Atilah Soeryadjaya (Bandoro Raden Ayu (BRAy) Atilah Rapatriati, lahir 28 April 1961) adalah seorang produser teater, sutradara, penari, pengusaha, dan sosialita yang berkarir sejak tahun 2010.[1] Ia adalah wanita bangsawan Jawa melalui kakeknya, seorang Raja Surakarta yang berpusat di Jawa, Mangkunegara VII. Dia menikah dengan taipan bisnis, Edward Soeryadjaya, putra dari pendiri Astra International, William Soeryadjaya.
Tahun-tahun awal
Lahir dengan nama Bandara Raden Ayu Atilah Rapatriat sebagai salah satu cucu perempuan dari Raja Jawa yang berbasis di Surakarta, Mangkunegara VII, dan dibesarkan di istana kerajaan, Atilah memiliki tradisi dan budaya Jawa kuno yang mengalir dalam darahnya.
Namun, saat remaja, ia tertarik pada modeling modern, menyanyi, dan menari, dan memutuskan untuk mempelajari bahasa dan seni kontemporer di Jerman setelah lulus SMA. Ia akhirnya bergabung dengan sebuah perusahaan musik, melakukan tur selama bertahun-tahun di Eropa pada tahun 1980, sambil tetap belajar musik dan tari kontemporer.
Ia bersekolah di Sekolah Pariwisata Jakarta.
Karir
Ketika dia membaca sebuah berita Singapura yang menyebut kampung halamannya, Solo, sebagai surga bagi terorisme Islam.[2]Surakarta, setelah pemimpin teroris Noordin Mohammad Top terbunuh di tempat persembunyiannya di kota tersebut pada Pada tahun 2009, [butuh rujukan] Soeryadjaya bertekad untuk memulihkan citra kota kelahirannya. Ia kemudian memutuskan untuk mementaskan drama sendratari Jawa "Matah Ati" untuk menunjukkannya kepada dunia sebagai citra sejati Solo dan menggelar pertunjukan tersebut di Singapura, di mana dapat menarik lebih banyak penonton global. "Matah Ati" dipentaskan di gedung konser Esplanade, Singapore dari tanggal 22 hingga 23 Oktober 2010, dan sukses di Singapura. [butuh rujukan]
Ide Matah Ati muncul setelah ia menyaksikan pementasan musikal Miss Saigon di teater yang sama. Ia segera kembali ke Solo dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya, mengangkat budaya Indonesia di panggung bergengsi tersebut.
Dalam persiapan Matah Ati, ia bergabung dengan para penari, koreografer, dan musisi istana untuk bekerja berjam-jam bersama timnya di Surakarta, menggabungkan tarian dan musik Jawa kontemporer dengan klasik, dengan bantuan teknologi modern.
Matah Ati menceritakan kisah hidup Rubiah, yang menjadi Raden Ayu Kusuma Matah Ati setelah menikah dengan raja Mangkunegara pertama, Raden Mas Said, dan menggambarkannya sebagai wanita Jawa yang kuat. Rubiah adalah pemimpin kelompok yang terdiri dari 40 prajurit wanita Jawa.
Beruntungnya, suaminya yang keturunan Tionghoa juga mendukungnya. Keberhasilan Matah Ati di Esplanade, Singapura menarik perhatian Federasi Promosi Budaya Asia (FACP), sebuah lembaga yang mempromosikan budaya negara-negara Asia-Pasifik. Karena, selama 25 tahun tidak ada kegiatan budaya yang diadakan di Indonesia, negara yang sebenarnya sangat kaya akan keragaman budaya.
Berkat Matah Ati, Indonesia juga diterima kembali sebagai anggota FACP bahkan terpilih menjadi tuan rumah Konferensi FACP, dari tanggal 6 hingga 9 September. Konferensi tersebut diadakan di Solo, kota kelahiran Atilah. Atilah juga mencalonkannya sebagai kandidat untuk menjadi tuan rumah Konferensi FACP Solo. Tak sia-sia, Solo terpilih menjadi tuan rumah dan mengalahkan kota yang lebih besar, Beijing yang juga dicalonkan. Sebagai hadiah untuk warga Solo, selama acara Konferensi FACP yang diikuti oleh 500 peserta dari 30 negara, Matah Ati dipentaskan setiap hari secara gratis.
Setahun kemudian, pada tahun 2013, pementasan kolosal karya Soeryadjaja dipentaskan di Monumen Nasional, tepat pada saat perayaan ulang tahun Jakarta ke-486. Pementasan yang berjudul Ariah ini tidak direncanakan sebagai produksi keduanya setelah kesuksesan pementasan epik Jawa Matah Ati. Ariah akan melibatkan setidaknya 300 penari dan musisi, yang akan tampil di atas panggung seluas 3.456 meter persegi yang terdiri dari tiga ketinggian berbeda yaitu 3, 7, dan 10 meter. Sebanyak 15.000 penonton diperkirakan akan menyaksikan pertunjukan yang akan digelar mulai 28 Juni hingga 30 Juni.[3]
Ariah didasarkan pada kisah legendaris Ariah, seorang pejuang wanita dari suku Betawi (penduduk asli Jakarta) yang melawan penindas Belanda dan memimpin sesama petani dalam pemberontakan kekerasan melawan penjajah pada tahun 1869, ketika Jakarta masih dikenal sebagai Batavia. Alur cerita musikal ini juga terinspirasi oleh persaingan bersejarah antara playboy terkenal Oey Tamba Sia (1827-1856) dan Tan Eng Goan, Majoor der Chinezen pertama dari Batavia (1802-1872), serta menantu laki-lakinya, Lim Soe Keng Sia.[4]
Kehidupan pribadi
Pada tahun 1998, ia menikah dengan suami keduanya, pengusaha sukses Edward Soeryadjaya, putra William Soeryadjaya, dan kemudian membantu bisnisnya.
Atilah menyukai musik rock dan merupakan penggemar band-band top Indonesia era 70-an: God Bless dan AKA. Di kamarnya, Atilah bahkan memasang poster vokalis AKA yang kini telah meninggal, Ucok Harahap.