tablets in the British Museum (PDF). British Museum. 1905. hlm. Plates 44 and 45. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 14 March 2020.
- ↑ Budge, E. A. Wallis (Ernest Alfred Wallis); King, L. W. (Leonard William) (1908). A guide to the Babylonian and Assyrian antiquities. London: Printed by the order of the Trustees. hlm. 147.
- ↑ Untuk transkripsi lengkap: "CDLI-Archival View". cdli.ucla.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 November 2021. Diakses tanggal 4 November 2021.
- 1 2 Van De Mieroop 2005, hlm. 128.
- 1 2 3 Van De Mieroop 2005, hlm. 127.
- 1 2 Van De Mieroop 2005, hlm. 126.
- 1 2 Van De Mieroop 2005, hlm. 126–127.
- 1 2 3 Van De Mieroop 2005, hlm. 129.
- 1 2 Van De Mieroop 2005, hlm. 129–130.
- ↑ Schneider, Tammi J. (2011), An Introduction to Ancient Mesopotamian Religion, Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, hlm. 58–59, ISBN 978-0-8028-2959-7, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2021, diakses tanggal 1 November 2020
- ↑ Roux 1992, hlm. 243–246.
- 1 2 DeBlois 1997, hlm. 19.
- ↑ Van De Mieroop 2005, hlm. 130.
- ↑ Frazer, Mary; Adalı, Selim Ferruh (2021-11-25). ""The just judgements that Ḫammu-rāpi, a former king, rendered": A New Royal Inscription in the Istanbul Archaeological Museums". Zeitschrift für Assyriologie und vorderasiatische Archäologie (dalam bahasa Inggris). 111 (2): 231–262. doi:10.1515/za-2021-2004. ISSN 0084-5299. S2CID 244530410. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 March 2023. Diakses tanggal 20 March 2023.
- 1 2 Ziolkowski 2012, hlm. 25.
- 1 2 Ziolkowski 2012, hlm. 23–25.
- ↑ Rogers, Robert W.; Kohler, Kaufmann; Jastrow, Marcus. "Amraphel". The Jewish Encyclopedia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 November 2021. Diakses tanggal 24 November 2012.
- ↑ "Bible Gateway passage: Genesis 14 - New International Version". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 November 2021. Diakses tanggal 24 November 2012.
- ↑ North, Robert (1993). "Abraham". Dalam Metzger, Bruce M.; Coogan, Michael D. (ed.). The Oxford Companion to the Bible. Oxford: Oxford University Press. hlm. 5. ISBN 978-0-19-504645-8.
- 1 2 Granerød, Gard (26 March 2010). Abraham and Melchizedek: Scribal Activity of Second Temple Times in Genesis 14 and Psalm 110. Berlin, Germany: Walter de Gruyter. hlm. 120. ISBN 978-3-11-022346-0.
- 1 2 Douglas, J. D.; Tenney, Merrill C. (2011). Zondervan Illustrated Bible Dictionary. Grand Rapids, Michigan: Zondervan. hlm. 1323. ISBN 978-0-310-22983-4.
- 1 2 3 Barton 1916, hlm. 406.
- 1 2 Unger, M.F.: Archaeology and the Old Testament. Grand Rapids: Zondervan Publishing Co., 1954, pp. 156–157
- 1 2 Free, J.P.: Archaeology and Biblical History. Wheaton: Scripture Press, 1950, 1969, p. 121
- ↑ Wright, David P. (2009). Inventing God's Law: How the Covenant Code of the Bible Used and Revised the Laws of Hammurabi. Oxford, England: Oxford University Press. hlm. 3 and passim. ISBN 978-0-19-530475-6.
- ↑ Horowitz, Wayne; Oshima, Takayoshi; Vukosavović, Filip (2012). "Hazor 18: Fragments of a Cuneiform Law Collection from Hazor". Israel Exploration Journal. 62 (2): 158–176. ISSN 0021-2059. JSTOR 43855622.
Sumber
- Arnold, Bill T. (2005). Who Were the Babylonians?. Brill Publishers. ISBN 978-90-04-13071-5. OCLC 225281611.
- Barton, George A. (1916). Archæology and the Bible. Philadelphia: American Sunday-School Union. OCLC 38608139. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 December 2022. Diakses tanggal 29 December 2022.
