Zaman Purbakala
Peninggalan prasejaran yang tampak lebih muda terdapat di Kampung Parapan Pasir, Desa Nagara, Kecamatan Cikande. Penduduk menyebutnya patapan. Situs Patapan merupakan bangunan terbuka yang di bangun di atas sebuah bukit dan terdapat batu pelinggih serta lapik atau altar. Diperkirakan situs kepurbakalaan Patapan ini merupakan peninggalan megalitik karena dari bentuk bangunannya mengingatkan kepada bentuk punden yang lazim dijumpai sebagai tinggalan arsitektur bangunan pemuja tradisi megalitik. Situs Patapan ini termasuk situs yang dinilai sudah ada sebelum adanya bangunan candi karena susunan bantunya berupa punden berundak. Batu yang dipilih kemudian diletakan atau didirikan di suatu tempat untuk mengenang orang yang sudah meninggal. Namun, tidak jarang menhir itu pun berfungsi sebagai simbol ekonomi si mati. Kelompok menhir di manapun selalu beragam jenis atau tidak ada yang berdiri tunggal, selalu ada kompleks atau secara berdampingan dengan bangunan lain seperti dekat dolmen, peti kubur batu, atau batu altar.
Situs Patapan di Kabupaten Serang dan menhir dapat dijumpai Kecamatan Baros, dan berdiri dalam satu kompleks. Peninggalan menhir megalitik di Cikande tampaknya lebih muda dibandingkan dengan menhir yang ditemukan didaerah lainnya di Banten, penduduk sekitar menyebutnya Patapan. Di situs ini, yang dijumpai semacam batu pelinggih dan lapik atau altar. Dicurigai secara kepurbakalaan Situs Patapan sangat mungkin merupakan peninggalan Hindu yang datang, Patapan tetap dipakai sebagai tempat persembahan agama Hindu. Dengan kata lain, megalitik Patapan itu peninggalan berlanjut dari tradisi prasejarah yang diteruskan ke era Hindu-Budha. Menhir lain yang ditemukan di daerah Banten yaitu berada di Kampung Bedug, Desa Waringin, Kecamatan Mancak, Anyer, yang berukuran panjang 87 cm dengan garis tengah 25 cm, berdiri bersama-sama dengan menhir yang lebih kecil. Penduduk setempat menyebutnya Sirit Baduy.
Selain Situs Patapan, temuan lain yang tidak kalah pentingnya di desa ini adalah batu lumping berlubang tujuh, berada di atas bukit. Batu ini oleh penduduk disebut sebagai batu paniisan. Menurut warga sekitar batu tersebut berfungsi untuk mendinginkan logam setelah peleburan. Hal ini juga sebagai bukti bahwa Banten telah meninggalkan zaman Prasejarah ke Sejarah.
Secara tertulis tidak ada sumber yang menyebut tentang Situs Patapan, namun daerah lokasi situs berada yaitu Cikande (Kibin dulu masuk dalam wilayah Kec. Cikande) pernah disebut dalam catatan Portugis. Disebutkan oleh Tome Pires pada kunjungannya di daerah Banten tahun 1513 bahwa Cheguede (Cikande) merupakan sebuah kota dagang pada masa Hindu di bawah kekuasaan Pajajaran dan barang dagangannya memiliki karakteristik yang sama dengan Banten dan Pontang (Pondang?) .[2][3]
Zaman Kolonialisme Belanda
Pada tahun 1829 hingga 1830 telah terjadi semacam pemberontakan yaitu Perang Cikande. Perang ini merupakan perang yang dipicu oleh keinginan Nyimas Gamparan dan segenap masyarakat Banten melawan cultuurstelsel atau tanam paksa yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal van den Bosch.[4][5]
Nyimas Gamparan pun dengan gagah memimpin puluhan pendekar wanita untuk melawan Belanda. Dengan menggunakan taktik perang gerilya untuk menghadapi pasukan Belanda, serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Nyimas Gamparan dan puluhan prajurit wanitanya membuat kewalahan pasukan VOC dan banyak mengalami kerugian.
Berbagai cara pun dilakukan untuk menumpas pasukan Nyimas Gamparan termasuk menjalankan politik devide et impera. Pihak VOC pun melirik Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di wilayah Jasinga, Bogor untuk menumpas para milisi yang tergabung di bawah pimpinan Nyimas Gamparan. Tumenggung Kartanata dijanjikan akan dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung.
Iming-iming kekuasaan dari pihak kolonial tersebut disambut baik oleh Raden Tumenggung Kartanata Nagara. Pasukan Raden Tumenggung Kartanata Nagara kemudian memukul mundur seluruh laskar Nyimas Gamparan di kawasan Pamarayan. Nyimas Gamparan pun gugur. Jenazahnya disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang, Banten.[6][7]
Keberhasilan Ki Demang menumpas perlawanan Nyimas Gamparan pun mendapat anugerah dari Kompeni sebagai Bupati Rangkasbitung pertama (1830-1865) dengan gelar Raden Tumenggung Adipati Kartanata Nagara.
Sementara itu pada 1845, telah terjadi Perang Cikande II di bawah pimpinan Mas Sarean, dibantu oleh seorang wanita yang bernama Nyi Tinah beserta 34 orang pengikut yang semuanya wanita, Belanda kewalahan menghadapi serangan tersebut, namun mereka akhirnya semua dihukum gantung.[8]