Artikel ini membutuhkan penyuntingan lebih lanjut mengenai tata bahasa, gaya penulisan, hubungan antarparagraf, nada penulisan, atau ejaan. Anda dapat membantu untuk menyuntingnya.
Aji Kado melakukan kudeta terhadap Kesultanan Kutai Kartanegara setelah Sultan Aji Muhammad Idris gugur di tanah Wajo, Sulawesi Selatan. Aji Kado mengangkat dirinya sebagai Sultan dengan gelar Aji Muhammad Aliyeddin. Karena bukan pewaris tahta yang sah, A.M. Aliyeddin hingga saat ini tidak dianggap/diakui sebagai Sultan Kutai ke-15 oleh Kesultanan Kutai. Aji Kado dihukum mati di pulau jembayan dikarenakan kejahatan yang tidak terampuni.
Keturunan
Beristerikan Andi Riajang gelar Aji Putri Agung Binti Andi Petta To Sibengareng Bin La Madukkelleng, melahirkan:
1. Aji Talo Gelar Aji Raden Dipati menjadi Adipati di Jelau Wilayah Muara Pahu yang putrinya dikawinkan dengan anak Sultan Sulu Kebuntalan di Filifina bernama Datu Muharam gelar Datu Panglima Besar Bin Sultan Jamal ul-Kiram I Bin Sultan Alimuddin III Bin Sultan Sharifuddin Bin Sultan Azimuddin I Bin Sultan Badaruddin I Bin Sultan Salahuddin Karamat Bin Sultan Muwallil Wasit Bungsu Pengiran Shahbandar Maharaja Lela Dari Sulu Bin Sultan Muhammad Hasan Dari Brunei Bin Sultan Saiful Rijal Dari Brunei Bin Sultan Bolkiah Dari Brunei Bin Sultan Sulaiman Dari Brunei Bin Sultan Sharif Ali Dari Brunei. Melahirkan anak diantaranya:
Datu Muhammad
Datin Rimba
Datin Belukar atau Aji Meretam gelar Aji Ratu Agung Adiningrat, Ratu Mahtoer atau Permaisuri ke 4 Sultan Aji Muhammad Sulaiman
Datin Suyah atau Aji Suyah (Kampung Jawa) menikah dengan Lembang asal dari Bongan mempunyai 2 orang anak diantaranya: Abdul Rachman dan Abdul Rachim.
2. Aji Tobok gelar Aji Ratu Agung diperisteri Syaid Abdurahman Assegaf gelar Pangeran Ratu Sjarif Sukma Wira dari Palembang. Mereka tidak mempunyai keturunan tetapi dengan isterinya yang lain dia melahirkan putri yang kawin dengan Syaid Jakpar Baraqbah Bin Syaid Achmad Baraqbah dari Palembang, melahirkan Syaid Hamid Baraqbah gelar Pangeran Syarif Sukma Wira.