Tari Tenun adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Bali. Tarian ini merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh dua orang seniman dari Provinsi Bali yaitu, Nyoman Ridet dan Wayan Likes ditahun 1957.[1] Tari Tenun merupakan tarian tradisional Indonesia yang mengambil inspirasi dari proses menenun kain mulai dari memintal benang hingga menenun dalam gerakan yang lembut.[2]
Asal-Usul
Tarian ini dikembangkan oleh I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes pada tahun 1957 sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi tenun di Bali Timur. Di provinsi lain seperti Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Timur, tari Tenun juga muncul selaras dengan keterkaitan budaya menenun di daerah tersebut, seperti tari Tenun Songket di Palembang yang mengangkat nilai-nilai kerajinan lokal.[3]
Rekor MURI
Penari mementaskan tari Tenun saat upaya pencatatan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam rangkaian kegiatan Petitenget Festival 2018 di kawasan Pantai Petitenget, Badung, Bali. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 16 September 2018. Pagelaran Tari Tenun ini berhasil memecahkan rekor MURI pagelaran Tari Tenun dengan penari terbanyak.[4]
Musik dan Iringan
Tari ini ditarikan oleh tiga orang atau lebih dan dipentaskan berkelompok. Iringan musik pada Tari Tenun biasanya menggunakan gamelan Gong Kebyar di Bali atau orkesgamelan pengiring lainnya, seperti kendang, gendang, gender, ceng-ceng, riong, kempur, kempluk, dan suling.[5]
Tari dimulai dengan gerakan dasar seperti ngumbang, ngeseh, dan mungkang lawang, lalu diikuti dengan posisi tubuh ke kanan dan serangkaian gerakan tangan seperti sledet, nrudut, dan pong. Penari kemudian melakukan gerakan tangan kiri untuk menik benang, diikuti gerakan ngelung, ngumat ngutih, dan nyeleog ke belakang.[butuh rujukan]
Selanjutnya, gerakan nyalut dipadukan dengan gerakan kepala ngileg, dan posisi jari yang membentuk ngiting. Penari juga memutar kapas berulang, lalu mengulang ngumbang, ngangget, dan gerakan meletakkan properti ke bawah dan atas.[butuh rujukan]
Gerakan tubuh seperti seleog, suntil, dan ngejer mengiringi transisi posisi penari. Tangan dan kaki bergerak secara berulang dalam pola nyalut, ileg-ileg, dan nyeregseg. Gerakan ditutup dengan perpindahan posisi ke depan, sebagai bagian akhir dari rangkaian tari.[6]
↑Darmawan, Komang David; Liska, Luh De (April 2021). [file:///Users/mac/Downloads/1106-Article%20Text-3619-1-10-20210408.pdf "NILAI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM RAGAM GERAK SENI TARI TENUN BALI"] (PDF). Jurnal Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. 22 (1): 42–55. doi:10.5281/zenodo.4661163.