Sebuah prasasti, tertanggal 536 M dari zaman Kerajaan Tarumanagara, telah ditemukan di pertemuan Cianten dengan Cisadane.[3]
Pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik Kracak, didirikan di Cianten pada tahun 1926 dan masih beroperasi hingga hari ini, menghasilkan listrik 18,9 MW.[4] Pada tahun 1942, selama kampanye Hindia Belanda, Pertempuran Leuwiliang terjadi antara pasukan Australia dan Jepang di tepi sungai Cianten.[5]
Pemanfaatan
Selain tujuan pembangkit listrik tenaga air dan irigasi, Cianten adalah tujuan rafting yang populer. Rute arung jeram umumnya berakhir di pertemuan Cisadane.[6]
↑Dransfield, John (June 1975). "Gunung Halimun and its importance to Java". Indonesia Circle. School of Oriental & African Studies. Newsletter. 3 (7): 15–17. doi:10.1080/03062847508723608.