Tatiek Prasetyawati (lahir 25 Mei 1963) atau lebih dikenal dengan nama Atiek CB adalah salah satu penyanyi asal Indonesia yang memiliki hits terbanyak di industri musik Indonesia.[4]
Populer pada era 80-an sampai 2000-an awal, penyanyi yang indentik dengan kacamata hitam dan suara khas ini dikenal dengan gayanya yang ekspresif. Ia dikenal melalui sejumlah lagu hitsnya seperti Risau, Akh, Permohonan, Suka - Suka, Kekang, Optimis, Maafkan, Terserah Boy, Dia, Berhentilah, Kau Di mana, Terapung yang masih sering terdengar di radio-radio. Beberapa diantaranya juga direkam ulang oleh artis lain.[5]
Kehidupan awal
Atiek CB mengawali karier menyanyi di usia yang masih sangat belia. Sejak masih sekolah di SMP Negeri 1 Kediri, Atiek sudah dikenal sebagai remaja yang sangat suka bernyanyi di pentas-pentas sekolah maupun diluar sekolah bersama bandnya CB Band. Nama CB lah, yang berarti Child Brothers, yang kelak dijadikan nama belakangnya sampai sekarang.[6]
Memasuki bangku SMA Negeri 2 Kediri, Atiek semakin giat menekuni dunia menyanyi, Tak hanya di pentas - pentas, Atiek mencoba ikut audisi di sebuah acara yang sangat populer di Jawa Timur yang menampilkan penyanyi - penyanyi baru di TVRI Surabaya. Sejak dinyatakan lolos audisi, wajahnya mulai sering tampil di satu-satunya televisi di Surabaya waktu itu.
Karier
Memasuki Dunia Rekaman
Karena wajahnya semakin dikenal di Jawa Timur dengan gayanya yang lincah, beberapa tawaran rekaman pun datang. Adalah sebuah perusahaan rekaman di Surabaya yang sempat merilis beberapa album awal Atiek. Sampai akhirnya tawaran datang dari sebuah label rekaman besar di Jakarta milik musisi besar A Riyanto, yakni Arco Record. Sebelumya A. Riyanto juga sudah berperan di album - album Atiek waktu masih di Jawa Timur. Mendapat tawaran rekaman dari ibu kota, Atiek terpaksa harus meninggalkan bangku kuliahnya di Malang. Album Nusantaraku, Nusantara 2, Nusantara 3 dan Nusantara 7 yang digarap bersama A. Riyanto dari tahun 1980 sampai 1983 belum mendapatkan respon yang menggembirakan di blantika musik Indonesia. Tahun 1984, Atiek CB merilis album terakhirnya bersama A. Riyanto berjudul Ilusi Pagi, dan lagu berjudul sama dengan albumnya Ilusi Pagi cukup mendapatkan sambutan dari radio-radio. Nama Atiek CB pun mulai diperhitungkan.
Transisi
Belum lama merilis album Ilusi Pagi, pada tahun yang sama 1984 Atiek CB mendapatkan kontrak dengan perusahaan rekaman bergengsi waktu itu, Purnama Record. Sebuah label rekaman yang dihuni oleh artis - artis besar di industri musik Indonesia. Di label barunya ini Atiek seolah dimanjakan, dia dipercaya sepenuhnya mengubah genre musiknya sesuai dengan keinginannya, Dan Atiek pun dipertemukan dengan musisi - musisi muda yang sudah memiliki reputasi bagus sebelumnya. Erwin Gutawa dipercaya sebagai Music Director album yang diberi judul Transisi ini. Diberi judul Transisi karena album inilah Atiek CB memasuki era baru bermusiknya. Lagu "Risau" karya Cecep AS dipilih sebagai lagu jagoan untuk radio. Lirik puitis, aransemen musik yang dark dan cara menyanyi Atiek yg ekspresif menjadikan lagu ini cepat populer. Radio-radio swasta di Indonesia menempatkan Risau di tangga lagu nomor 1 selama berminggu-minggu di awal tahun 1985. Atiek CB pun mulai dikenal sebagai penyanyi dengan kacamata hitam karena ketika pemotretan cover album tiba-tiba Farid Hardja yang ada di lokasi meminjamkan kacamata hitam miliknya dan semua orang di sekitar sepakat Atiek CB cocok dengan gaya itu.
