Memiliki motivasi besar menekuni Aksara Ulu setelah berjumpa Sarwit Sarwono, Universitas Bengkulu) pada forum MANASSA di Bogor pada tahun 1996 lalu berkenalan dengan Sejarawan Kota Lubuk Linggau, Suwandi Syam. Naskah beraksara Ulu yang pertama kali dibaca diberi nama “Gelumpay Nabi Muhammad”, Koleksi Museum Balaputra Dewa. Naskah berupa 14 buah bilah bambu, beraksara ulu tetapi berbahasa Jawa. Hasil kajian ini diterbitkan pada tahun 2005 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan. Selanjutnya naskah gelondongan bambo Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, terbit Tahun 2007 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.
Berkat upaya melakukan penelitian pada manuskrip berbahan kulit kayu (kaghas), bilah-bilah bambu (gelumpay), gelondongan bambu (surat buluh), dan (prasasti) tanduk kerbau, Rapanie diundang oleh Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) dan menyampaikan kertas kerja berjudul “Surat Ulu: Tradisi Tulis Sumatra Selatan” pada forum International Workshop on Endangered Scripts of Southeast Asia Tahun 2014. Setahun sebelumnya (2013) Rapanie diminta oleh Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Prof. Dr. H. J. Suyuthi Pulungan, untuk mengajarkan Aksara Ulu untuk pertama kalinya. Rapanie memiliki andil sebagai pengkaji dalam menjadikan Surat Ulu mendapat sertifikat Warisan Budaya Tak-Benda (WBTB). Rapanie juga menjadi pembina komunitas Pencinta Aksara Ulu Sumatera Selatan. Hingga kini masih aktif memberikan pelatihan aksara ulu.
Keluarga
Ahmad Rapanie Igama lahir di Palembang pada Tanggal 23 Maret 1964 dari ayah: Makmun Tachta Igama dan Ibu: Rukoyah, berasal dari Suku Komering dari Desa Campangtiga dan Kuripan, Kecamatn Cempaka, Ogan Kemering Ulu Timur, Sumatera Selatan, Indonesia. Beristri Dian Susilastri, peneliti BRIN, dan memiliki tiga orang anak yakni Ardian Kurniaji Pradipta (alm.), Tyasto Prima Ahmadi, dan Tyastri Suryaninda.