ENSIKLOPEDIA
Keputihan
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional. |
Keputihan adalah campuran cairan, sel, dan bakteri yang melumasi dan melindungi vagina.[1][2] Campuran ini terus-menerus diproduksi oleh sel-sel vagina dan serviks, serta keluar dari tubuh melalui lubang vagina. Komposisi, kualitas, dan jumlah keputihan bervariasi antarindividu, dan dapat berubah di sepanjang siklus menstruasi serta di seluruh tahap perkembangan seksual dan reproduksi.[3] Keputihan yang normal dapat memiliki konsistensi encer dan berair atau kental dan lengket, serta dapat berwarna bening atau putih.[1][2] Keputihan yang normal bisa saja berjumlah banyak, tetapi biasanya tidak berbau menyengat, dan umumnya tidak disertai dengan rasa gatal atau nyeri.[3]
Meskipun sebagian besar keputihan dianggap fisiologis (mewakili fungsi tubuh yang normal), beberapa perubahan pada keputihan ini dapat mengindikasikan infeksi atau proses patologis lainnya.[4][5] Infeksi yang dapat menyebabkan perubahan pada keputihan antara lain infeksi jamur vagina, vaginosis bakterialis, dan infeksi menular seksual.[6][2] Karakteristik keputihan yang tidak normal bervariasi bergantung pada penyebabnya, tetapi ciri-ciri umumnya meliputi perubahan warna, bau busuk, dan gejala penyerta seperti gatal, rasa terbakar, nyeri panggul, atau nyeri saat melakukan hubungan seksual.[7]
Keputihan normal


Keputihan yang normal terdiri dari lendir serviks, cairan vagina, sel-sel vagina dan serviks yang luruh, serta bakteri.[1]
Sebagian besar cairan dalam keputihan adalah lendir yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar pada serviks.[1][4] Sisanya terdiri dari transudat dari dinding vagina dan sekresi dari kelenjar-kelenjar (kelenjar Skene dan Bartholin).[4] Komponen atau unsur padatnya adalah sel-sel epitel yang terkelupas dari dinding vagina dan serviks, serta beberapa bakteri yang menghuni vagina.[1] Bakteri yang hidup di vagina ini umumnya tidak menyebabkan penyakit. Faktanya, bakteri tersebut dapat melindungi tubuh dari bakteri infeksius dan invasif lainnya dengan memproduksi zat-zat seperti asam laktat dan hidrogen peroksida yang menghambat pertumbuhan bakteri lain.[6] Komposisi bakteri yang normal di dalam vagina (flora vagina) dapat bervariasi, tetapi paling sering didominasi oleh lactobacilli.[1] Rata-rata, terdapat sekitar 108 hingga 109 bakteri per mililiter keputihan.[1][4]
Keputihan yang normal berwarna bening, putih, atau putih pucat.[1] Konsistensinya dapat berkisar dari seperti susu hingga menggumpal, dan umumnya berbau ringan atau tidak berbau sama sekali.[1] Sebagian besar keputihan terkumpul di bagian terdalam vagina (forniks posterior)[3] dan keluar dari tubuh sepanjang hari dengan bantuan gaya gravitasi.[1][4] Wanita pada usia reproduksi pada umumnya memproduksi 1,5 gram (setengah hingga satu sendok teh) keputihan setiap hari.[1]
Selama gairah seksual dan hubungan seksual, jumlah cairan di vagina meningkat akibat pembengkakan pembuluh darah yang mengelilingi vagina. Pembengkakan pembuluh darah ini meningkatkan volume transudat dari dinding vagina.[4] Transudat memiliki pH netral, sehingga peningkatan produksinya dapat sementara waktu mengubah pH vagina menjadi lebih netral.[4] Air mani memiliki pH basa dan dapat menetralkan keasaman vagina hingga delapan jam.[4]
Komposisi dan jumlah keputihan berubah seiring dengan berlalunya berbagai tahap perkembangan seksual dan reproduksi pada seseorang.[4]
Akan tetapi, beberapa orang mungkin mengalami perubahan keputihan akibat kondisi yang mendasarinya, seperti stres, diabetes, gangguan inflamasi, laktasi, obat-obatan tertentu, atau penyakit autoimun.[8]
Neonatal
