Karier
Masa junior
Pada tahun 2011, Popyrin menorehkan prestasi awal dengan memenangkan Australian Under-12 Grasscourt Championships. Bersama Chase Ferguson, ia juga meraih gelar juara ganda clay nasional U12. Pada tahun yang sama, ia berkompetisi di sirkuit Tennis Europe U12, meraih kemenangan di Stork International di Swiss, Torneo U12 – Porto San Giorgio, dan Torneo Città di Padova di Italia. Ia mencapai semifinal di Eddie Herr International dan Passagespoirs di Prancis, serta menjadi finalis di turnamen bergengsi Campionati Internazionali BNL d’Italia U12 di Roma.
Pada 2013, ia beralih ke sirkuit ITF Junior. Terobosan terbesar datang pada 2017 ketika ia mencapai semifinal ganda junior Australia Terbuka, sebelum mencatatkan rekor 22 kemenangan berturut-turut. Rentetan kemenangan tersebut termasuk trofi di Mediterranee Avenir di Maroko, Trofeo Bonfiglio di Milan, dan gelar tunggal putra Prancis Terbuka.[2] Ia juga meraih gelar ITF Futures pertamanya di Polandia. Dengan peringkat tertinggi No. 2 di level junior, ia memilih untuk fokus pada tur profesional daripada mengejar posisi teratas di level junior.
2013–2018: Tahun Awal Karier Profesional
Popyrin mulai berkompetisi di turnamen profesional pada usia 14 tahun, meskipun penampilannya awal berakhir dengan kekalahan di babak kualifikasi. Pengalaman ATP pertamanya yang menonjol terjadi pada 2016, saat ia mendapatkan wildcard untuk berpartisipasi di Canberra Challenger, di mana ia kalah dari Diego Schwartzman. Tahun berikutnya, ia meraih gelar Futures pertamanya di Polandia, yang membawanya masuk ke peringkat 1000 besar.
Pada 2018, kemajuan konsistennya membuahkan hasil. Ia lolos ke babak utama ATP untuk pertama kalinya di Sydney International dan debut di kompetisi Grand Slam di Australia Terbuka. Pada tahun yang sama, ia memenangkan gelar Challenger pertamanya di Jinan, China, dan mencatat kemenangan pertamanya di babak utama Tur ATP di Basel.[3][4] Ia menutup tahun dengan peringkat No. 147, sebuah kenaikan pesat dari No. 622 pada Januari.
2019–2020: Kejutan Grand Slam dan 100 Besar
Musim 2019 menandai kehadirannya. Wildcard di tanah kelahirannya membawanya meraih kemenangan Grand Slam pertamanya di Australia Terbuka melawan Mischa Zverev, diikuti dengan hampir mengalahkan Lucas Pouille di babak ketiga. Dia juga meraih kemenangan di Roland Garros dan Wimbledon, serta mencapai babak ketiga AS Terbuka sebelum dikalahkan oleh Matteo Berrettini.[5] Pada tahun itu, dia menyamai rekor dengan lolos ke 10 turnamen ATP. Dia menutup 2019 di peringkat 97 dalam 100 besar, dan berakhir di peringkat 113 pada 2020.
2021: Gelar ATP Pertama
Popyrin membuka tahun 2021 dengan kejutan lain di Australia Terbuka, menyelamatkan poin pertandingan untuk mengalahkan David Goffin.[6] Terobosan besarnya datang beberapa minggu kemudian di Singapore Open, di mana ia mengalahkan Marin Čilić dan Alexander Bublik untuk meraih gelar Tur ATP pertamanya.[7] Ia juga mencatatkan penampilan menonjol di putaran ketiga AS Terbuka, termasuk kemenangan atas Grigor Dimitrov.[8] Ia menutup tahun di peringkat tertinggi kariernya, No. 61.
