Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam (bahasa Arab:عبد الرحمن إبن معاوية إبن هشامcode: ar is deprecated ; 7 Maret 731–30 September 788), juga dikenal sebagai Abdurrahman I atau Abdurrahman ad-Dakhil, adalah pendiri Dinasti Umayyah yang menguasai sebagian besar Semenanjung Iberia di al-Andalus selama hampir tiga abad (termasuk Kekhalifahan Kordoba berikutnya). Pemerintahannya di Iberia memisahkan Umayyah dengan Kekhalifahan Abbasiyah, yang sebelumnya telah menumbangkan Bani Umayyah di Damaskus pada tahun 750. Dia juga dikenal dengan gelar al-Dakhil (terj. har.'Sang Imigran'),[2] dan Saqr Quraisy (terj. har.'Elang Quraisy').[3]
Kekhalifahan Umayyah mengalami keruntuhan pada tahun 750 M setelah pasukan Dinasti Abbasiyah menguasainya.[5] Dinasti Abbasiyah kemudian berkuasa menggantikan Dinasti Umayyah dan mendirikan Kekhalifahan Abbasiyah. Khalifah pertamanya adalah As-Saffah. Kebijakan As-Saffah yang paling awal adalah menghilangkan kekuasaan dari keturunan Dinasti Umayyah dengan mengutus Abdullah bin Ali untuk mencari dan membunuh mereka. Dalam pencarian ini, Abdurrahman ad-Dakhil berhasil selamat dengan pergi ke Andalusia.[6]
Abdurrahman ad-Dakhil tiba di Andalusia pada tahun 755 M. Di Andalusia masih banyak umat muslim yang setia dengan Kekhalifahan Umayyah.[7] Pada tahun 756 M, Abdurrahman ad-Dakhil akhirnya melanjutkan kembali kekuasaan Dinasti Umayyah di Spanyol. Kekuasaan baru ini bernama Keamiran Kordoba.[8] Wilayah kekuasaannya meliputi Andalusia dengan pusat pemerintahan di Kordoba.[9] Gelar kekuasaan yang digunakan oleh para penguasanya adalah amir.[10] Abdurrahman memperoleh gelar ad-Dakhil setelah menjadi amir pertama. Gelar ini berarti yang memasuki dan ditujukan bagi kedatangannya ke Spanyol. Sebutan lain yang disematkan kepadanya adalah Abdurrahman I.[11]
Abdurrahman ad-Dakhil memerintah Keamiran Kordoba sejak tahun 756 hingga 788 M. Selama masa kekuasaannya, Abdurrahman ad-Dakhil membangun peradaban Islam di Spanyol. Pada masa pemerintahannya, Masjid Kordoba dan sekolah-sekolah besar didirikan di Spanyol.[11]
↑Handoko, M. Dini (2018). Wildaniati, Yunita (ed.). I'm Moslem(PDF) (dalam bahasa Inggris). Kota Metro: CV. Iqro. hlm.8. ISBN978-602-5533-06-8. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-04-01. Diakses tanggal 2023-04-01.
↑Zubaidah, Siti (Oktober 2016). Daulay, Nurika Khalila (ed.). Sejarah Peradaban islam. Medan: Perdana Publishing. hlm.87. ISBN978-602-6462-15-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-01. Diakses tanggal 2023-04-01.
↑Hamzani, A. I., dan Aravik, H. (Januari 2021). Khasanah, Nur (ed.). Politik Islam: Sejarah dan Pemikiran(PDF). Pekalongan: PT. Nasya Expanding Management. hlm.100–101. ISBN978-623-6906-37-8. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-04-04. Diakses tanggal 2023-04-01.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
↑Abdullah, Rachmad (Desember 2017). Tinta Emas Sejarah: Perseteruan Ahlul Haq Melawan Ahlul Bathil Sejak Nabi Adam hingga Abad 14 H. Solo: Al-Wafi Publishing. hlm.268. ISBN978-979-1093-48-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Shabir, Muslich (November 2019). Nurdin, Nazar (ed.). Sejarah Peradaban Islam. Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Press. hlm.121. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-01. Diakses tanggal 2023-04-01.