Pada neonatus (bayi baru lahir), keputihan terkadang muncul pada beberapa hari pertama setelah kelahiran. Hal ini disebabkan oleh paparan estrogen selama di dalam rahim. Keputihan pada neonatus dapat berwarna putih atau bening dengan tekstur berlendir, atau bisa juga bercampur darah yang berasal dari peluruhan endometrium sementara yang tergolong normal.[9]
Pediatrik
Vagina anak perempuan sebelum masa pubertas lebih tipis dan memiliki flora bakteri yang berbeda.[1][4] Keputihan pada anak perempuan prapubertas jumlahnya sedikit dengan pH netral hingga basa yang berkisar antara 6 hingga 8.[10] Komposisi populasi bakteri pada anak perempuan prapubertas didominasi oleh spesies staphylococcus, di samping berbagai bakteri anaerob, enterococci, E. coli, dan lactobacillus.[10]
Pubertas
Selama masa pubertas, hormon estrogen mulai diproduksi oleh ovarium.[3] Bahkan sebelum dimulainya menstruasi (hingga 12 bulan sebelum menarke, umumnya bersamaan dengan pertumbuhan tunas payudara[4]), jumlah keputihan meningkat dan komposisinya berubah.[10] Estrogen mematangkan jaringan vagina dan menyebabkan peningkatan produksi glikogen oleh sel-sel epitel vagina.[1] Tingkat glikogen yang lebih tinggi di dalam saluran vagina ini mendukung pertumbuhan lactobacilli dibandingkan spesies bakteri lainnya.[1][3] Ketika lactobacilli menggunakan glikogen sebagai sumber makanan, bakteri ini mengubahnya menjadi asam laktat.[1][3][4] Oleh karena itu, dominasi lactobacilli di dalam saluran vagina menciptakan lingkungan yang lebih asam. Faktanya, pH vagina dan keputihan setelah pubertas berkisar antara 3,5 hingga 4,7.[1]
Siklus menstruasi
Jumlah dan konsistensi keputihan berubah seiring dengan siklus menstruasi.[11] Pada hari-hari tepat setelah menstruasi, keputihan terjadi dalam jumlah minimal, dan konsistensinya kental serta lengket.[12] Saat mendekati masa ovulasi, peningkatan kadar estrogen menyebabkan peningkatan jumlah keputihan yang menyertainya.[12] Jumlah keputihan yang diproduksi saat ovulasi adalah 30 kali lebih banyak daripada jumlah yang diproduksi tepat setelah menstruasi.[12] Keputihan juga mengalami perubahan warna dan konsistensi selama masa ini, menjadi bening dengan konsistensi yang elastis, yang sering disamakan dengan warna dan tekstur putih telur.[12] Setelah ovulasi, kadar progesteron tubuh meningkat, yang menyebabkan penurunan jumlah keputihan.[12] Konsistensi keputihan kembali menjadi kental dan lengket, serta berwarna keruh.[12] Keputihan terus berkurang dari akhir masa ovulasi hingga akhir menstruasi, lalu setelah menstruasi, jumlahnya mulai meningkat kembali.[12]
Kehamilan
Selama kehamilan, volume keputihan meningkat sebagai akibat dari peningkatan kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh.[13][2] Keputihan biasanya berwarna putih atau sedikit abu-abu, dan mungkin berbau apak.[13][2] Keputihan yang normal pada masa kehamilan tidak mengandung darah atau menyebabkan rasa gatal.[13] pH keputihan pada masa kehamilan cenderung lebih asam dari biasanya karena peningkatan produksi asam laktat.[13] Lingkungan asam ini membantu memberikan perlindungan dari berbagai infeksi, meskipun sebaliknya hal ini juga membuat wanita lebih rentan terhadap infeksi jamur vagina.[13][2]
Pascapersalinan
Cairan pascapersalinan, yang disebut lokia, dapat berwarna merah dan keluar dalam jumlah banyak selama beberapa hari pertama karena terdiri dari darah dan membran mukosa superfisial yang melapisi rahim selama kehamilan. Cairan ini biasanya mulai berkurang dan perlahan menjadi lebih encer, serta berubah warna dari cokelat kemerahan menjadi putih kekuningan.[14]
Menopause
