Kehidupan awal dan pendidikan
Chandra lahir di Jakarta pada tanggal 29 November 1969 sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara.[1] Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 3 Jakarta tahun 1988,[2] Chandra melanjutkan pendidikan dalam ilmu administrasi bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Ia meraih gelar tahun 1992 dengan predikat wisudawan terbaik. Beliau meraih dua gelar master: Magister Administrasi Bisnis dari UI pada tahun 1997 dan Magister Manajemen dan Administrasi Bisnis dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 2000. Gelar magister keduanya merupakan bagian dari kerjasama dengan Institut Bankir Indonesia.[3]
Chandra meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Analisis Model alternative Valuasi Dynamic Earning dan Model Alternatif Prediksi Dynamic BC Error Adjusted: Pengujian Empiris pada harga saham di BEJ Januari – Oktober 2003 pada tanggal 23 Agustus 2004. Wahjudi Prakarsa bertindak sebagai promotor utama, sedangkan Bambang Hermanto dan Timotius bertindak sebagai promotor pendamping. Sejumlah tokoh terkemuka, seperti Kepala Badan Kepegawaian Nasional Prijono Tjiptoherijanto dan Direktur Pelaksana Bank Dunia Hekinus Manaö, duduk sebagai penguji dalam sidang disertasinya.[1]
Karier
Karier akademis
Chandra mengawali karier akademisnya sebagai asisten dosen pada tahun 1990. Setelah menyelesaikan studi sarjananya, ia menjadi dosen tetap jurusan administrasi bisnis di UI. Pada tahun 1995, di tengah studinya, ia menjadi asisten ketua program magister administrasi bisnis. Setelah meraih gelar magister pertamanya, Chandra menjadi ketua jurusan keuangan dan perbankan di fakultas tersebut. Dekan FISIP UI Gumilar Rusliwa Somantri kemudian mengangkat Gumilar menjadi asoste bidang kerja sama dan pengembangan bisnis.[3]
Setelah meraih gelar doktor, Chandra diangkat sebagai wakil ketua program pascasarjana UI, berkedudukan di bawah ketua program Purnawan Junaidi.[4] Setelah masa jabatan Purnawan sebagai ketua berakhir pada tahun 2008, Chandra terpilih sebagai penggantinya.[5] Chandra juga memegang sejumlah posisi penting di bidang bisnis dan penelitian UI, yakni sebagai CEO Daya Makara, perusahaan induk UI dari tahun 2009 hingga 2014, dan kepala pusat penelitian lembaga pengembangan universitas dari tahun 2008 hingga 2014.[3] Pada tanggal 1 Desember 2009,[6] Chandra dilantik sebagai guru besar penuh ilmu administrasi.[7]
Pada Juli 2012, Chandra diberhentikan oleh Rektor Gumilar Rusliwa Somantri dari jabatannya sebagai ketua program bersama dekan lainnya. Gumilar menyatakan pemecatan itu karena masa jabatan mereka telah berakhir.[8] Para dekan menilai pemecatan mereka tidak adil dan melayangkan protes kepada Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh dalam bentuk mosi tidak percaya. Chandra merupakan satu-satunya pejabat kampus yang tidak ikut mengajukan mosi tidak percaya. Para dekan yang melayangkan mosi tidak percaya kemudian digantikan oleh wakilnya sebagai penjabat dekan, dan Chandra menjadi satu-satunya dekan yang tidak diberhentikan, meskipun statusnya diubah dari definitif menjadi pejabat.[9][10] Keputusan Gumilar dibatalkan setelah pertemuan antara Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan menteri pendidikan pada bulan Agustus tahun itu.[11]
Dekan Fakultas Ilmu Administrasi
Pada 28 Desember 2020, Chandra diumumkan sebagai dekan Fakultas Ilmu Administrasi setelah menyisihkan dua calon fakultas lainnya dalam proses seleksi.[19] Ia dilantik untuk posisi tersebut pada 11 Januari 2021.[20]
Sebagai dekan, Fakultas Ilmu Administrasi mengalami sejumlah perkembangan dalam bidang akademis maupun pembangunan infrastruktur. Program magister FIA memperoleh akreditasi unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi pada tahun 2022.[21] Ia juga menggagas kerja sama dengan berbagai lembaga swasta dan negara, termasuk dengan Universitas Brawijaya,[22] Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia,[23] dan pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu.[24] Chandra mengumumkan pada tahun 2022 bahwa FIA akan menerapkan potongan biaya kuliah S2 sebesar 50% bagi sarjana dari fakultas tersebut yang lulus dengan predikat cumlaude.[25]
Pembangunan gedung tersendiri bagi FIA juga terjadi pada masa kepemimpinannya. Sejak didirikan pada tahun 2016, fakultas tersebut berbagi gedung dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Setelah permohonan dari rektor dan menteri pendidikan kepada menteri pekerjaan umum, pada bulan Desember 2022 Chandra menandatangani kontrak antara FIA, kementerian pekerjaan umum, dan beberapa perusahaan konsultan.[26][27] Gedung tersebut diresmikan pada 10 Januari 2025 oleh Chandra dan sejumlah pejabat pemerintah, seperti Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Daerah Agus Harimurti Yudhoyono, menteri dan wakil menteri publik Dody Hanggodo dan Diana Kusumastuti, serta rektor Heri Hermansyah.[28]
Chandra melanjutkan karya akademisnya di sela-sela kesibukannya sebagai dekan. Ia merupakan salah satu promotor gelar doktor kehormatan mantan presiden Megawati Sukarnoputri dari Universitas Pertahanan Indonesia.[29] Ia juga menjadi penguji eksternal dalam sidang tesis Sekretaris Jenderal DPR Indra Iskandar.[30]
Kontroversi gelar doktor Bahlil
Pada 16 Oktober 2024, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyelesaikan ujian disertasinya untuk gelar doktor dalam studi strategis dan global di Universitas Indonesia. Kelulusannya memicu kemarahan di kalangan akademisi dan masyarakat umum karena ia menyelesaikan studinya hanya dalam waktu satu tahun delapan bulan, bukan tiga tahun seperti biasanya.[31] Gelar Bahlil kemudian ditangguhkan pada November 2024.[32]
Pada Januari 2024, dewan guru besar UI merekomendasikan sanksi bagi pembimbing akademik Bahlil, termasuk Chandra Wijaya. Chandra direkomendasikan untuk dicopot dari jabatan dekan, ditunda dari kenaikan jabatan akademik, dan dilarang mengajar selama tiga tahun.[33] Rekomendasi tersebut dilaksanakan pada bulan Maret 2024 menyusul pertemuan antar organ universitas dan jauh setelah masa jabatan Chandra sebagai dekan berakhir.[34] Rapat tersebut juga mengungkap adanya konflik kepentingan dari Chandra sebagai pembimbing disertasi Bahlil, yakni posisinya sebagai komisaris independen di Jasa Marga[35] sejak 8 Februari 2023.[3]