2022: Kesulitan tetapi Sukses di Challenger
Pada 2022, ketidakstabilan mengganggu permainannya di level tur. Ia kalah di babak awal di beberapa turnamen ATP dan tersingkir di Australia Terbuka dalam lima set. Namun, ada sorotan—ia masuk ke Kejuaraan Tenis Dubai sebagai lucky loser dan mengejutkan Nikoloz Basilashvili. Yang lebih penting, ia meraih gelar Challenger keduanya di Bordeaux.[9]
2023: Kejutan dan Gelar Kedua
Musim 2023 Popyrin dimulai dengan gemilang setelah mengalahkan petenis peringkat 6 dunia Félix Auger-Aliassime di Adelaide International. Di Australia Terbuka, ia mengejutkan petenis peringkat 9 dunia Taylor Fritz dalam perjalanannya menuju babak ketiga.[10] Terobosan terbesar Popyrin terjadi di Italia Terbuka, di mana ia mencapai babak keempat setelah mengalahkan Auger-Aliassime, yang saat itu berada di peringkat 10 besar. Di akhir tahun, ia meraih gelar ATP keduanya di Croatia Open Umag dengan mengalahkan Stan Wawrinka di final.[11] Di Cincinnati, ia melaju ke perempat final Masters 1000 pertamanya, yang mengantarkannya masuk ke peringkat 40 besar. Pada akhir musim, Popyrin mewakili Australia di Final Piala Davis, bermain dalam pertandingan final melawan Italia. Ia kalah dalam pertandingan tunggalnya melawan Matteo Arnaldi, tetapi sebelumnya telah berkontribusi dalam kampanye tersebut dengan mengalahkan Otto Virtanen dari Finlandia di babak semifinal, membantu Australia mencapai final untuk tahun kedua berturut-turut.[12]
2024: Juara Masters 1000 dan Debut Olimpiade
Musim 2024 menjadi titik balik kariernya. Setelah hasil awal yang solid, termasuk semifinal di Qatar ExxonMobil Open dan kemenangan atas Andrey Rublev di Monte-Carlo Masters, Popyrin debut di Olimpiade Paris, mencapai babak ketiga. Momen puncaknya terjadi di Montreal, di mana ia mengalahkan beberapa pemain top-20—termasuk Hubert Hurkacz, Grigor Dimitrov, dan Rublev—untuk memenangkan Canadian Open.[13] Kemenangan ini mengangkatnya ke peringkat 25 besar. Ia kemudian mencapai babak keempat AS Terbuka dengan kemenangan bersejarah atas Novak Djokovic, menjadi petenis Australia pertama sejak 2006 yang mengalahkannya di turnamen Grand Slam.[14]
2025: Konsistensi di Level Masters
Meskipun 2025 dimulai dengan tidak mulus akibat kekalahan awal di Brisbane, Melbourne, dan Rotterdam, Popyrin segera menemukan ritme permainannya di lapangan tanah liat. Di Monte Carlo, ia melaju ke perempat final Masters 1000 ketiganya, mengalahkan petenis peringkat 7 dunia Casper Ruud sebelum kalah dari Alejandro Davidovich Fokina.[15] Ia melanjutkan performa kuatnya di Roland Garros, di mana ia mencapai putaran keempat Grand Slam untuk kedua kalinya dalam kariernya.[16]
Di lapangan rumput, hasil Popyrin relatif biasa-biasa saja. Ia meraih satu kemenangan di Kejuaraan Queen's Club tetapi mengalami kekalahan di babak pertama Wimbledon melawan wildcard Inggris Arthur Fery dalam empat set. Kembalinya ia ke lapangan keras lebih menjanjikan. Sebagai juara bertahan di Kanada Terbuka di Toronto, ia mengalahkan Daniil Medvedev dan Holger Rune untuk mencapai perempatfinal Masters keempat dalam kariernya, di mana ia memaksa Alexander Zverev bermain hingga tiga set.[17]
Setelah Toronto, ia berkompetisi di Cincinnati Masters tetapi kalah di babak kedua dari Andrey Rublev.[18] Di AS Terbuka, ia melaju ke babak ketiga, mencatat kemenangan atas Jordan Thompson dan Francisco Cerúndolo sebelum kalah dalam dua set langsung dari petenis peringkat 4 dunia Jannik Sinner.[19]