Dengan turunnya kadar estrogen yang menyertai menopause, vagina kembali ke keadaan yang mirip dengan masa prapubertas.[9] Secara spesifik, jaringan vagina menipis dan menjadi kurang elastis; aliran darah ke vagina berkurang; serta sel-sel epitel permukaan mengandung lebih sedikit glikogen.[9] Dengan menurunnya kadar glikogen, flora vagina bergeser sehingga mengandung lebih sedikit lactobacilli, dan pH pun meningkat hingga kisaran 6,0-7,5.[9]Â Jumlah keputihan secara keseluruhan menurun saat menopause. Meskipun hal ini normal, kondisi tersebut dapat memicu gejala kekeringan[8] dan nyeri saat melakukan hubungan seksual penetratif.[15] Gejala-gejala ini sering kali dapat ditangani menggunakan pelembap/pelumas vagina atau krim hormon vagina.[16]
Keputihan abnormal
Keputihan yang abnormal dapat terjadi pada sejumlah kondisi, termasuk infeksi dan ketidakseimbangan flora vagina atau pH. Terkadang, keputihan yang tidak normal mungkin tidak diketahui penyebabnya. Dalam sebuah penelitian yang mengamati wanita yang datang ke klinik dengan keluhan seputar keputihan atau bau busuk pada vagina mereka, ditemukan bahwa 34% di antaranya mengalami vaginosis bakterialis dan 23% mengalami kandidiasis vagina (infeksi jamur).[7] 32% pasien ditemukan mengidap infeksi menular seksual termasuk klamidia, gonore, trikomonas, atau herpes genital.[7] Mendiagnosis penyebab keputihan tidak normal bisa jadi sulit, meskipun tes kalium hidroksida atau analisis pH vagina dapat digunakan. Jika keputihan tidak normal terjadi bersamaan dengan rasa terbakar, iritasi, atau gatal pada vulva, kondisi ini disebut vaginitis.[9]
Sangat penting untuk mencari perawatan medis saat menyadari adanya keputihan tidak normal atau perubahan pada keputihan. Gejala yang menyertai penyebab patologis dari keputihan antara lain: gatal pada alat kelamin luar, iritasi atau peradangan pada alat kelamin luar, keputihan berwarna hijau atau seperti busa, keputihan berdarah yang tidak berhubungan dengan menstruasi, bau yang berbeda dari biasanya, nyeri baru atau nyeri yang memburuk sehubungan dengan keputihan, atau nyeri saat berhubungan seks maupun buang air kecil.[17] Pengobatan mandiri tidak direkomendasikan dan justru dapat memperburuk gejala.[18]
Setelah diagnosis vaginitis ditegakkan, pemeriksaan spekulum dilakukan untuk mengevaluasi vagina, keputihan, dan serviks. Dokter akan memasukkan spekulum ke dalam vagina saat pasien berbaring telentang untuk memeriksa adanya benda asing, kutil vagina, peradangan, serta ruam/memar. Sampel keputihan kemudian diambil menggunakan kapas usap (cotton swab) dan diuji pH-nya serta diamati di bawah mikroskop.[19] Penyebab paling umum dari keputihan patologis pada remaja dan orang dewasa dijelaskan di bawah ini.[butuh rujukan]
Vaginosis bakterialis
Vaginosis bakterialis (VB) adalah infeksi yang disebabkan oleh perubahan flora vagina, yaitu kumpulan organisme yang hidup di dalam vagina.[20] Ini adalah penyebab paling umum dari keputihan patologis pada wanita usia subur dan mencakup 40–50% dari total kasus.[21] Pada VB, vagina mengalami penurunan bakteri yang disebut lactobacilli, dan peningkatan relatif pada berbagai bakteri anaerob dengan yang paling dominan adalah Gardnerella vaginalis.[22] Ketidakseimbangan ini menghasilkan keputihan khas yang dialami oleh pasien penderita VB.[20] Keputihan pada VB memiliki bau amis menyengat yang khas, yang disebabkan oleh peningkatan relatif bakteri anaerob. Keputihan biasanya encer dan berwarna abu-abu, atau sesekali hijau.[20][22] Kondisi ini terkadang disertai dengan rasa terbakar saat buang air kecil. Rasa gatal jarang terjadi.[23] Alasan pasti dari gangguan flora vagina yang mengarah pada VB belum diketahui sepenuhnya.[24] Akan tetapi, faktor-faktor yang terkait dengan VB antara lain penggunaan antibiotik, seks tanpa kondom, douching (mencuci vagina), dan penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).[25] Peran seks dalam VB tidak diketahui, dan VB tidak dianggap sebagai IMS (Infeksi Menular Seksual).[20] Diagnosis VB dibuat oleh penyedia layanan kesehatan berdasarkan tampilan keputihan, pH keputihan > 4,5, adanya sel-sel petunjuk (clue cells) saat melihat sampel keputihan yang dikumpulkan dari pemeriksaan spekulum di bawah mikroskop, dan bau amis yang khas ketika keputihan diletakkan pada kaca objek lalu dicampur dengan kalium hidroksida ("whiff test").[20][22] Standar emas untuk diagnosis adalah pewarnaan Gram yang menunjukkan kekurangan lactobacilli secara relatif dan susunan polimikrobial dari bakteri batang Gram-negatif, batang Gram-variabel, dan kokus. VB dapat diobati dengan antibiotik oral atau intravagina, seperti metronidazol,[26] atau lactobacillus.[27]
