Antasida secara langsung akan menetralkan keasaman, meningkatkan pH, atau secara reversibel mengurangi atau menghalangi sekresi asam lambung oleh sel untuk mengurangi keasaman di lambung.[4]
Antasida yang diminum untuk meredakan sakit maag, gejala utama penyakit refluks gastroesofagus, ataupun gangguan asam pencernaan. Pengobatan dengan antasida dan hanya ditujukan untuk gejala ringan saja.[7] Pengobatan ulkus akibat keasaman yang berlebihan mungkin memerlukan antagonis H2 atau penghambat pompa proton untuk menghambat asam, dan mengurangi iritasi lambung.[7]
Efek samping
Efek samping yang terjadi ada seseorang bisa bervariasi.[8] Efek samping yang umumnya terjadi adalah sembelit, diare, dan kentut terus-menerus.[9]:Table 2
Penggunaan berlebihan dari antasid dapat menyebabkan acid rebound, yaitu peningkatan produksi asam lambung, sehingga memperparah sakit maag.[10][11]
Berkurangnya keasaman perut dapat menyebabkan mengurangi kemampuan untuk mencerna dan menyerap nutrisi tertentu, seperti zat besi dan vitamin B. Kadar pH yang rendah di lambung biasanya membunuh bakteri yang tertelan, tetapi antasida meningkatkan kerentanan terhadap infeksi karena kadar pH-nya naik. Hal ini juga bisa mengakibatkan berkurangnya kemampuan biologis dari beberapa obat. Misalnya, ketersediaan hayati ketokonazol (anti jamur) berkurang pada pH lambung yang tinggi (kandungan asam rendah).[2]
Peningkatan pH dapat mengubah kemampuan biologis obat lain, seperti tetrasiklin dan amfetamin. Ekskresi obat-obatan tertentu juga dapat terpengaruh. Perpaduan tetrasiklin dengan aluminium hidroksida dapat menyebabkan mual, muntah, dan ekskresi fosfat, sehingga kekurangan fosfat.[2]
Formulasi
Antasida dapat diformulasikan dengan bahan aktif lain seperti simetikon untuk mengendalikan perut kembung, atau asam alginat untuk bertindak sebagai penghalang fisik terhadap asam.[12]
Cair
Sebotol antasida cair yang mengandung bismut subsalisilat sebagai bahan aktifnya
Beberapa sediaan antasida cair telah dipasarkan. Sediaan cair yang umum meliputi magnesium hidroksida dan kombinasi magnesium/aluminium. Salah satu keunggulan potensial dari penggunaan sediaan cair dibandingkan tablet adalah bahwa cairan dapat memberikan kelegaan yang lebih cepat, meskipun hal ini mungkin disertai dengan durasi kerja yang lebih pendek.[13]
Tablet
Tablet kunyah
Tablet kunyah adalah salah satu bentuk antasida yang paling umum, biasanya dibuat dari garam karbonat atau hidroksida, dan tersedia secara bebas tanpa resep. Saat mencapai lambung, garam antasida berbentuk bubuk ini berikatan dengan ion hidronium (H+), menghasilkan garam klorida, karbon dioksida, dan air. Proses ini menurunkan konsentrasi ion H+ di lambung, sehingga menaikkan pH dan menetralkan asam.[9]:Gambar 1 Garam karbonat yang umum tersedia dalam bentuk tablet meliputi garam kalsium, magnesium, aluminium, dan natrium.[14]
12Internal Clinical Guidelines Team. (UK) (2014). Dyspepsia and Gastro-Oesophageal Reflux Disease: Investigation and Management of Dyspepsia, Symptoms Suggestive of Gastro-Oesophageal Reflux Disease, or Both. National Institute for Health and Care Excellence: Clinical Guidelines. London: National Institute for Health and Care Excellence (UK). PMID25340236.
12345Salisbury BH, Terrell JM (2020). "Antacids". StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. PMID30252305. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2021. Diakses tanggal 24 November 2020.
↑McColl KE (October 2011). "The elegance of the gastric mucosal barrier: designed by nature for nature". Gut. 61 (6): 787–788. doi:10.1136/gutjnl-2011-301612. PMID22147513.
↑Texter EC (February 1989). "A critical look at the clinical use of antacids in acid-peptic disease and gastric acid rebound". The American Journal of Gastroenterology. 84 (2): 97–108. PMID2644821.
↑Thompson WG (12 September 2014). "Antacids". IFFGD Publication #520. International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders, Inc. (IFFGD). Diarsipkan dari asli tanggal 6 May 2016.
↑Dubogrey I (2013). "Putting the Fizz into Formulation". European Pharmaceutical Contractor. No.Autumn. Diarsipkan dari asli tanggal 28 August 2021. Diakses tanggal 17 April 2017.
↑"Tablets". British Pharmacopeia. 2003. Diarsipkan dari asli tanggal 3 January 2013.