Abdullah bin Abi Aufa ( Arab: عبد الله بن أبي أوفا ) adalah salah seorang sahabatNabiMuhammad dan seorang perawi hadis. Ayahnya bernama Alqamah bin Khalid bin Harits bin Asid bin Rifa'ah bin Tsa'labah bin Hawazin bin Aslam al-Kufi.[1] Ia mengikuti Baiat Ridwan di tahun 6 H. Ia meriwayatkan 95 hadis, dengan 10 hadisnya diriwayatkan Bukhari Muslim. Ia termasuk sebagai ahli fikih. Keluarganya mendapatkan doa keberkahan dari Nabi Muhammad seperti ayahnya dan saudaranya Zaid bin Alqamah ketika ayahnya datang membayar zakat,"Ya Allah, limpahkanlah karunia pada keluarga Abu Aufa."[2]
Ia pun mengikuti berbagai pertempuran bersama Muhammad,[1] mendengar doa Muhammad untuk kehancuran pasukan Ahzab saat Pertempuran Khandaq,[3] juga mengikuti Perjanjian Hudaibiyah.[4] Saat Pertempuran Hunain pahanya terkena sabetan pedang.[2] Dalam beberapa ekspedisi lain ia pernah memakan belalang dengan Muhammad.
Ia meriwayatkan hadis bahwa Muhammad wafat mewasiatkan al-Quran,[5] juga hadis Nabi berwudlu mengusap rambut hanya sekali, cara bertayamum, bacaan I'tidal dan solat hajat.[6] Abdullah juga menjelaskan sebab turunnya Surat Ali Imran ayat 77 tentang sumpah palsu dalam berdagang, Surat al-Fathir ayat 35 tentang tidak adanya tidur di surga, juga surat al-Hujurat ayat 17 tentang orang yang merasa berjasa dengan keislaman mereka (kedatangan Thulaihah bin Khuwailid).[7]
Imam Abu Hanifah sempat berguru pada Abdullah.[8] Termasuk murid lainnya Ibrahim bin Muslim al-Hajari, Ibrahim bin Abdurrahman, Atha bin Saib, Abu Ishak asy-Syaibani, dan Sulaiman al-a'Masy. Semua Tabi'in Kufah berguru pada Abdullah bin Abi Aufa.[9]
Kematian
Abdullah kehilangan penglihatan di usia lanjut, termasuk sahabat yang paling akhir meninggal di Kufah pada tahun 86 H sampai di usia yang ke-100 tahun,[1] di masa Khalifah Walid bin Abdul Malik.