Fokus karya membicarakan bidang keilmuan pada Filsafat,[3]Sejarah Islam Awal,[4] Sosiologi Masyarakat Muslim, Keragaman,[5][6] Multikulturalisme, Studi Minoritas (seperti Lia Eden,[7] Gafatar, Mushaddeq),[8] Agama-agama Asli Indonesia (Samin, Parmalim, Masade, Sumarah, Sumarah Purbo, Pangetu, Subud dan lain-lain), Dialog Antar Iman, dan Studi Gerakan Keagamaan Baru (NRM/New Religious Movement).[9] Buku tentang keragaman memiliki resensi di berbagai media. Isi menawarkan konsep keragaman dalam Sejarah Islam dan Indonesia.[10] Buku sajian yang lain juga mengenalkan fenomena kenabian dan kemunculan para nabi di Indonesia. Belakangan para "nabi" muncul di Nusantara dari era kolonial hingga Reformasi.[11] Banyak artikel berbicara tentang keragaman, politik, budaya, filsafat, tafsir, dan sejarah. Pidato pengukuhan Al Makin dimuat berbagai media pada persoalan kritik bombastis pada strukturalisasi Birokrasi dan Administrasi. Masalah klasik pada peran dan kerja birokrasi kampus yang dibebankan pada ilmuan Indonesia mengandung sebab-sebab keterpenjaraan administrasi.[12][12][13][14][15][16][17]
Selain sebagai Guru Besar, Al Makin juga aktif sebagai pelukis dan banyak terlibat aktif dalam pameran-pameran lukisan. Al Makin selama menjadi rektor sering mengadakan pameran lukisan. Dia juga menyelenggarakan pameran tunggal.[18][19][20][21]
Penelitian dan Pemikiran
Al Makin dalam tesis MA-nya di McGill University meneliti tentang tafsir Qur'an Sayyid Qutb Fi Zilal al-Quran, seorang ahli tafsir dari Mesir. Dia menemukan pola refleksi autobiografi (diri sendiri) sang penafsir dalam memberi makna Kitab Suci. Perjalanan politik dan sosial Sayyid Qutb yang keras dan pengalaman pahit menghadapi penguasa politik dan penderitaan hidup tergambar dalam karya tafsir tersebut.[22] Pada disertasi Dr. phil di Heidelberg University, Al Makin meneliti tentang kemunculan Islam dan situasi Jazirah Arab abad tujuh Masehi. Makin mengangkat para "nabi" dan kelompok-kelompok keagamaan yang gagal bertahan sebagai komunitas dan agama. Dalam hal ini, dia mempelajari Musaylima yang dikenal dengan sebutan sang pembohong, al-kadzdzab.[23]
Setelah menyelesaikan program doktoral, Al Makin melanjutkan penelitian tentang tokoh kenabian lain di abad tujuh di Arab, seperti Umayyah b. Abi Salt. Dia membaca syair-syair tokoh ini. Setelah itu, Makin meneliti fenomena kenabian dan Gerakan Keagamaan Baru (NRM/New Religious Movement) di Indonesia, seperti Lia Eden dengan kelompoknya Salamullah, Mushaddeq dengan kelompoknya Qiyadah Islamiyah, Komar dan Gafatar, Hartati di Pekalongan, dan berbagai nabi-nabi dan kelompok lain di Indonesia. Berkait dengan kemunculan nabi-nabi Indonesia, Makin juga mengamati interaksi negara, agama, dan masyarakat di alam demokrasi terbuka pasca-Reformasi.[24] Al Makin telah meneliti dan menulis tentang berbagai tema berkait dengan sejarah, filsafat, keragaman, multikulturalisme, nasionalisme, sekularisasi dan demokrasi.