Sukses album Transisi menempatkan Atiek CB di jajaran solois wanita yang disegani. Namanya mulai disejajarkan dengan beberapa penyanyi papan atas Indonesia pada masa itu. Tahun 1985 Atiek CB kembali merilis album berikutnya yang berjudul Di Sudut Kemegahan Hidupnya. Di album ini Atiek CB didukung oleh musisi senior Bartje Van Houten. Sayangnya album ini kurang mendapat sambutan jika dibandingkan dengan Transisi. Meskipun lagu "Di Dalam Khayalku" sempat jadi radio hit. Tercatat sebelum album ini Purnama Record sempat merilis "Antara Anyer dan Jakarta" tanpa disertai promosi yang memadai. Menurut Atiek CB, lagu "Antara Anyer dan Jakarta" direkam selama proses pembuatan album Transisi tetapi tidak cukup dimasukkan album, sehingga dirilis terpisah dengan tambahan lagu-lagu lama. Lagu ciptaan Oddie Agam ini baru menjadi hit besar ketika Sheila Majid dari Malaysia merekam ulang dengan versi yang beda dan dipromosikan secara besar-besaran sebagai perkenalan Sheila di Indonesia. Namun hal ini tak berpengaruh sedikitpun bagi Atiek CB karena tahun yang sama Atiek merilis album Akh yang melejitkan hit "Akh", "Permohonan", "Di Bibirku Ada Cinta" dan "Apa Lagi". Lagu "Akh" yang sekaligus dijadikan judul album adalah sebuah lagu pop-rock garapan Cecep AS yang sebelumya menciptakan hit "Risau", penata musik di album ini adalah Youngky Soewarno. Di sela-sela kesibukan menggarap album-album solonya, antara tahun 1985-1986 Atiek CB juga sibuk terlibat di proyek-proyek lain seperti Suara Persaudaraan, sebuah proyek garapan James F. Sundah yang terinspirasi sukses USA for Africa. Melibatkan puluhan musisi dan penyanyi Indonesia, Atiek dipertemukan dengan Nicky Astria dan Ikang Fawzi menyanyikan lagu "Ku Ajak Kau Kembali".
Pada tahun 90-an, Atiek juga pernah tersandung masalah saat desain album Magis (1993) terdapat gambar palu dan arit yang tak lain adalah lambang partai komunis yang terlarang di Indonesia.[7]
Kehidupan pribadi
Ketika Atiek berusia 25 tahun, ia menikah dengan personil Trio Libels, Ronny Sianturi yang baru berusia 23 tahun. Pernikahan tak sampai 3 tahun itu tidak membuahkan anak.[1] Ia bercerai dengan Ronny pada tahun 1994 dan kemudian menikah dengan Lawrence Smith. Atiek bersama suami keduanya menetap di Delaware, Amerika Serikat dan menjadi warga negaranya.[8] Keduanya dikaruniai dua anak bernama Kyna Anne Smith dan Kendall Smith.[3]
Atiek juga disebut mengalami gangguan kesehatan mental bipolar sejak lama, yang merupakan turunan dari keluarga besarnya karena sang nenek merupakan penderita schizophrenia. Gangguan tersebut ternyata juga menurun pada kedua anak Atiek yang menderita gangguan bipolar. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu cara yang ia lakukan ialah dengan menyanyi sehingga ia merasa lebih baik.[9]
WOW Brand Indonesia 2019: Atiek CB menerima penghargaan dan sertifikat ini, yang menunjukkan pengaruh dan merek pribadinya yang tetap kuat di industri musik Indonesia.
Konser Perayaan 40 Tahun Berkarya: Pada tahun 2019, ia menggelar konser bertajuk "Meretas Jejak" untuk merayakan 40 tahun dedikasinya di dunia musik.
Penampil di AMI Awards 2015: Atiek CB tampil sebagai penampil kehormatan di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2015, yang menjadi momen spesial di mana ia manggung kembali.
Pencapaian Pribadi (Mendaki Gunung Rinjani) 2022-2023: Di usia 62-63 tahun, Atiek CB berhasil mendaki Gunung Rinjani, sebuah pencapaian fisik yang mengagumkan dan mendapat apresiasi sebagai bentuk semangat di usia lanjut.