Jangkrik,[3]jengkerik atau cengkerik adalah seranggaorthoptera yang berkerabat dengan belalang kerik dan, lebih jauh lagi dengan belalang daun. Dalam literatur lama seperti milik Augustus Daniel Imms,[4] "jangkrik" ditempatkan pada tingkat famili (yaitu Gryllidae), tetapi otoritas kontemporer termasuk Dan Otte sekarang menempatkannya dalam superfamili Grylloidea.[1] Kata tersebut telah digunakan dalam kombinasi untuk menggambarkan takson yang berkerabat lebih jauh[4] dalam subordo Ensifera, seperti jangkrik raja dan anjing tanah.
Jangkrik umumnya memiliki tubuh berbentuk silinder, kepala bulat, dan antena panjang. Di belakang kepala terdapat pronotum yang halus dan kokoh. Perutnya berujung pada sepasang serkum panjang; betina memiliki ovipositor yang panjang dan berbentuk silinder. Ciri diagnostiknya meliputi kaki dengan tarsus 3 segmen; seperti pada banyak Orthoptera, kaki belakang memiliki femur yang membesar, memberikan kekuatan untuk melompat. Sayap depan beradaptasi sebagai elitra yang keras dan seperti kulit, dan beberapa jangkrik berkicau dengan menggosok bagian-bagiannya bersama-sama. Sayap belakang berupa membran dan terlipat saat tidak digunakan untuk terbang, namun banyak spesies yang tidak dapat terbang. Anggota terbesar dari famili ini adalah Brachytrupes yang panjangnya mencapai 5 cm (2 inci).
Jangkrik tersebar di seluruh dunia kecuali pada garis lintang 55° atau lebih tinggi, dengan keanekaragaman terbesar berada di daerah tropis. Jangkrik hidup di berbagai habitat mulai dari padang rumput, semak-semak, dan hutan hingga rawa-rawa, pantai, dan gua. Jangkrik sebagian besar aktif di malam hari, dan paling dikenal karena nyanyiannya yang keras dan terus-menerus, yaitu kicauan jangkrik jantan yang berusaha menarik betina, meskipun beberapa spesies tidak bersuara. Spesies yang bernyanyi memiliki pendengaran yang baik, melalui gendang telinga (timpana) pada tibia kaki depan.
Jangkrik sering muncul sebagai karakter dalam sastra. Jangkrik yang Berbicara (Talking Cricket) muncul dalam buku anak-anak karya Carlo Collodi tahun 1883, Petualangan Pinokio (The Adventures of Pinocchio), dan dalam film-film yang diadaptasi dari buku tersebut. Serangga ini menjadi tokoh sentral dalam The Cricket on the Hearth karya Charles Dickens tahun 1845 dan The Cricket in Times Square karya George Selden tahun 1960. Jangkrik juga terdapat dalam puisi-puisi karya William Wordsworth, John Keats, Du Fu, dan Vladimir Nazor. Jangkrik dipelihara sebagai hewan peliharaan di berbagai negara mulai dari Cina hingga Eropa, terkadang untuk dijadikan hewan aduan. Jangkrik efisien dalam mengubah makanannya menjadi massa tubuh, sehingga menjadikannya kandidat untuk produksi pangan. Jangkrik digunakan sebagai makanan manusia di Asia Tenggara, di mana mereka dijual dengan digoreng rendam di pasar sebagai camilan. Mereka juga digunakan untuk memberi makan hewan peliharaan karnivora dan hewan di kebun binatang. Dalam cerita rakyat Brasil, jangkrik berperan sebagai pertanda berbagai peristiwa.