- Bertman, Stephen (2003). Handbook to Life in Ancient Mesopotamia. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-518364-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 April 2021. Diakses tanggal 1 November 2020.
- Breasted, James Henry (2003). Ancient Time or a History of the Early World, Part 1. Kessinger Publishing. ISBN 978-0-7661-4946-5. OCLC 69651827.
- DeBlois, Lukas (1997). An Introduction to the Ancient World. Routledge. ISBN 978-0-415-12773-8. OCLC 231710353.
- Driver, Godfrey R.; Miles, John C. (2007) [1st pub. 1952]. The Babylonian Laws: Edited with Translation and Commentary. Vol. 1: Legal Commentary. Oxford: Clarendon Press. ISBN 978-1-55635-229-4. OCLC 493362814.
- Khwshnaw, Ardalan (2023-02-10). "A New Old Babylonian Date List with Hammurapi Year Names". Journal of Studies in History and Archeology (84): 665–686. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 10 March 2023.
- Millard, Alan (2004) [1993]. "Hammurapi". Dalam Metzger, Bruce M.; Coogan, Michael D. (ed.). The Oxford Companion to the Bible. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-504645-8.
- Prince, J. Dyneley (1904). "The Code of Hammurabi". The American Journal of Theology. 8 (3): 601–609. doi:10.1086/478479. JSTOR 3153895.
- Roth, Martha T. (1995). Law Collections from Mesopotamia and Asia Minor. Atlanta: Society of Biblical Literature. ISBN 978-0-7885-0104-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 October 2022. Diakses tanggal 13 December 2022.
- Roux, Georges (1992) [1864]. Ancient Iraq. London: Penguin Group. ISBN 978-0-14-012523-8.
- Van De Mieroop, Marc (2005). King Hammurabi of Babylon: A Biography. Blackwell Publishing. ISBN 978-1-4051-2660-1. OCLC 255676990.
- Ziolkowski, Theodore (2012), Gilgamesh among Us: Modern Encounters with the Ancient Epic, Ithaca, New York and London, England: Cornell University Press, ISBN 978-0-8014-5035-8, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 October 2021, diakses tanggal 1 November 2020
Further reading
- Beaulieu, Paul-Alain (2017). A History of Babylon, 2200 BC - AD 75. Malden: Wiley-Blackwell.
- Boivin, Odette (2020). "The Kingdom of Babylon and the Kingdom of the Sealand". Dalam Karen Radner, Nadine Moeller and Daniel T. Potts (ed.). The Oxford History of the Ancient Near East, Volume 2: From the End of the Third Millennium BC to the Fall of Babylon. New York: Oxford University Press. hlm. 566–655.
- Charpin, Dominique (2003). Hammu-rabi de Babylone (dalam bahasa Prancis). Paris: Presses Universitaires de France.
- Charpin, Dominique (2004). "Histoire politique du Proche-Orient amorrite (2002-1595)". Mesopotamien: die altbabylonische Zeit (PDF) (dalam bahasa Prancis). Freiburg and Göttingen: Academic Press Fribourg and Vandenhoeck & Ruprecht. hlm. 25–480.
- Charpin, Dominique (2012). Hammurabi of Babylone. London: I.B. Tauris. (translation of Charpin (2003))
- Michalowski, Piotr; Streck, Michael P. (2017). "Hammurapi". Reallexikon der Assyriologie und Vorderasiatischen Archäologie. Vol. 15. hlm. 380–390.
- Radner, Karen (2020). A Short History of Babylon. Londres and New York: Bloomsbury Academic.
Pranala luar
- A Closer Look at the Code of Hammurabi Diarsipkan 22 July 2017 di Wayback Machine. at the Louvre museum
- Karya Hammurabi di Project Gutenberg
- Karya oleh/tentang Hammurabi di Internet Archive (pencarian dioptimalkan untuk situs non-Beta)
- Year Names of Hammurabi
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Sin-muballit |
Raja Babilonia ca 1792–ca 1750 SM (KT) |
Diteruskan oleh: Samsu-iluna |
| Portal Akses topik terkait | |
| Temukan informasi lain di proyek saudari Wikimedia |
|
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Akademik | |
| Orang | |
| Lain-lain | |