Adrianus Sunarko, O.F.M. (lahir 7 Desember 1966) adalah UskupPangkal Pinang sejak terpilih pada 28 Juni 2017 menggantikan Mgr. Hilarius Moa Nurak, S.V.D. dan juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Sunarko menjalani pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang, sejak tahun 1982.[3] Setelah menyelesaikan studi di Seminari Mertoyudan, ia diterima sebagai anggota Fransiskan dan menjalani masa novisiat. Sunarko menjalani studi filsafat di STF Driyarkara, Jakarta.
Ia kembali melanjutkan studi teologi di Fakultas Kepausan Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, setelah menyelesaikan masa Tahun Orientasi Pastoral.[1]
Pada 1 November 2018, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyatakan Sunarko sebagai dinyatakan sebagai profesor melalui Surat Penetapan Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen.[7] Ia menjadi Guru Besar dalam bidang Ilmu Teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta pada Sabtu, 11 Mei 2019.[8][9][10]
Karya
Die Entwicklung des Offenbarungsverständnisses von Edward Schillebeeckx und dessen Konsequenzen für sein Kirchenverständnis (2002)
Gereja di tengah aneka budaya: belajar dari gereja perdana dalam Sinar Sabda dalam Prisma: Hermeneutika KontekstualISBN 979-21-1254-5 (2005)
Dialektika Sekularisasi: Diskusi Habermas-Ratzinger dan Tanggapan, bersama dengan Paulus Budi Kleden ISBN 978-979-25-4823-5 (2010)
Sunarko menjalani tugas perdana sebagai imam rekan di Paroki Hati Kudus, Kramat, Jakarta hingga tahun 1996.[2] Ia kembali menjalani masa studi, dengan mengambil doktoral teologi di Universitas Albert Ludwig, Freiburg, Jerman.[11]
Sejak tahun 2002, Sunarko menjadi dosen teologi di STF Driyarkara.[12] Pada tahun 2004 hingga 2007, Sunarko ditunjuk sebagai Definitor Provinsial OFM.[13] Setelahnya, ia ditunjuk sebagai Wakil Provinsial OFM Indonesia hingga 2009. Sunarko kemudian terpilih menjadi Minister Provinsial OFM Indonesia selama dua periode sejak tahun 2010.[11] Terpilihnya Sunarko menggantikan posisi Mgr. Paskalis Bruno Syukur, yang saat itu ditunjuk sebagai Anggota Definitor OFM di Roma.[12] Per 2014, Sunarko juga merupakan Ketua Konferensi Pemimpin Tarekat Religius Indonesia (KOPTARI).[14]
Sebagai seorang imam, Sunarko dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan saleh[2] sekaligus teolog yang cerdas.[12]
Pada awal sebelum tahbisannya, ia menekankan partisipasi umat dalam perkembangan Gereja dan bangsa Indonesia, serta pembangunan di Bangka Belitung dalam hal kerukunan hidup beragama, lingkungan hidup, dan ekonomi.[20] Pada saat kedatangannya untuk mulai menetap di Pangkal Pinang, Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman menyambutnya dan mengharapkan kehadiran Mgr. Sunarko sebagai motivasi umat dalam pembangunan Bangka Belitung.[21] Ia juga menyatakan bahwa program Komunitas Basis Gerejawi (KBG) akan diteruskan sebagai fokus Keuskupan. Ia juga meneruskan apa yang telah ditetapkan dalam Sinode Keuskupan hingga tahun 2020, seraya melakukan evaluasi tahunan.[22]
Mgr. Sunarko memilih "Lætentur insulæ multæ", kutipan dari Mazmur 97:1 yang berarti "Biarlah banyak pulau bersukacita" sebagai moto episkopalnya. Moto ini diambil sebagai inspirasi dari kondisi Keuskupan Pangkalpinang yang terdiri dari banyak pulau. Ia menekankan bahwa sukacita yang dimaksud dalam kutipan itu, hanya bila Allah meraja di dalam hati mereka.[23]
Pada 13 November 2025, Mgr Adrianus Sunarko menempati posisi sebagai Sekretaris Jendral Konferensi Waligereja Indonesia di kepengurusan terbaru.