Infeksi jamur vagina
Infeksi jamur vagina atau kandidiasis vagina diakibatkan oleh pertumbuhan berlebih Candida albicans, atau jamur, di dalam vagina.[28] Ini adalah infeksi yang relatif umum, dengan lebih dari 75% wanita pernah mengalami setidaknya satu kali infeksi jamur pada suatu saat dalam hidup mereka.[29] Faktor risiko infeksi jamur antara lain penggunaan antibiotik baru-baru ini, diabetes melitus, imunosupresi, peningkatan kadar estrogen, dan penggunaan alat kontrasepsi tertentu termasuk alat kontrasepsi dalam rahim, diafragma, atau spons.[28][30] Ini bukanlah infeksi menular seksual.[30] Keputihan tidak selalu muncul pada infeksi jamur, tetapi ketika terjadi, biasanya tidak berbau, kental, putih, dan menggumpal.[28] Gatal pada vagina merupakan gejala kandidiasis vulvovaginal yang paling umum.[28] Wanita juga dapat mengalami rasa terbakar, perih, iritasi, nyeri saat buang air kecil, atau nyeri saat berhubungan seks.[30] Diagnosis kandidiasis vulvovaginal dilakukan dengan melihat sampel yang diambil selama pemeriksaan spekulum di bawah mikroskop yang menunjukkan keberadaan hifa (jamur), atau dari kultur.[31] Gejala-gejala yang dijelaskan di atas dapat muncul pada infeksi vagina lainnya, sehingga diagnosis mikroskopis atau kultur diperlukan untuk memastikan diagnosis.[30] Perawatan dilakukan dengan menggunakan obat antijamur oral atau intravagina.[30]
Vaginitis trikomonas
Vaginitis trikomonas adalah infeksi yang didapat melalui hubungan seks dan berkaitan dengan keputihan.[28] Infeksi ini dapat ditularkan dari penis ke vagina, vagina ke penis, atau dari vagina ke vagina.[32] Keputihan pada trikomonas biasanya berwarna hijau kekuningan.[28] Terkadang berbusa dan dapat menimbulkan bau busuk.[33] Gejala lain yang mungkin muncul termasuk rasa terbakar atau gatal pada vagina, nyeri saat buang air kecil, atau nyeri saat berhubungan seksual.[32] Trikomonas didiagnosis dengan melihat sampel keputihan di bawah mikroskop yang menunjukkan adanya trikomonad yang bergerak pada kaca objek.[28] Akan tetapi, pada wanita penderita trikomonas, organisme ini biasanya hanya terdeteksi pada 60-80% kasus.[28] Pengujian lain, termasuk kultur keputihan atau uji PCR, lebih mungkin untuk mendeteksi organisme tersebut.[28] Perawatannya berupa dosis tunggal antibiotik oral, yang paling umum adalah metronidazol atau tinidazol.[28]
Klamidia dan gonore
Klamidia dan gonore juga dapat menyebabkan keputihan, meskipun pada sebagian besar kasus, infeksi ini tidak menimbulkan gejala.[33] Keputihan pada penderita klamidia biasanya berisi nanah, tetapi pada sekitar 80% kasus, klamidia tidak menyebabkan keputihan sama sekali.[33] Gonore juga dapat menyebabkan keputihan berisi nanah, tetapi serupa dengan klamidia, gonore tidak menunjukkan gejala pada hingga 50% kasus.[33] Jika keputihan disertai dengan nyeri panggul, hal ini mengindikasikan penyakit radang panggul (PID), suatu kondisi ketika bakteri telah bergerak naik ke saluran reproduksi.[33]
Penyebab lainnya
Benda asing dapat menyebabkan keputihan kronis dengan bau busuk.[34] Benda asing yang umum ditemukan pada remaja dan orang dewasa adalah tampon, tisu toilet, dan benda-benda yang digunakan untuk gairah seksual.[34]
Sebelum pubertas