Filogeni dan Taksonomi
fosil jangkrik zaman Kapur dari Brasil
Hubungan filogenetik Gryllidae, yang diringkas oleh Darryl Gwynne pada tahun 1995 dari karyanya sendiri (terutama menggunakan karakteristik anatomi) dan karya penulis sebelumnya,[a] ditunjukkan dalam kladogram berikut, dengan Orthoptera dibagi menjadi dua kelompok utama, Ensifera (jangkrik sensu lato) dan Caelifera (belalang). Fosil Ensifera ditemukan dari periode Karbon akhir (300 juta tahun yang lalu) dan seterusnya,[5][6] dan jangkrik sejati (Gryllidae) dari periode Trias (250 hingga 200 juta tahun yang lalu).[1]
Studi filogenetik oleh Jost & Shaw pada tahun 2006 menggunakan sekuens dari 18S, 28S, dan 16S ncRNA mendukung monofili Ensifera. Sebagian besar famili ensifera juga ditemukan monofiletik, dan superfamili Gryllacridoidea ditemukan mencakup Stenopelmatidae, Anostostomatidae, Gryllacrididae, dan Lezina. Schizodactylidae dan Grylloidea terbukti merupakan takson saudara, serta Rhaphidophoridae dan Tettigoniidae ditemukan lebih dekat hubungannya dengan Grylloidea daripada yang diperkirakan sebelumnya. Para penulis menyatakan bahwa "terdapat konflik tingkat tinggi antara data molekuler dan morfologis, yang mungkin menunjukkan bahwa banyak homoplasia hadir di Ensifera, khususnya pada struktur akustik." Mereka menganggap bahwa stridulasi tegmen dan timpana tibialis merupakan leluhur Ensifera dan telah hilang pada beberapa waktu, terutama di dalam Gryllidae.[7]
Secara ketat, takson dalam infraordo Tettigoniidea dan superfamili lainnya dikecualikan.
Tettigoniidae – jangkrik semak atau belalang kerik – yang cukup berbeda dan tidak terkait, dengan tarsus 4 segmen (setidaknya di kaki tengah dan belakang)[4] dan betina dengan ovipositor pipih. Perhatikan juga:
dalam famili ini terdapat genus Anabrus ("jangkrik Mormon")
"jangkrik semak" (penggunaan Amerika) termasuk anggota subfamili Trigonidiinae – yang merupakan "jangkrik sejati".
Superfamili Stenopelmatoidea – termasuk: jangkrik raja (wētā), jangkrik penggulung daun, jangkrik Yerusalem atau jangkrik pasir.
Superfamili Rhaphidophoroidea – jangkrik gua atau jangkrik unta
Superfamili Schizodactyloidea – jangkrik pasir atau jangkrik berkaki lebar.
Jangkrik adalah serangga bertubuh kecil hingga sedang, yang kebanyakan berbentuk silindris (beberapa spesiesnya ada pula yang berbadan agak gepeng tegak). Kepalanya hampir bulat, dengan sepasang sungut panjang menjuntai yang muncul persis di depan mata majemuk. Di dahinya terdapat tiga buah ocelli (tunggal: ocellus), yakni mata sederhana atau mata tunggal. Di belakang kepala terletak pronotum, yakni ruas dada yang pertama, yang kuat dan mulus tanpa gigir punggung ataupun tepi.[8]
Di belakangnya lagi terletak abdomen (perut) yang banyak beruas-ruas. Di ujungnya terdapat sepasang cerci, yakni semacam alat peraba yang serupa duri tetapi lunak, dan—pada betina-- ovipositor yang panjang seperti jarum, halus, serta berkilau. Femora ('paha'; yakni ruas ketiga) pada pasangan kaki belakang, berukuran besar dan berguna untuk melompat. Sedangkan tibia ('betis', ruas keempat) kaki belakang dilengkapi dengan deretan duri yang dapat digerakkan; yang susunannya berbeda-beda menurut spesiesnya. Tibia pada kaki depan umumnya dilengkapi dengan satu atau dua timpani (tunggal: timpanum, 'gendang telinga') yang berfungsi untuk menangkap getaran suara.[8]
Sayap jangkrik seperti menempel ketat membungkus sisi atas abdomen. Sayap ini berbeda-beda ukuran dan warnanya menurut jenis jangkrik: ada yang panjang, ada yang pendek, dan bahkan ada jenis yang tanpa sayap. Sayap sebelah depan adalah elytra yang terbuat dari kitin yang kaku, berfungsi sebagai pelindung abdomen yang relatif lunak, dan pada hewan jantan juga sebagai tempat organ pengerik untuk menghasilkan suara. Sayap belakang serupa membran tipis yang berfungsi untuk terbang, dan dilipat manakala cengkerik hinggap.[1]
