Amīn al-Dīn Mohammad bin Ali bin Masūd Balyānī Kāzerūnī (sekitar 1269 – sekitar 1345; Persia: امینالدین محمد بن علی بن مسعود بلیانی کازرونی), yang lebih dikenal dengan nama pena Amīn al-Din (امینالدین) dan Syekh Amīn al-Din Balyani (شیخ امینالدین بلیانی), adalah seorang sufi, mistikus, dan penyair pada abad ke-7 dan ke-8 Hijriah. Menurut beberapa riwayat, ia juga pernah menjabat sebagai Syekh al-Islām di Fars pada masa pemerintahan Dinasti Inju. Amīn al-Din merupakan salah satu tokoh tarekat Suhrawardiyah serta termasuk pengikut Abu Ishaq dari Kazerun.
Kehidupan awal
Amīn al-Din Mohammad lahir pada tahun 1269 di desa Balyan, yang kini terletak sekitar 6 kilometer dari Kota Kazerun.[1] Ayahnya bernama Zain al-Din Ali, seorang sufi Kazerun dan keturunan Abu Ali Daqaq.[2] Ibunya adalah putri dari Zahid Ezzollah Kazeruni, yang juga dianggap sebagai salah satu tokoh mistik Kazerun.
Paman Amīn al-Din, Syekh Abdollah Balyani, adalah seorang sufi terkenal pada abad ke-7 Hijriah dan pendiri tarekat Balyaniyah. Putri sang paman, Bibi Nosrat Khatoon, menikah dengan Amīn al-Din. Saudaranya bernama Imam al-Din Mohammad, yang kemudian menggantikannya setelah wafatnya Amīn al-Din.[3] Amīn al-Din juga memiliki seorang putra bernama Moheb al-Din Mohammad.[4] Saeed al-Din Kazeruni, sepupunya, juga merupakan seorang penulis biografi terkenal.
Pendidikan
Amīn al-Din mempelajari Al-Qur’an dari Syekh al-Islām Nur al-Din pada usia muda, kemudian belajar di bawah bimbingan Abu Saeed.[5] Ia mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dari ayahnya, fikih dari Othman Kahafi, dan ilmu hadis dari Rashid al-Din Ahmad Kazeruni. Di antara gurunya yang lain adalah pamannya sendiri, Syekh Abdollah Balyani. Ia juga diduga pernah melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu.
Meskipun Amīn al-Din merupakan pengikut setia Syekh Abu Ishaq dari Kazerun dan tarekat Kazeruniyah serta membangun banyak bangunan atas namanya di Kazerun, ia tetap dianggap sebagai salah satu tokoh mistik dari tarekat Suhrawardiyah.[6]
Karya
Di antara karya-karyanya terdapat Diwan puisi yang ditulis di pinggiran manuskrip Kulliyat Saadi, di mana sang syekh menggunakan nama pena Amin dan kadang-kadang Amin Balyani.[7]Badayat al-Zakerin,[8]Tarbiat-Nameha,[9]Jame al-Daavat le Ahl al-Khalavat,[10] dan Waqfnameh juga merupakan karya-karyanya yang lain.[11]
Referensi
↑Mahmud bin Othman: Meftah al-Hedayat va Mesbah al-Enayat, effort by Emaduddin Sheikholhokamaei, Tehran, 1997, The first volume, p. 64