Alasan paling umum perempuan prapubertas mengunjungi dokter kandungan adalah kekhawatiran mengenai keputihan dan bau vagina.[35] Penyebab keputihan tidak normal pada anak perempuan prapubertas berbeda dengan pada orang dewasa dan biasanya berkaitan dengan faktor gaya hidup seperti iritasi akibat sabun berbahan keras atau pakaian ketat.[35] Vagina anak perempuan prapubertas (karena kurangnya estrogen) berdinding tipis dan memiliki mikrobiota yang berbeda; di samping itu, vulva pada anak perempuan prapubertas tidak memiliki rambut kemaluan. Ciri-ciri ini membuat vagina lebih rentan terhadap infeksi bakteri.[35] Bakteri yang lebih umum menyebabkan keputihan pada anak perempuan prapubertas berbeda dari kelompok usia lainnya, dan termasuk Bacteroides, Peptostreptococcus, serta Candida (jamur). Bakteri ini dapat berasal dari kolonisasi vagina oleh bakteri oral atau feses.[36] Penyebab lain keputihan pada anak perempuan prapubertas adalah adanya benda asing seperti mainan atau sobekan tisu toilet.[34] Dalam kasus benda asing, keputihan sering kali bercampur darah atau berwarna cokelat.[34]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Beckmann, R.B. (2014). Obstetrics and Gynecology (Edisi 7th). Baltimore, MD: Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 260. ISBN 978-1-4511-4431-4.
- 1 2 3 4 5 6 "Vaginal discharge color guide: Causes and when to see a doctor". www.medicalnewstoday.com (dalam bahasa Inggris). 2020-01-10. Diakses tanggal 2022-04-25.
- 1 2 3 4 5 6 Hacker, Neville F. (2016). Hacker & Moore's Essentials of Obstetrics and Gynecology (Edisi 6th). Philadelphia, PA: Elsevier. hlm. 276. ISBN 978-1-4557-7558-3.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Lentz, Gretchen M. (2012). Comprehensive Gynecology (Edisi 6th). Philadelphia, PA: Elsevier. hlm. 532–533. ISBN 978-0-323-06986-1.
- ↑ LeBlond, Richard F. (2015). "Chapter 11". DeGowin's Diagnostic Examination (Edisi 10th). McGraw-Hill Education. ISBN 978-0-07-181447-8.
- 1 2 Rice, Alexandra (2016). "Vaginal Discharge". Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine. 26 (11): 317–323. doi:10.1016/j.ogrm.2016.08.002.
- 1 2 3 Wathne, Bjarne; Holst, Elisabeth; Hovelius, Birgitta; Mårdh, Per-Anders (1994-01-01). "Vaginal discharge - comparison of clinical, laboratory and microbiological findings". Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica. 73 (10): 802–808. doi:10.3109/00016349409072509. ISSN 0001-6349. PMID 7817733. S2CID 26037589.
- 1 2 Mark, J. K. K.; Samsudin, S.; Looi, I.; Yuen, K. H. (2024-05-03). "Vaginal dryness: a review of current understanding and management strategies". Climacteric (dalam bahasa Inggris). 27 (3): 236–244. doi:10.1080/13697137.2024.2306892. ISSN 1369-7137.
- 1 2 3 4 5 Hoffman, Barbara; Schorge, John; Schaffer, Joseph; Halvorson, Lisa; Bradshaw, Karen; Cunningham, F. (2012-04-12). Williams Gynecology, Second Edition. McGraw Hill Professional. ISBNÂ 978-0-07-171672-7.
- 1 2 3 Adams, Hillard, Paula. Practical pediatric and adolescent gynecology. OCLCÂ 841907353. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ "Age 25 - Entire Cycle | Beautiful Cervix Project". beautifulcervix.com. 2008-12-06. Diakses tanggal 2016-12-16.
- 1 2 3 4 5 6 7 Reed, Beverly G.; Carr, Bruce R. (2000-01-01). "The Normal Menstrual Cycle and the Control of Ovulation". Dalam De Groot, Leslie J.; Chrousos, George; Dungan, Kathleen; Feingold, Kenneth R.; Grossman, Ashley; Hershman, Jerome M.; Koch, Christian; Korbonits, Márta; McLachlan, Robert (ed.). Endotext. South Dartmouth (MA): MDText.com, Inc. PMID 25905282.
- 1 2 3 4 5 Leonard., Lowdermilk, Deitra; E., Perry, Shannon (2006-01-01). Maternity nursing. Mosby Elsevier. OCLCÂ 62759362. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ "Postpartum care: After a vaginal delivery". Mayo Clinic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-20.
