Bagyidaw (Bahasa Burma: ဘကြီးတော်, Baca: [ba̰dʑídɔ̀]; juga dikenal sebagai Sagaing Min, [zəɡáiɴ mɪ́ɴ]; 23 Juli 1784 – 15 Oktober 1846) adalah Raja ketujuh dari DinastiKonbaungBurma dari 1819 sampai dengan tahun 1837. Pangeran Sagaing merupakan panggilan Sehari-hari dia, juga dikenal sebagai pengganti tunggal Kakeknya, Raja Bodawpaya pada 1808, dan menjadi raja pada 1819 setelah kematian Bodawpaya. Bagyidaw memindahkan ibu kota Amarapura kembali ke Ava pada tahun 1823.[1][2]
Masa pemerintahan Raja Bagyidaw ditandai dengan meletusnya Perang Inggris-Burma yang pertama (1824—1826) yang merupakan penanda awal merosotnya kekuasaan Dinasti Konbaung. Ia berkuasa dengan wilayah yang luas, terluas kedua setelah masa pemerintahan Raja Bayinnaung dahulu, tetapi juga menciptakan wilayah perbatasan yang tidak jelas dengan India Britania. Pada tahun-tahun menjelang perang, Sang Raja terpaksa meminta bantuan Inggris untuk meredam pemberontakan di wilayah barat yang dahulu dikuasai kakeknya (Arakan, Manipur, dan Assam), tetapi tidak mampu membendung serangan lintas batas dari wilayah dan protektorat Inggris. Keputusannya yang kurang bijaksana dengan mengizinkan prajurit Burma mengejar para pemberontak di sepanjang perbatasan yang tidak jelas menyulut terjadinya perang. Perang terlama dan termahal sepanjang sejarah India Britania berakhir dengan kemenangan telak pihak Inggris, yang menyebabkan Burma harus menyepakati persyaratan Inggris tanpa diskusi. Raja Bagyidaw terpaksa menyerahkan seluruh wilayah barat yang dulu berhasil diraih kakeknya juga Tenasserim kepada Inggris, serta membayar ganti rugi sebesar sejuta pound sterling. Kejadian ini membuat Burma lumpuh selama bertahun-tahun.
Meskipun merasa sangat terpukul, Sang Raja masih berharap selama beberapa tahun bahwa Tenasserim akan dikembalikan kepadanya, dan membayar sisa ganti rugi pada tahun 1832 dengan pengorbanan besar. Inggris menggambar ulang peta perbatasan dengan Manipur pada tahun 1830, tetapi pada tahun 1833, sudah jelas bahwa Inggris tidak akan mengembalikan wilayah-wilayah sepenuhnya. Merasa gagal menjadi penguasa, Raja Bagyidaw pun memilih menjadi seorang pertapa. Kekuasaan dialihkan kepada salah satu istrinya, Ratu Nanmadaw Me Nu bersama saudara laki-lakinya. Bulan Februari tahun 1837, Pangeran Mahkota Tharrawaddy, salah satu saudara laki-laki raja, melancarkan pemberontakan yang memaksa Bagyidaw menanggalkan kekuasaannya sebagai raja di bulan April. Setelah berhasil meraih kekuasaan sebagai raja baru, Raja Tharrawaddy menghukum mati Ratu Nanmadaw Me Nu dan saudara laki-laki ratu tetapi pada akhirnya saudara laki-laki ratu dijadikan tahanan rumah. Raja Bagyidaw wafat pada bulan Oktober 1846 di usia 62 tahun.
Referensi
↑[Buyers, Christopher. "The Konbaung Dynasty Genealogy". royalark.net. Retrieved 2009-09-19.]
↑Hassan Sadhily. Ensiklopedi Indonesia Volume 1. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve.