ENSIKLOPEDIA
Cinta
Cinta mencakup berbagai keadaan emosional dan mental yang kuat dan positif, mulai dari kebajikan atau kebiasaan baik yang paling luhur, kasih sayang antarpribadi yang paling dalam, hingga kesenangan yang paling sederhana.[1] Salah satu contoh dari cakupan makna ini adalah bahwa cinta seorang ibu berbeda dari cinta seorang pasangan, yang juga berbeda dari cinta terhadap makanan. Paling sering, cinta merujuk pada perasaan daya tarik yang kuat dan kelekatan emosional.[2]
Cinta dianggap memiliki sisi positif dan negatif, dengan kebajikannya yang mewakili kebaikan manusia, belas kasih, dan kasih sayang—"kepedulian yang tidak mementingkan diri sendiri, setia, dan penuh kebajikan demi kebaikan orang lain"—dan keburukannya yang mewakili cacat moral manusia yang mirip dengan kesombongan, keegoisan, amour-propre, dan egotisme, yang berpotensi mengarahkan orang ke dalam jenis mania, obsesivitas, atau kodependensi.[3] Cinta juga dapat menggambarkan tindakan penuh belas kasih dan kasih sayang terhadap sesama manusia, diri sendiri, atau hewan.[4] Dalam berbagai bentuknya, cinta bertindak sebagai fasilitator utama dalam hubungan antarpribadi dan, karena kepentingan psikologis utamanya, menjadi salah satu tema paling umum dalam seni kreatif.[5][6] Cinta telah dipostulatkan sebagai sebuah fungsi yang menjaga manusia tetap bersama dalam menghadapi ancaman dan untuk memfasilitasi kelanjutan spesies.[7]
Para filsuf Yunani Kuno mengidentifikasi enam bentuk cinta: cinta keluarga (storgecode: grc is deprecated ), cinta persahabatan atau cinta platonis (philiacode: grc is deprecated ), cinta romantis (eroscode: grc is deprecated ), cinta diri (philautiacode: grc is deprecated ), keramahan (xeniacode: grc is deprecated ), dan cinta ilahi atau cinta tanpa syarat (agapecode: grc is deprecated ). Penulis modern telah membedakan variasi cinta lebih lanjut: cinta tak berbalas, cinta kosong, cinta pendampingan, cinta paripurna, cinta gila, amour de soi, dan cinta bahaduri. Berbagai budaya juga membedakan Rencode: lzh is deprecated , Yuanfencode: zh is deprecated , Mamihlapinatapaicode: yag is deprecated , Cafunécode: pt is deprecated , Kamacode: sa is deprecated , Bhakticode: sa is deprecated , Mettācode: pi is deprecated , Ishqcode: ar is deprecated , Chesedcode: he is deprecated , Amorecode: it is deprecated , Cinta kasih, Saudadecode: pt is deprecated (serta varian atau simbiosis dari keadaan-keadaan ini lainnya), sebagai kata, definisi, atau ungkapan cinta yang unik secara budaya sehubungan dengan "momen" tertentu yang saat ini tidak dimiliki dalam bahasa Inggris.[8]
Teori roda warna cinta mendefinisikan tiga gaya cinta primer, tiga sekunder, dan sembilan tersier, yang menggambarkannya dalam bentuk roda warna tradisional. Teori segitiga cinta menunjukkan bahwa keintiman, gairah, dan komitmen adalah komponen inti dari cinta. Cinta juga memiliki makna keagamaan atau spiritual tambahan. Keragaman penggunaan dan makna ini, dikombinasikan dengan kompleksitas perasaan yang terlibat, membuat cinta menjadi sangat sulit untuk didefinisikan secara konsisten dibandingkan dengan keadaan emosional lainnya.
Definisi
Kata "cinta" dapat memiliki berbagai makna yang saling berkaitan tetapi berbeda dalam konteks yang berbeda. Banyak bahasa lain menggunakan beberapa kata untuk mengungkapkan sejumlah konsep berbeda yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai "love"; salah satu contohnya adalah keberagaman konsep Yunani untuk "cinta" (agape, eros, philia, storge).[9] Perbedaan budaya dalam mengonseptualisasikan cinta membuatnya sulit untuk menetapkan definisi yang universal.[10]
Meskipun hakikat atau esensi cinta sering kali menjadi bahan perdebatan, berbagai aspek dari kata ini dapat diperjelas dengan menentukan apa yang bukan cinta (antonim dari "cinta"). Cinta, sebagai ungkapan umum dari sentimen positif (bentuk yang lebih kuat dari rasa "suka"), biasanya dikontraskan dengan kebencian (atau apati yang netral). Sebagai bentuk kelekatan romantis yang kurang seksual dan lebih intim secara emosional, cinta biasanya dikontraskan dengan hawa nafsu. Sebagai hubungan antarpribadi dengan nuansa romantis, cinta terkadang dikontraskan dengan persahabatan, meskipun kata cinta sering kali diterapkan pada persahabatan karib atau cinta platonis. (Ambiguitas lebih lanjut dapat muncul dalam penggunaan istilah seperti "pacar", "kekasih", dan "sekadar teman baik".)

