Asosiasi Antropologi Indonesia adalah sebuah asosiasi yang didirikan pada tanggal 12 Maret 1983 untuk menghimpun masyarakatIndonesia yang bekerja di bidang antropologi dalam satu kesatuan.[1] Para pendiri Asosiasi Antropologi Indonesia berasal dari kalangan akademikus dan antropolog Indonesia.[2] Asosiasi Antropologi Indonesia memiliki 4 wilayah kerja di seluruh Indonesia dengan fokus kerja yang berbeda di tiap wilayah.[2]
Asosiasi Antropologi Indonesia memiliki 4 wilayah kerja di seluruh Indonesia. Wilayah 1 terdiri atas Pulau Sumatra dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Perhatian utama antropologi di wilayah ini adalah permasalahan ekologi yang berhubungan dengan perkebunan, pertambangan serta suku pedalaman yang sepenuhnya hidup bergantung pada hasil hutan dan tanahnya. Daerah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi pusat kajian antropologi di wilayah ini. Wilayah 2 meliputi seluruh bagian Pulau Kalimantan yang berada di dalam kekuasan Negara Indonesia, keseluruhan Pulau Sulawesi, serta pulau-pulau kecil di antara keduanya. Perhatian utama di wilayah ini adalah budaya maritim. Daerah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan menjadi pusat kajian antropologi di wilayah ini. Wilayah 3 meliputi Kepulauan Maluku, Papua Barat dan Papua beserta pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Perhatian utama dalam kajian antropologi pada wilayah ini adalah persebaran kelompok suku. Pusat kajian di wilayah ini bisa ditemukan di Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Wilayah 4 meliputi Pulau Jawa, Pulau Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, beserta pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Perhatian utama kajian Asosiasi Antropologi Indonesia di wilayah ini adalah pada budaya pemerintahan yang berhubungan dengan pembuatan kebijakan dan pelaksanaannya pada budaya yang sedang berkembang. Kajian antropologi utamanya dilakukan di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali.[2]
Asosiasi Antropologi Indonesia juga bekerja sama dengan Departemen Antropologi, Universitas Gadjah Mada. Bentuk kerja sama ini dilakukan dalam bentuk partisipasi para dosen dan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Asosiasi Antropologi Indonesia.[6] Gagasan pendirian Museum Kedaulatan Pangan di Jawa Barat juga merupakan hasil kerja sama antara Program Studi Pascasarjana Antropologi pada Universitas Padjadjaran dengan Asosiasi Antropologi Indonesia.[7]
Publikasi ilmiah
Sejak bulan Oktober tahun 2018, Asosiasi Antropologi Indonesia telah bekerja sama dengan Jurnal Etnosia. Jurnal Etnosia merupakan jurnal ilmiah yang membahas seputar etnografi di Indonesia.[8] Antroplogi Indonesia juga bekerja sama dengan Departemen Antropologi pada Universitas Indonesia sebagai penerbit Jurnal Antropologi Indonesia .[9] Jenis kerja sama yang sama juga dilakukan oleh Jurusan Antropologi pada Universitas Andalas dan Asosiasi Antropologi Indonesia, yaitu dengan menjadi penerbit dari Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya.[10]