Castanea seguinii atau dikenal juga sebagai kastanye seguin atau salah satu jenis kastanye tiongkok (nama yang juga digunakan untuk Castanea henryi dan Castanea mollissima), merupakan spesies kastanye yang berasal dari wilayah selatan-tengah hingga tenggara Republik Rakyat Tiongkok. Dalam bahasa Mandarin, ia disebut mao li (茅栗).[2][3]
Deskripsi
Castanea seguinii merupakan semak atau pohon kecil yang biasanya tidak lebih tinggi dari 12 meter. Daunnya memiliki stipula sempit berbentuk lanset sepanjang 0,7–1,5 cm yang akan rontok saat tanaman mulai berbuah. Tangkai daunnya berukuran 0,5–1,5 cm, sementara helaian daun panjangnya berkisar 6–14 cm. Bagian bawah daun ditutupi kelenjar bersisik berwarna kuning kecoklatan hingga abu-abu, dengan sedikit rambut di sepanjang tulang daun pada fase muda. Bentuk daunnya lonjong hingga elips memanjang, berujung runcing, dengan pangkal yang umumnya membulat atau kadang agak berlekuk, meski pada daun muda dapat tampak menyempit. Tepi daun bergerigi kasar. Perbungaan jantan berupa catkin sepanjang 5–12 cm, sedangkan bunga betina tersusun dalam kupula yang biasanya memuat satu hingga dua bunga. Kupulanya berdiameter 3–5 cm dan diselubungi sisik berduri berbulu jarang setinggi 6–10 mm. Setiap kupula menghasilkan dua hingga tiga biji, masing-masing berukuran sekitar 1,5–2 cm.[3]
Ekologi dan kegunaan
Castanea seguinii tumbuh di hutan campuran mesofitik serta semak belukar pada ketinggian sekitar 400 hingga 2.000 meter. Kulit kayunya menjadi salah satu sumber pakan musim dingin bagi monyethidung-pesek emas (Rhinopithecus roxellana). Di lingkungan alaminya, tanaman ini berbunga antara Mei dan Juli, lalu menghasilkan buah dari September hingga November. Meskipun ukurannya kecil, kacangnya dapat dimakan dan kadang dibudidayakan atau dikumpulkan langsung dari alam untuk konsumsi masyarakat setempat. Selain dimanfaatkan kayunya untuk bahan bakar, spesies ini di Cina juga digunakan sebagai tanaman perangkap bagi tawon empedu Dryocosmus kuriphilus. Dengan menanam pagar C. seguinii di sekitar kebun C. mollissima, hama tersebut cenderung menyerang tunas C. seguinii terlebih dahulu, sehingga cabang yang terserang dapat segera dipotong dan dimusnahkan sebelum merusak tanaman utama.[4][5][6]
↑Mellano, M. G.; Beccaro, G. L.; Donno, D.; Marinoni, D. Torello; Boccacci, P.; Canterino, S.; Cerutti, A. K.; Bounous, G. (2012). "Castanea spp. Biodiversity conservation: Collection and characterization of the genetic diversity of an endangered species". Genetic Resources and Crop Evolution. 59 (8): 1727–1741. doi:10.1007/s10722-012-9794-x. hdl:2318/98770. S2CID14883319.