Buah
Empat jenis Artocarpus penghasil buah yang terpenting adalah sukun (Artocarpus altilis), nangka (A. heterophyllus), cempedak (A. integer), dan terap (A. odoratissimus).[3] Sukun merupakan buah sumber karbohidrat yang penting, terutama di kawasan Pasifik selatan. Varian liarnya yang disebut timbul atau kulur, buah mudanya biasa disayur.[4] Nangka dan cempedak adalah penghasil buah yang penting, baik untuk dimakan segar, dijadikan kue, diproses menjadi keripik, atau dicampurkan ke dalam minuman atau es. Buahnya yang muda dijual di pasar untuk sayur.[5][6]
Di samping itu, beberapa banyak Artocarpus juga menghasilkan buah –kebanyakan musiman– yang diperjualbelikan di pasar lokal atau hanya dikonsumsi sendiri. Misalnya A. chaplasha, A. nitidus (tampang), A. rigidus (tempunai), A. sericicarpus (pedalai).[1] Juga A. anisophyllus (mentawa), A. elasticus (benda), A. lanceifolius (keledang), dan lain-lain.
Kayu
Kebanyakan spesies Artocarpus menghasilkan kayu yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, atau untuk membuat perabotan rumah dan peralatan lain. Secara garis besar, kayu-kayu Artocarpus digolongkan ke dalam dua kelompok berdasarkan nama perdagangannya; yakni kayu terap dan kayu keledang. Kedua kelompok ini dibedakan menurut sifat-sifat kayunya, terutama beratnya, meskipun banyak terdapat tumpang tindih karakter di antaranya. Kelompok kayu terap lebih ringan daripada keledang, dengan batas kasar kira-kira pada BJ kayu 0,64; sementara kayu teras kelompok keledang biasanya berwarna lebih gelap dan lebih kontras perbedaan dengan kayu gubalnya jika dibandingkan dengan kelompok terap.[3]
Terap tergolong dalam kayu ringan; densitas kayunya berkisar antara (310-)365 – 640(-780) kg/m3 pada kadar air 15%. Kayu terasnya berwarna kuning hingga kuning-cokelat pucat, dan biasanya kurang terbedakan dengan kayu gubal yang umumnya lebih pucat warnanya. Tekstur kayunya kasar, tetapi merata; urat kayunya berpautan. Nilai penyusutan kayunya cukup tinggi; dari kondisi kayu segar ke kadar air 15% dan kering tanur, kayu ini menyusut berturut-turut sebesar 1,5-2,0% dan 3,2% di arah radial, serta 2,9-4,4% dan 7,7% di arah tangensial. Kayu ini mengering cukup cepat hingga sedang, dengan sedikit hingga agak besar kecenderungan untuk melengkung atau pecah. Hingga mencapai taraf kering udara, kayu terap setebal 15 mm dan 40 mm memerlukan waktu antara 1-1,5 bulan dan 2,5-4 bulan, berturut-turut.[3]
Kayu terap mudah dikerjakan: digergaji, diserut, dilubangi, dan dibubut dengan hasil baik; namun sering kasar bila dipernis, terutama pada sisi radial, karena menyerabutnya urat kayu yang berpautan. Terap mudah dikupas untuk dijadikan venir, dan memuaskan untuk diproses menjadi kayu lapis karena permukaannya mudah direkatkan.[3]
Terap kurang awet pada kondisi tropis, terutama bila digunakan di luar, terpapar oleh perubahan cuaca, atau bersinggungan dengan tanah. Namun keterawetan kayu gubalnya termasuk mudah, sementara kayu terasnya tergolong agak sukar diawetkan.[3]
Keledang tergolong kayu yang sedang beratnya. Kayu terasnya berwarna cokelat-kekuningan jingga, kadang-kadang dengan kilauan hijau-zaitun, menjadi lebih gelap bila terpapar cahaya, dan biasanya terbedakan dengan jelas dari kayu gubal yang lebih pucat warnanya. Pada kadar air 15%, kepadatan kayunya berkisar antara (420-)640 – 875(-945) kg/m3. Tekstur kayunya sedang hingga kasar, dan merata; urat kayunya sangat berpautan. Nilai penyusutan kayu keledang termasuk sedang; dari kondisi kayu basah ke kadar air 15%, kayu ini menyusut sebesar 0,8-1,2% di arah radial, dan 1,7-2,6% di arah tangensial. Keledang mengering dengan kecepatan sedang hingga lambat, dan dengan kecenderungan ringan untuk melengkung atau pecah. Hingga mencapai taraf kering udara, kayu keledang setebal 15 mm dan 40 mm memerlukan waktu sekitar 3,5 bulan dan 4,5 bulan, berturut-turut.[3]
Kayu keledang sukar digergaji, ia kerap menumpulkan mata gergaji karena seratnya yang liat dan mengandung silika. Kayu ini juga dapat diserut hingga halus, dengan kecenderungan menyerabut pada sisi radial. Agak sukar hingga sukar dilubangi, kayu keledang ternyata mudah dibubut dan dipaku dengan hasil baik. Keledang kurang begitu disukai untuk produksi kayu lapis karena densitasnya yang cukup tinggi.[3]
Keawetan kayu keledang tergolong kurang hingga sedang; penggunaan secara bersinggungan dengan tanah di luar ruangan hanya menghasilkan daya tahan 1,2 – 3,3 tahun, bervariasi menurut spesiesnya. Kayu ini cukup tahan serangan rayap, tetapi tidak begitu tahan serangan kumbang bubuk. Kayu A. lanceifolius tampaknya cukup tahan serangan cacing laut. Kayu teras keledang sukar diawetkan; dengan teknik perendaman hanya menyerap sedikit bahan pengawet.[3]