Secara abstrak, cinta biasanya merujuk pada perasaan yang dialami seseorang terhadap orang lain. Cinta sering kali melibatkan kepedulian terhadap, atau pengidentifikasian diri dengan, seseorang atau sesuatu (lih. teori kerentanan dan kepedulian tentang cinta), termasuk diri sendiri (lih. narsisisme). Selain perbedaan lintas budaya dalam memahami cinta, gagasan tentang cinta juga telah banyak berubah dari waktu ke waktu. Beberapa sejarawan merunut konsepsi modern tentang cinta romantis ke lingkungan istana Eropa selama atau setelah Abad Pertengahan, meskipun keberadaan kelekatan romantis sebelumnya telah dibuktikan oleh puisi cinta kuno.[11]
Beberapa peribahasa umum berkaitan dengan cinta, mulai dari "Cinta menaklukkan segalanya" karya Vergilius hingga "All You Need Is Love" karya The Beatles. Santo Tomas Aquinas, mengikuti Aristoteles, mendefinisikan cinta sebagai "menginginkan yang baik bagi orang lain."[12][13] Bertrand Russell menggambarkan cinta sebagai [butuh klarifikasi] "nilai mutlak," sebagai kebalikan dari nilai relatif.[14] Filsuf Gottfried Leibniz mengatakan bahwa cinta adalah "merasa gembira karena kebahagiaan orang lain."[15] Meher Baba stated bahwa dalam cinta terdapat "perasaan bersatu" dan "apresiasi aktif terhadap nilai intrinsik dari objek cinta."[16] Biolog Jeremy Griffith mendefinisikan cinta sebagai "sifat tidak mementingkan diri sendiri yang tanpa syarat".[17] Menurut Ambrose Bierce, cinta adalah kegilaan sementara yang dapat disembuhkan oleh pernikahan.[18]
Etimologi
Kata "cinta" dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu cintā (चिन्ताcode: sa is deprecated ), yang pada mulanya berarti 'pikiran', 'perhatian', 'pertimbangan', atau 'kegelisahan'.[19] Dalam konteks bahasa Melayu Klasik, kata ini kerap digunakan untuk mengekspresikan kondisi batin atau pikiran seseorang yang terpaku memikirkan, merisaukan, atau merindukan sesuatu.[20] Seiring berjalannya waktu, kata ini mengalami perluasan makna dan pergeseran semantik menjadi perasaan kasih sayang yang mendalam, kelekatan emosional, serta ketertarikan yang kuat terhadap seseorang atau suatu objek.
Impersonal
Orang dapat memiliki dedikasi yang mendalam dan apresiasi yang sangat besar terhadap suatu objek, prinsip, atau tujuan, sehingga merasakan semacam cinta terhadap hal tersebut. Sebagai contoh, jangkauan penuh belas kasih dan "cinta" para sukarelawan terhadap gerakan mereka terkadang lahir bukan dari cinta antarpribadi melainkan cinta impersonal, altruisme, serta keyakinan spiritual atau politik yang kuat.[4] Orang juga dapat "mencintai" objek material, hewan, atau aktivitas jika mereka melibatkan diri dalam membangun ikatan atau mengidentifikasi diri dengan hal-hal tersebut. Jika gairah seksual juga terlibat, maka perasaan ini disebut parafilia.[21]
Antarpribadi
Hubungan (Garis besar) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
Jenis
|
|||||||||
|
Akhir |
|||||||||
Cinta antarpribadi merujuk pada cinta antarmanusia. Ini adalah sentimen yang jauh lebih kuat daripada sekadar *menyukai* seseorang. Cinta bertepuk sebelah tangan merujuk pada perasaan cinta yang tidak berbalas. Cinta antarpribadi paling erat kaitannya dengan hubungan antarpribadi.[4] Cinta semacam ini dapat terjalin di antara anggota keluarga, teman, dan pasangan. Terdapat beberapa gangguan psikologis yang berkaitan dengan cinta, seperti erotomania.