Jangkrik memiliki agihan kosmopolitan, ditemukan di semua bagian dunia kecuali di wilayah dingin di atas lintang 55° ke utara maupun selatan. Serangga ini mengkolonisasi pulau-pulau besar dan kecil, melalui udara (terbang) atau air (terbawa kayu atau bagian tumbuhan lain yang terapung-apung di laut), atau diangkut oleh aktivitas manusia. Keragaman jangkrik yang tertinggi berada di wilayah tropis. Di dekat Kuala Lumpur, misalnya, pernah tercatat sebanyak 88 spesies yang terdengar suara deriknya dari satu lokasi saja; belum lagi termasuk jenis-jenis yang tidak mengeluarkan suara.[1] Di Indonesia terdapat lebih dari 100 jenis jangkrik, dan spesies yang paling banyak dibudidayakan adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus dari genusGryllus.[9]
Jangkrik hidup di banyak macam habitat. Kebanyakan, jangkrik tinggal di antara rerumputan dan terna; tetapi jenis-jenis yang lain hidup di semak-semak, dan sebagian lagi di atap tajuk pepohonan. Jangkrik juga hidup di tanah dan gua; ada yang menggali lubang-lubang yang dangkal ataupun dalam di tanah, ada pula yang hanya bersembunyi di balik tumpukan batu atau kayu lapuk.[1]
Dalam budaya
Sejumlah bumbung bambu wadah jangkrik aduan, tersimpan dalam kotak kayu berkaki yang dibuat khusus. Koleksi Tropenmuseum, Amsterdam
Jangkrik tergolong ke dalam serangga layak santap (edible insects) dan telah dikenal di banyak negara.[10]:72 Di perdesaan Jawa, jangkrik bakar atau sangrai sudah sejak lama dijadikan kudapan tradisional. Jangkrik juga dikenal sebagai makanan sumber protein di negara-negara lain, terutama di Asia: Thailand, Kamboja, Tiongkok, Korea, dan Jepang; dan belakangan juga di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.[11]:34 Dalam agama Islam, menurut fatwa MUI no. Kep-139/MUI/IV/2000, mengkonsumsi dan memelihara jangkrik tergolong mubah dan halal.[12]
Semenjak dahulu jangkrik acap dijadikan permainan atau hiburan. Anak-anak desa di Indonesia biasa memelihara jangkrik, terutama dari jenis jangkrik kalung (Gryllus bimaculatus) dan jenis-jenis jangkrik celiring (Teleogryllus spp.), untuk dinikmati suaranya ataupun untuk diadu. Laga jangkrik yang melibatkan orang-orang dewasa diketahui telah ada di Tiongkok semenjak era Dinasti Song (960-1278 M).[13] Kebiasaan ini pun belakangan dibawa masuk ke Jawa oleh orang-orang Tionghoa, hingga kemudian merasuki segenap warga Keraton Jogyakarta di masa Sultan Hamengku Buwana VII (1877-1921).[14]:325
Kata "jangkrik" pernah dipakai untuk menunjukkan suatu kualitas yang rendah; misalnya dalam istilah "komputer jangkrik" yang berarti komputer rakitan, bukan komputer bermerek terkenal (branded).[15][16] Kata ini juga dijadikan kata umpatan di Jawa Timur, yang konon merupakan plesetan atau penghalusan dari kata jancok.[17] Kata umpatan ini lalu dipungut sebagai judul sebuah film, "Jangkrik Boss!" yang diproduksi oleh Falcon Pictures.[18]
↑Gwynne cites Ander 1939, Zeuner 1939, Judd 1947, Key 1970, Ragge 1977 dan Rentz 1991 sebagai pendukung skema dua bagian (Ensifera, Caelifera) dalam makalahnya tahun 1995.[5]
123Imms AD, rev. Richards OW & Davies RG (1970) A General Textbook of Entomology 9th Ed. Methuen 886 pp.
123Gwynne, Darryl T. (1995). "Phylogeny of the Ensifera (Orthoptera): a hypothesis supporting multiple origins of acoustical signalling, complex spermatophores and maternal care in crickets, katydids, and weta". Journal of Orthoptera Research. 4 (4): 203–218. doi:10.2307/3503478. JSTOR3503478.
↑Jost, M.C; Shaw, K.L. (2006). "Phylogeny of Ensifera (Hexapoda: Orthoptera) using three ribosomal loci, with implications for the evolution of acoustic communication". Molecular Phylogenetics and Evolution. 38 (2): 510–530. doi:10.1016/j.ympev.2005.10.004. PMID16298145.