Beberapa teori tentang asal usul nama tempat ini mencakup burung paruh-silang merah, atau isuka dalam bahasa Jepang, serta fitur geologis lokal, misalnya 洲処 (gosong pasir, tanggul pasir, atau deltacode: ja is deprecated ) atau 崩地 (asu) + 処 (ka).[2] Mungkin juga diambil dari Asuka (atau Ashuku) Nyorai, istilah Jepang untuk Akṣobhya, salah satu dari Lima Buddha Kebijaksanaan yang masih dipuja di Asuka-dera (Kuil Asuka) dan Asuka-niimasu-jinja (kuil untuk manifestasinya sebagai dewa Shinto), maupun beberapa struktur lain dari masa itu.
Arkeologi
Proyek arkeologi terus mengungkap peninggalan dari reruntuhan ini. Penemuan terbaru di daerah tersebut termasuk koin Wado, yang diyakini sebagai beberapa koin tertua di Jepang, dan lukisan di Makam Kitora dan Takamatsuzuka
Makam Ishibutai Kofun juga terletak di Asuka. Pada tanggal 12 Maret 2004, penemuan sisa-sisa bangunan utama sebuah rumah yang berdekatan dengan kofun diumumkan. Kemungkinan besar rumah tersebut merupakan milik Soga no Umako, salah seorang anggota klan Soga yang jasadnya diyakini telah dimakamkan di dalam gundukan makam tersebut.
Akses
Asuka dapat dijangkau dari Stasiun Okadera atau Stasiun Asuka di jalur kereta api Kintetsu, atau dengan mobil melalui Jalan Raya 169.
Istana Kekaisaran
Tata Letak Istana Oharida
Pada masa pemerintahan Asuka, berbagai istana dibangun untuk setiap kaisar. Segera setelah seorang kaisar meninggal, seluruh keluarga istana akan pindah ke istana yang baru, karena tinggal di istana lama dianggap berbahaya dan pamali karena arwah kaisar yang telah wafat mungkin masih gentayangan. Terkadang bahkan selama masa pemerintahan seorang kaisar, istana diubah beberapa kali karena kerusakan akibat kebakaran atau pertanda buruk. Karena istana-istana ini seluruhnya dibangun dari kayu, tidak ada satu pun yang bertahan, meskipun beberapa pekerjaan arkeologi di zaman modern telah mengungkap sisa-sisa seperti fondasi batu untuk tiang bangunan.
Sakurai sempat menjadi ibu kota Jepang selama pemerintahan Kaisar Ingyō. Kehidupan istana kekaisaran berpusat di Istana Tohotsu tempat kaisar tinggal pada tahun 457–479.[3] Kaisar lain juga membangun istana di Asuka, termasuk
Istana Chikatsu-Asuka-Yatsuri, 485–487[4] pada masa pemerintahan Kaisar Kenzō[5]
Istana Shikishima no Kanasashi, 540–571[6] pada masa pemerintahan Kaisar Kinmei[7]
Istana Toyura atau Toyura-no-miya, 593–603[8] pada masa pemerintahan Permaisuri Suiko[9]
Istana Oharida atau Oharida-no-miya, 603–629[8] pada masa pemerintahan Suiko[9]
Istana Okamoto atau Okamoto-no-miya, 630–636[8] pada masa pemerintahan Kaisar Jomei[10]
Istana Tanaka, 636–40
Istana Umayasaka, 640
Pada tahun 640–642, istana negara sempat dipindahkan sebentar ke Istana Kudara di Kōryō, Nara; lalu kemudian dikembalikan ke Asuka.
Pada tahun 645–654, istana dipindahkan ke Istana Naniwa Nagara-Toyosaki di Osaka; kemudian ibu kota dipindahkan kembali ke Asuka ketika kaisar tinggal di
Istana Okamoto atau Nochi no Asuka-Okamoto-no-miya, 656–660[8] pada masa pemerintahan Permaisuri Saimei[12]
Pada tahun 661–667, istana pindah ke Istana Tachibana no Hironiwa (661–67) di Asakura, Fukuoka. Kemudian istana pindah lagi ke Istana Ōmi atau Istana Ōtsu (667–72) di Ōmi-kyō (sekarang Ōtsu di Prefektur Shiga). Sekali lagi, istana pindah kembali ke Asuka di