Christie Damayanti terlahir sebagai anak sulung dari 3 bersaudara, dari ayah bernama Ir. Suharto Prodjowijono (alm.) dan ibu bernama Wara Utami (almh.).[2] Sepertinya minatnya terhadap dunia arsitektur, tumbuh sedari kecii, ketika ayahnya yang seorang InsinyurTeknik Sipil, lulusan dari Universitas Gadjah Mada, memberikannya buku gambar, saat ini ia masih di Taman kanak-kanak. Dari ayahnyalah ia banyak belajar menggambar bentuk-bentuk seperti rumah dan bangunan.[3]
Ayahnya terlahir di Yogyakarta dan Ibunya dari Purwokerto, di mana ayahnya meninggal dunia pada 5 Maret 2013. Saat ini beberapa rumah keluarganya di Yogya menjadi home stay KINANTI, yang sangat tradisional dan cukup terkenal di kalangan wisatawanmancanegara. Rumah dari kakeknya terletak di daerah Surokarsan, yang berdekatan dengan rumah dari orang tua Presiden Indonesia kedua, Bapak Soeharto.[3]
Keluarga besar dari Ibu Christie, berasal dari Purwokerto, tepatnya di desa Bobosan yang nyaman. Ibu Christie adalah putri kedua dari dua belas bersaudara. Ketika berlibur ke sana, Christie juga sering berwisata ke Baturraden.[4]
Penari Bali dan Karateka
Christie pernah berprofesi sebagai penari Bali dan sering menarikan Tari Oleg Tambulilingan, sebuah tarian yang berasal dari Bali yang juga dikenal sebagai "tarian lebah". Tarian ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, dan ia perlu waktu hingga setahun bisa menarikannya sesuai dengan aturan yang ada. Christie, mulai belajar menari sejak ia duduk di kelas 4 SD dan terus belajar hingga di kelas 3 SMA. Proses belajar menari ini, ia lakukan secara khusus, di mana guru tarinya, suami istri, Bapak Made dan Ibu Ketut, mengajarkan tarian ini dengan datang ke rumahnya.[5]
Christie adalah seorang SarjanaArsitektur lulusan dari Universitas Tarumanagara tahun 1992.[6] Usai menyelesaikan studi S1-nya, Ia mulai magang dan bekerja di beberapa perusahaan sebagai konsultan arsitek. Dari mulai magang di PT Arkonin, lalu bergabung dengan Ciputra Development (1994-1998), PT Jasamitra Patriakarya (1998-2000), PT Pelita Propertindo (2003-2006), dan terakhir bergabung dengan PT Agung Podomoro Land sejak 2006 hingga kini.
Salah satu karya desain arsitekturnya yang terbilang sukses adalah Mal Central Park.[7] Christie yang sangat peduli dengan lingkungan hidup, mengutamakan keseimbangan dan keserasian antara arsitektur bangunan dengan lingkungan di sekitarnya. Hal ini yang membuat Central Park adalah mal yang paling berbeda dengan mal-mal lain di Jakarta. Central Park memberikan ruang terbuka hijau dan keindahan taman yang luas bagi para pengunjungnya. Menjadikan mal bukan hanya sekadar pusat perbelanjaan melainkan juga sarana relaksasi warga kota dari kesumpekan metropolitan.
Pada tahun 1993 Christie Damayanti sempat mengenyam pendidikan di Bisnis English, Perth, Australia. Lalu ia melanjutkan studi ke St. Mark International College di negeri kangguru tersebut. Tahun 1994 hingga 1997, Christie kemudian meneruskan studi S2-nya.
Karya Tulis
Christie, termasuk salah satu penulis yang cukup aktif, khususnya di Kompasiana,[8] di mana dalam sehari ia bisa menghasilkan 3 hingga 4 tulisan, dan sering kali, beberapa darinya menjadi tajuk utama. Beberapa tulisannya disana, akhirnya dibukukan.[1]
Buku
2020
Damayanti, Christie (2020). Jejak Nostalgia: Cerita Cita & Karya. Yogyakarta: Leutika Prio. ISBN978-602-371-865-8.
Damayanti, Christie (2020). Musim Panas di Atas Kursi Roda di Jepang 2019: Quality Time Mother-Daughter. Yogyakarta: Leutika Prio. ISBN978-602-371-867-2.
Damayanti, Christie (2020). Pesisir Timur Amerika:Washington DC, New York, Boston, Florida. Yogyakarta: Leutika Prio. ISBN978-602-371-868-9.
Damayanti, Christie (2020). Musim Panas di Kursi Roda Jepang 2019: Kobe & Nara With Love. Yogyakarta: Leutika Prio. ISBN978-602-371-869-6.