- ↑ Barber, Hugh R. K. (1988-01-01). Perimenopausal and geriatric gynecology. Macmillan. OCLC 17227383.
- ↑ I., Sokol, Andrew; R., Sokol, Eric (2007-01-01). General gynecology: the requisites in obstetrics and gynecology. Mosby. OCLC 324995697. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ "UpToDate". www.uptodate.com. Diakses tanggal 2021-09-20.
- ↑ "UpToDate". www.uptodate.com. Diakses tanggal 2021-09-13.
- ↑ "UpToDate". www.uptodate.com. Diakses tanggal 2021-09-13.
- 1 2 3 4 5 Alan H. DeCherney; et al. (2012). Current diagnosis & treatment: obstetrics & gynecology (Edisi 11th). Stamford, Conn.: Appleton & Lange. ISBN 978-0-07-163856-2.
- ↑ "CDC - Bacterial Vaginosis Statistics". www.cdc.gov. Diakses tanggal 2016-12-16.
- 1 2 3 Keane F, Ison CA, Noble H, Estcourt C (December 2006). "Bacterial vaginosis". Sex Transm Infect. 82 (Suppl 4): iv16–8. doi:10.1136/sti.2006.023119. PMC 2563898. PMID 17151045.
- ↑ "What are the symptoms of bacterial vaginosis?". www.nichd.nih.gov. 5 May 2021.
- ↑ "STD Facts - Bacterial Vaginosis". www.cdc.gov. 2019-01-11.
- ↑ "What causes bacterial vaginosis (BV)?". www.nichd.nih.gov. 5 May 2021.
- ↑ "UpToDate". www.uptodate.com. Diakses tanggal 2021-09-13.
- ↑ Oduyebo, Oyinlola O.; Anorlu, Rose I.; Ogunsola, Folasade T. (2009). "The effects of antimicrobial treatment on bacterial vaginosis in non-pregnant women | Cochrane". Cochrane Database of Systematic Reviews (3) CD006055. doi:10.1002/14651858.CD006055.pub2. PMID 19588379.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Usatine R, Smith MA, Mayeaux EJ, Chumley H (2013-04-23). Color Atlas of Family Medicine (Edisi 2nd). New York: McGraw Hill. ISBNÂ 978-0-07-176964-8.
- ↑ "Genital / vulvovaginal candidiasis (VVC) | Fungal Diseases | CDC". www.cdc.gov. Diakses tanggal 2016-12-16.
- 1 2 3 4 5 Barry L. Hainer; Maria V. Gibson (April 2011). "Vaginitis: Diagnosis and Treatment". American Family Physician. 83 (7): 807–815.
- ↑ "Vulvovaginal Candidiasis - 2015 STD Treatment Guidelines". www.cdc.gov. 2019-01-11.
- 1 2 "STD Facts - Trichomoniasis". www.cdc.gov. Diakses tanggal 2016-12-04.
- 1 2 3 4 5 Spence, Des; Melville, Catriona (2007-12-01). "Vaginal discharge". BMJ: British Medical Journal. 335 (7630): 1147–1151. doi:10.1136/bmj.39378.633287.80. ISSN 0959-8138. PMC 2099568. PMID 18048541.
- 1 2 3 4 E., Tintinalli, Judith; Stephan., Stapczynski, J. (2011-01-01). Tintinalli's emergency medicine: a comprehensive study guide. McGraw-Hill. OCLCÂ 646388436. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- 1 2 3 Herriot., Emans, S. Jean; R., Laufer, Marc (2011-01-01). Emans, Laufer, Goldstein's pediatric & adolescent gynecology. Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins Health. OCLCÂ 751738201. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Rome ES (2012). "Vulvovaginitis and Other Common Vulvar Disorders in Children". Pediatric and Adolescent Gynecology. Endocrine Development. Vol. 22. hlm. 72–83. doi:10.1159/000326634. ISBN 978-3-8055-9336-6. PMID 22846522.
Pranala luar
Media terkait Vaginal discharge di Wikimedia Commons
| Klasifikasi | |
|---|---|
| Sumber luar |
| |||||||||||||||||
| Kesehatan seksual |
| ||||||||||||||||
| Kesehatan non-reproduksi |
| ||||||||||||||||
| Faktor sosiokultural | |||||||||||||||||
| Politik, penelitian dan advokasi |
| ||||||||||||||||
| Kesehatan wanita menurut negara | |||||||||||||||||