Pemikiran di Publik dan Media
Sejak tahun 2006 sampai 2016 Al Makin menulis kolom opini secara rutin di koran The Jakarta Post. Dalam tulisan-tulisannya, ia mengetengahkan berbagai isu di negeri ini yang menyangkut agama, politik, budaya, dan kritik sosial. Berbagai pandangan baru bertumpu pada isu keragaman, minoritas, cinta tanah air, dan isu-isu global. Tanggapan warga Muslim Indonesia terhadap pidato Paus Benedict XVI tahun 2006 di Regensburg Jerman misalnya menjadi perhatian, begitu juga praktik ibadah puasa dan tradisi Ramadan di Indonesia, hal ini menyiratkan relasi antara agama dan kapitalisme global. Islam dan dunia Barat juga menjadi bahasan, begitu juga perkembangan politik mutakhir, dan bagaimana pandangan kritis terhadap masyarakat Muslim pada umumnya: persoalan teologi, praktik keagamaan, pandangan hidup, dan lain-lain. Kumpulan artikel itu dibukukan dalam Plurality, Religiosity, and Patriotism.[25][26][27]
Selain menulis opini, Al Makin juga diwawancarai berbagai media tentang kemunculan para nabi-nabi di Nusantara di tengah masyarakat mayoritas Muslim dan bagaimana pemerintah merespon fenomena ini.[28] Menurut penelitiannya, Indonesia tidak akan sepi dari kemunculan dari orang-orang yang mengklaim diri menerima pesan Tuhan, atau nabi-nabi. Kenabian merupakan tradisi Indonesia sejak lama, dan setiap gerakan sosial di tanah air selalu disertai kemunculan kenabian dan komunitas baru yang dilegitimasi dengan wahyu, atau komunikasi dengan Tuhan.[29]
Dalam wawancara seputar pendidikan dan keragaman, Al Makin mengusulkan pendidikan keragaman bagi warga Indonesia sejak dini tentang budaya, tradisi dan iman yang berbeda. Selama ini pendidikan di Indonesia, dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan tradisi iman sendiri-sendiri, tanpa mengenal tradisi, adat, dan iman yang berbeda. Al Makin mengusulkan pengenalan dan pengalaman, paling tidak dalam pertemanan dengan budaya lain sejak dini.[30]
Buku-buku Al Makin juga dibedah di berbagai forum terutama menyangkut keragaman dan tradisi keagamaan di Indonesia. Sejak tahun 2019 beberapa opini Al Makin diterbitkan di Kompas tentang makna keberagaman masyarakat Indonesia, sebagai tafsir atas simbol Bhinneka Tunggal Ika. Isu seputar penafsiran baru Pancasila juga disinggung.[31][32][33] Tulisan opini Al Makin banyak dimuat media-media Indonesia dan bisa dijumpai di Kompas,[34] Republik Merdeka Online (RMOL),[35] dan Sindonews.[36]
Peneliti tamu, CSEAS (Center for Southeast Asian Studies), Kyoto University, Jepang, Mei-Juli 2025.[37]
Peneliti di the Hong Kong Institute for the Humanities and Social Sciences (University of Hong Kong); Dali University (Yunnan, China), the Asian Centre for Cross-Cultural Studies (Chennai, India); and the Indonesian Consortium for Religious Studies (Yogyakarta, Indonesia), 2017-2020.
Peneliti tamu di the Religion and Society Research Center of the University of Western Sydney Australia, 2014.[38]
Peneliti tamu di the Seminar für Sprachen und Kulturen des Vorderen Orients, Ruprecht-Karls- Universität, Heidelberg, Germany, 2014.
Dosen tamu di ESSEC, Asia Pacific, French Business School in Singapore, on the theme “Asian Culture and Society, the Case of Indonesian Islam,” 2012.
Peneliti tamu di The International Consortium for Research in The Humanities “the Dynamics in the History of Religions between Asia and Europe” (IKGF), Ruhr University, Bochum, Germany, 2009-2010.[39]
Peneliti tamu di Jurusan Filsafat, McGill University, Montreal, Canada, 2008-2009.
Karya Buku
Haji Ibadah Haji Ilmiah Mencari Makna Antar Imam Tentang Tawaf, Sai, Jamarat dan Tempat - Tempat Suci. Yogyakarta, Suka Press, 2023.[40]
Momong Kampus, Merekatkan Umat dan Membangun Bangsa Kumpulan Pidato Rektor UIN Sunan Kalijaga Rentang 2020-2021. Yogyakarta, Suka Press, 2022.[41]
Membela yang Lemah demi Bangsa dan Ilmu, Keragaman, Minoritas, Khilafah, Kapitalisme Agama, dan Mazhab Yogya. Yogyakarta, Suka Press, 2019.
Plurality, Theology, Patriotism: Critical Insights into Indonesia and Islam. Yogyakarta and Geneva, Switzerland: Suka Press and Globe Ethics, 2017.
Challenging Islamic Orthodoxy, the Accounts of Lia Eden and Other Prophets in Indonesia. Dordrecht: Springer, 2016.[42]
Representing the Enemy: Musaylima in Muslim Literature, Frankfurt, Bern, Oxford, New York, Peter Lang, 2010.[43]
Nabi-Nabi Nusantara: Kisah Lia Eden dan lainnya. Yogyakarta, Suka Press, 2017.
Keragaman dan Perbedaan: Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia. Yogyakarta: Suka Press, 2016.[44]
Antara Barat dan Timur: Melampui Jurang Masa Lalu untuk Meniti Jembatan Penghubung Barat dan Timur. Jakarta: Serambi (2015). Yogyakarta: Suka Press (2015/2016)[45]
Bunuh Sang Nabi: Kebenaran di Balik Pertarungan Setan Melawan Malaikat." Jakarta: Hikmah, Mizan, 2006.[46]
Nabi Palsu, Membuka Kembali Pintu Kenabian. Yogyakarta/Indonesia: Ar-Ruzz, 2003.
Anti-Kesempurnaan, Membaca, Melihat dan Bertutur tentang Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
↑Gonzaga, Western Sydney University-John H. "Visiting Scholars". www.westernsydney.edu.au (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-11-02.
↑CERES, Centrum für Religionswissenschaftliche Studien. "Dr. Al Makin". ceres.rub.de (dalam bahasa Jerman). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-10-29. Diakses tanggal 2019-11-02.