Mura tanah tembaga(Agkistrodon contortrix) atau[3][4] atau Ular kepala tembaga[5] adalah spesies ular berbisa yang tersebar luas dan endemik di wilayah timur Amerika Utara, termasuk dalam subfamili Crotalinae dari famili Viperidae.[6] Sebagai salah satu spesies yang umum di daerah persebarannya, ular ini cukup sering ditemui manusia. Berbeda dari kebanyakan ular berbisa lainnya, spesies ini cenderung diam ketika terganggu, mengandalkan kemampuan kamuflase alaminya daripada melarikan diri.[7] Akibat perilaku tersebut, gigitan biasanya terjadi ketika seseorang secara tidak sengaja menginjak atau terlalu dekat dengannya.[8] Gigitan dari ular kepala tembaga ini menyumbang sekitar separuh dari seluruh kasus gigitan ular berbisa yang ditangani di Amerika Serikat.[9]
Deskripsi
Spesies dewasa umumnya memiliki panjang total antara 50 hingga 95cm, dengan beberapa individu dapat mencapai lebih dari 1 meter meskipun hal itu jarang terjadi.[10] Jantan biasanya memiliki panjang antara 74 hingga 76cm dan berat sekitar 100 hingga 340 gram, dengan rata-rata sekitar 197 gram.[11] Betina umumnya berukuran lebih kecil, dengan panjang berkisar antara 60 hingga 66cm dan berat rata-rata sekitar 120 gram.[12][13] Panjang maksimum yang tercatat untuk spesies ini mencapai sekitar 134cm pada subspesies A. c. mokasen, sedangkan A. c. contortrix dilaporkan memiliki panjang maksimum sekitar 132cm.[14]
Menurut Daftar Merah IUCN (versi 3.1, 2001), Agkistrodon contortrix dikategorikan sebagai spesies dengan status perhatian paling kecil,[1] yang menunjukkan bahwa populasinya tidak menghadapi ancaman kepunahan dalam waktu dekat. Penilaian tahun 2007 juga mencatat bahwa tren populasinya tetap stabil.[16]
↑Moriarty, John J. (2017). Scientific and standard English names of amphibians and reptiles of North America north of Mexico with comments regarding confidence in our understanding. 8th ed. Society Study Amphibians and Reptles Herpetological Circular 43.
↑Allf, Bradley C.; Durst, Paul A. P.; Pfennig, David W. (October 2016). "Behavioral Plasticity and the Origins of Novelty: The Evolution of the Rattlesnake Rattle". The American Naturalist. 188 (4): 475–483. Bibcode:2016ANat..188..475A. doi:10.1086/688017. PMID27622880.
↑"Venomous Snakes". National Institute for Occupational Safety and Health. Retrieved on November 10, 2008.
↑Mullins, Michael E.; Freeman, William E. (September 2020). "Thromboelastometry (ROTEM) and thromboelastography (TEG) in copperhead snakebites: a case series". Clinical Toxicology. 58 (9): 931–934. doi:10.1080/15563650.2020.1713332. PMID31997668.
↑Schuett GW; Grober MS (2000). "Post-fight levels of plasma lactate and corticosterone in male copperheads, Agkistrodon contortrix (Serpentes, Viperidae): differences between winners and losers". Physiology & Behavior. 71 (3): 335–341. doi:10.1016/s0031-9384(00)00348-6. PMID11150566. S2CID10137506.
↑Palmer, William M.; Braswell, Alvin L. (1995). Reptiles of North Carolina. Chapel Hill and London: University of North Carolina Press. ISBN978-0807821589.
↑Stejneger, L (1895). The Poisonous Snakes of North America. Washington, District of Columbia: United States Government Printing Office.
↑Campbell JA, Lamar WW (2004). The Venomous Reptiles of the Western Hemisphere. Ithaca and London: Comstock Publishing Associates. ISBN0-8014-4141-2.
↑Novak, Megan V.; Crane, Derek P.; Bell, Lindsey; Keiner, Louis; Gatto, Caitlin R.; McNabb, Christian T.; Parker, Scott L. (14 February 2020). "Spatial Ecology of Eastern Copperheads in Fragmented and Unfragmented Habitats". Journal of Herpetology. 54 (1): 97. doi:10.1670/18-146.