Arca Domas, Sasaka Pusaka Buana, atau Mandala Parahiyang adalah salah satu situs prasejarah yang juga memiliki nilai religius bagi masyarakat yang memercayainya. Situs ini diyakini sebagai peninggalan masa prasejarah yang berkaitan dengan tradisi pemujaan terhadap leluhur. Keberadaan batu-batu menhir di kawasan tersebut menunjukkan adanya praktik penghormatan atau pemujaan terhadap nenek moyang yang berkembang pada masa lampau.[1] Selain itu, tempat yang dipercaya oleh Urang Kanekes sebagai tempat penciptaan Bumi. Dewa utama dalam kepercayaan orang Kanekes, Batara Tunggal, diyakini merupakan nenek moyang mereka yang turun ke Bumi di Arca Domas. Arca Domas tidak sama dengan Sasaka Domas yang merupakan tempat berkumpulnya roh-roh orang mati yang kemudian bersatu dengan Batara Tunggal.[2]
Sejumlah peneliti Eropa (seperti Blume, Koolhoven, dan Koorders) mengklaim bahwa mereka pernah mengunjungi Arca Domas. Konon tempat ini terletak di sebuah bukit berteras di hulu Sungai Ciujung, Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Namun, keterangan mengenai Arca Domas yang dituliskan oleh para peneliti ini berbeda-beda. Selain itu, mengingat Arca Domas dianggap keramat dan tidak boleh dikunjungi sembarang orang, antropolog Robert Wessing dan Bart Barendregt berpendapat bahwa klaim yang meragukan keabsahan dari keterangan peneliti-peneliti Eropa ini perlu dipertimbangkan secara serius.[2]
Etimologi
Istilah Arca Domas berasal dari bahasa Sunda Kuno, yakni "arca" yang berarti patung dan "domas" yang berarti delapan ratus. Secara harfiah, nama tersebut dapat diartikan sebagai “delapan ratus patung”. Meskipun demikian, pada kawasan situs ini tidak ditemukan patung dalam bentuk utuh sebagaimana arti harfiahnya. Sebagai gantinya, terdapat sejumlah batu yang dipahat menyerupai bentuk tertentu, seperti wajah manusia, harimau, dan berbagai bentuk lainnya.[1]
Secara arkeologis, Situs Arca Domas memiliki unsur-unsur peninggalan megalitik. Kompleks situs ini terdiri atas beberapa struktur batu, di antaranya punden berundak, menhir, serta batu kubur yang menunjukkan adanya aktivitas ritual dan kepercayaan masyarakat pada masa lampau.[1]
Kondisi saat ini
Situs Arca Domas tidak hanya berfungsi sebagai tinggalan arkeologis, tetapi juga menjadi tempat yang memiliki makna spiritual bagi sebagian pengunjung. Salah satu aktivitas yang kerap dilakukan di kawasan ini adalah napak tilas serta bentuk penghormatan kepada arwah leluhur. Pengunjung yang datang umumnya melakukan berbagai kegiatan, seperti berziarah, berdoa, menyalakan dupa, atau sekadar mengamati peninggalan megalitik yang terdapat di lokasi tersebut.[1]
Kunjungan ke situs ini cenderung meningkat pada waktu-waktu tertentu. Akhir pekan, khususnya pada malam hari, merupakan periode yang cukup ramai didatangi pengunjung. Selain itu, jumlah pengunjung biasanya meningkat pada malam-malam yang dianggap memiliki makna khusus dalam tradisi tertentu, seperti malam Satu Suro, malam Kliwon, serta pada bulan Muharam.[1]
Sebagian besar pengunjung berasal dari masyarakat lokal di sekitar wilayah Bogor. Mereka datang dengan berbagai tujuan, baik untuk mengenal nilai sejarah Situs Arca Domas sebagai peninggalan masa prasejarah maupun untuk melakukan kegiatan yang bersifat spiritual, seperti silaturahmi kepada leluhur atau napak tilas tradisi.[1]