Nyimas Gumparo alias Nyimas Gamparan merupakan salah satu pendekar wanita asal Banten yang memiliki pasukan wanita untuk melawan Belanda di masa penjajahan. Nyimas Gamparan dikenal memiliki karakter garang saat memimpin pasukannya melawan tentara Beladan dalam perang Cikande yang terjadi sekitar tahun 1829 hingga 1830. Perang tersebut terjadi, karena Nyimas Gamparan menolak kebijakan tanam paksa atau Cultuurstelsel (1830) yang diwajibkan Belanda terhadap penduduk pribumi.[1]
Nyimas Gamparan merupakan salah satu anggota keluarga Kesultanan Banten. Pada 1813, saat Kesultanan Banten dihapuskan oleh pemerintah kolonial Inggris, Sultan Muhammad Syafiudin yang memimpin Kesultanan Banten saat itu dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles. Dihapusnya Kesultanan Banten membuat banyak keluarga Sultan yang hijrah ke berbagai tempat. Mereka yang tak terima dengan dihapuskannya Kesultanan Banten, menyimpan dendam terhadap pemerintah kolonial. Begitu juga dengan Nyimas Gamparan yang ikut hijrah dan secara diam-diam kembali ke Banten dengan menyamar sebagai rakyat jelata.[1]
Perlawanan Nyimas Gamparan terhadap Kolonialisme
Nyimas Gamparan murka ketika melihat kesewenang-wenangan Belanda, secara diam-diam, Nyimas Gamparan memobilisasi massa untuk melawan penjajah Belanda. Pemerintah kolonial menyebut aksi Nyimas Gamparan sebagai Pemberontakan 1836. Perlawanan Nyimas Gamparan tersebut dikenal dengan Perjuangan Cikande Udik, yang berlokasi di Cikande Timur sebagai titik pusat pergerakannya. Nyimas Gamparan langsung memimpin pasukan pendekar wanita melawan kesewenangan Belanda dibeberapa wilayah seperti Jasinga, Cikande, dan Balaraja. Untuk menghadapi tentara Belanda, Nyaimas Gamparan dan puluhan prajurit wanita menggunakan taktik perang gerilya. Dia memiliki markas persembunyian di wilayah Balaraja.[1] Nama Balaraja, konon berasal dari tempat singgah pasukan Nyaimas Gamparan atau ada yang menyebutkan tempat berkumpulnya bala tentara raja (asal kata Balai dan Raja). Tempat yang diyakini sebagai tempat persembunyian Nyaimas Gamparan beserta pasukan yakni di Desa Kubang, Kecamatan Sukamulya (Pemekaran Kecamatan Balaraja).[2] Tempat hijrah ini diyakini oleh orang Balaraja merupakan daerah yang susah untuk dilacak oleh tentara Belanda. Daerah ini letaknya berada jauh di pedalaman. Di sinilah Nyimas Gamparan dan 30 pasukan wanitanya bersembunyi setelah melancarkan serangan kepada tentara Belanda. Serangan yang dilakukan Nyimas Gamparan dan pasukannya sangat merepotkan dan membuat Belanda kewalahan.[1]
Pasukan wanita ini mampu bertahan menghadapi serangan pasukan Belanda karena memiliki keunggulannya antara lain, pasukan wanita ini tangguh di medan perang (sakti-sakti mandraguna) dan menguasai medan perang gerilya di teritorialnya. Serangan demi serangan yang dilakukan oleh pasukan Nyimas Gamparan membuat Belanda sangat kerepotan. Berbagai cara pun dilakukan Belanda untuk menumpas pasukan srikandi pimpinan Nyimas Gamparan.[2]
Pada akhirnya Belanda melakukan politik adu domba untuk melawan Nyimas Gamparan. Belanda meminta bantuan Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di Jasinga, Bogor (1829) untuk menumpas pasukan Nyimas Gamparan. Tentu dengan imbalan Raden Temenggung dijanjikan akan dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung.[2] Karena hampir diadu setiap hari dan memakan waktu yang panjang, akibatnya membuat kekuatan pasukan Nyimas Gamparan melemah. Nyaimas Gamparan dikabar tewas dan jenazahnya disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten. Atas perannya dalam mengalahkan Nyimas Gamparan, Ki Demang mendapat anugerah dari Belanda sebagai Bupati Rangkasbitung pertama (1830-1865) dengan gelar Raden Tumenggung Adipati Kartanata Nagara menggantikan penguasa sebelumnya Pangeran Sanjaya.[1]