Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Maret 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris.
Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Cara mengatasi Atrofi Vagina adalah berobat ke dokter. Pengobatan atrofi vagina umumnya melibatkan kolaborasi antar multidisiplin kedokteran, seperti dokterspesialisobstetri dan ginekologi, serta spesialis penyakit dalam. Pengobatan atrofi vagina bergantung pada gejala, penyebab, preferensi, harapan, dan kondisi penderita secara keseluruhan. Pengobatannya bertujuan untuk meredakan gejala, mengembalikan lingkungan vagina pada kondisi sebelum menopause yang sehat, dan memperbaiki kualitas hidup penderita.[4] Berikut cara mengobati atrofi vagina yang dipertimbangkan oleh dokter
Mengingat penyebabnya adalah kadar estrogen yang menurun, maka terapi sulih hormon atau terapi penggantian hormon juga dianjurkan pada penderita atrofi vagina. Terapi hormon estrogen ini umumnya direkomendasikan pada penderita yang menopause. Terapi hormonestrogen dapat bersifat sistemik yang berefek ke seluruh tubuh atau bersifat lokal. Terapi ini diresepkan dalam bentuk pil, krim, cincin vagina, gel, plester, dan cairan semprot. Dokter akan menjelaskan dosis dan cara pemakaian terapi sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Dilator merupakan alat khusus yang dimasukkan ke dalam vagina dengan ukuran yang beragam. Penggunaan dilator vaginal berfungsi melebarkan vagina sehingga nyeri ketika berhubungan intim menjadi berkurang.[5]
Faktor Risiko
Penyebab mendasar dari atrofi vagina adalah penurunan kadar estrogen, yang menjadi alasan mengapa kondisi ini paling sering menyerang wanita pascamenopause dan mereka yang berada dalam masa perimenopause. Penurunan kadar estrogen yang signifikan juga dapat terjadi akibat operasi pengangkatan ovarium, perawatan kanker, atau menyusui. Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko atrofi vagina, termasuk merokok, kurangnya aktivitas seksual, dan tidak adanya riwayat persalinan vagina pada pasien.[6]