Ahia, anak Ahitub, saudara Ikabod, anak Pinehas, anak Eli, imam TUHAN di Silo, dialah yang memakai baju efod pada waktu itu.
Tetapi rakyat tidak tahu tentang perginya Yonatan itu.[4]
Ayat 6
Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: "Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang."[5]
Di ayat ini dinyatakan bahwa Yonatan dan orang Israel telah berhasil mengalahkan orang Filistin hanya karena Allah ada di pihak mereka. Mereka patah semangat, kalah jumlah, dan persenjataannya kurang memadai (1 Samuel 13:19–22), tanpa harapan sama sekali untuk menang, tetapi mereka menang karena "Tuhan menyelamatkan orang Israel pada hari itu" (1 Samuel 14:23). Ketika situasi tampaknya menentang dan sumber daya tampak kurang memadai, selaku anak-anak Allah orang-orang Kristen memiliki hak untuk berseru kepada-Nya mohon pertolongan di saat kita memerlukannya (Ibrani 4:16). Ia telah berjanji untuk menjadi "penolong dalam kesesakan" (Mazmur 46:2) dan menyalurkan kasih karunia bagi seluruh kebutuhan kita (2 Korintus 12:9).[6]
Anak-anak lelaki Saul ialah Yonatan, Yiswi dan Malkisua.[8]
Nama kedua anaknya yang perempuan: yang tertua bernama Merab, yang termuda bernama Mikhal.[8]
Panglima tentaranya bernama Abner, anak Ner, paman Saul.[7] (Kish, ayah Saul, dan Ner, ayah Abner, adalah anak-anak Abiel)[9]
Referensi
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857