Proses pembuatan alat musik ini dimulai dengan memotong bambu dengan ukuran empat kali keliling batangnya. Pada bagian ujung bambu dibuat lubang berdiameter sekitar satu sentimeter, sedangkan lubang pangkal ditutup dengan kayu. Lalu, di bagian dekat penutup dibuat lubang tiup.[3] Sekitar 2,5 sentimeter dari pangkal dibuat lubang besar berbentuk segitiga, dengan jarak ke lubang nada pertama sepanjang satu kali keliling bambu. Selanjutnya, jarak antar lubang nada hingga lubang kelima adalah sepertiga keliling bambu, dan dari lubang kelima ke ujung bambu berjarak setengah keliling. Lubang nada pertama dan ketiga berdiameter 0,7 sentimeter, sementara lubang kedua, keempat, dan kelima berdiameter 0,5 sentimeter.[4]
Penggunaan
Balobat sering digunakan sebagai pengiring seperti pesta panen atau Kerja Tahun, pernikahan, mistis, bahkan dukacita pada adat Suku Karo. Balobat juga kerap dipakai sebagai pengiring musik vokal yang dikenal dengan sebutan katoneng-katoneng, yaitu sebuah nyanyian bernuansa lamentoa. Balobat memiliki suara yang sangat sendu dan pilu atau "tangis-tangis" karena Balobat paling sering digunakan pada saat dukacita.[5]
Alat musik ini juga digunakan sebagai hiburan di waktu luang, misalnya saat sedang berisitrahat di sawah.[4]