Sepanjang sejarah, filsafat dan agama telah berspekulasi tentang fenomena cinta. Pada abad ke-20, ilmu psikologi telah mempelajari subjek ini. Ilmu antropologi, neurosains, dan biologi juga telah menambah pemahaman tentang konsep cinta.
Dasar biologis

Model biologis cenderung memandang cinta romantis sebagai sistem dorongan atau motivasi mamalia, mirip seperti rasa lapar atau haus.[22][23][24] Helen Fisher, seorang antropolog dan peneliti perilaku manusia, membagi pengalaman cinta ke dalam tiga sistem otak yang dapat bekerja secara independen satu sama lain: hawa nafsu, daya tarik, dan kelekatan. Hawa nafsu adalah perasaan hasrat seksual; daya tarik menentukan apa yang dianggap menarik oleh pasangan dan apa yang mereka kejar, sehingga menghemat waktu dan energi dengan memilih pasangan kawin yang lebih disukai daripada yang lain; sedangkan kelekatan melibatkan berbagi tempat tinggal, tugas pengasuhan anak, perlindungan bersama, dan pada manusia melibatkan perasaan aman dan terlindungi.[25][26]

Hawa nafsu adalah hasrat seksual penuh gairah di tahap awal yang mendorong perkawinan, dan melibatkan peningkatan pelepasan hormon seperti testosteron dan estrogen. Efek-efek ini jarang bertahan lebih dari beberapa minggu atau bulan. Daya tarik adalah hasrat romantis yang lebih individual terhadap calon pasangan tertentu, yang berkembang dari hawa nafsu seiring terbentuknya komitmen terhadap pasangan tersebut. Studi terbaru dalam neurosains menunjukkan bahwa saat seseorang jatuh cinta, otak secara konsisten melepaskan serangkaian zat kimia tertentu, termasuk hormon neurotransmiter dopamin, norepinefrin, dan serotonin, senyawa yang sama dengan yang dilepaskan oleh amfetamin, sehingga merangsang pusat kesenangan otak dan menimbulkan efek samping seperti peningkatan denyut jantung, penurunan nafsu makan, kurang tidur, serta perasaan gembira yang luar biasa. Penelitian menunjukkan bahwa tahap ini umumnya berlangsung selama satu setengah hingga tiga tahun.[27]
Karena tahap hawa nafsu dan daya tarik sama-sama dianggap sementara, tahap ketiga diperlukan untuk menjelaskan hubungan jangka panjang. Kelekatan adalah pembentukan ikatan yang mendorong hubungan bertahan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Kelekatan umumnya didasarkan pada komitmen seperti pernikahan dan anak-anak, atau persahabatan timbal balik yang didasarkan pada hal-hal seperti kesamaan minat. Hal ini telah dikaitkan dengan tingkat zat kimia oksitosin dan vasopresin yang lebih tinggi, dalam derajat yang lebih besar daripada apa yang ditemukan dalam hubungan jangka pendek.[27] Enzo Emanuele dan rekan kerjanya melaporkan bahwa molekul protein yang dikenal sebagai faktor pertumbuhan saraf (NGF) memiliki kadar yang tinggi saat seseorang pertama kali jatuh cinta, tetapi kadar ini kembali ke tingkat sebelumnya setelah satu tahun.[28]
Dasar psikologis

Psikologi menggambarkan cinta sebagai fenomena kognitif dan sosial. Psikolog Robert Sternberg merumuskan teori segitiga cinta yang menyatakan bahwa cinta memiliki tiga komponen: keintiman, komitmen, dan gairah. Keintiman adalah ketika dua orang saling memercayai rahasia dan berbagai rincian kehidupan pribadi mereka, dan biasanya ditunjukkan dalam persahabatan dan hubungan cinta romantis. Komitmen adalah harapan bahwa hubungan tersebut bersifat permanen. Cinta yang penuh gairah ditunjukkan dalam rasa cinta gila (infatuasi) maupun cinta romantis. Semua bentuk cinta dipandang sebagai berbagai kombinasi dari ketiga komponen ini. Bukan-cinta tidak mencakup satu pun dari komponen-komponen ini. Rasa suka hanya mencakup keintiman. Cinta gila hanya mencakup gairah. Cinta kosong hanya mencakup komitmen. Cinta romantis mencakup keintiman sekaligus gairah. Cinta pendampingan mencakup keintiman dan komitmen. Cinta bodoh mencakup gairah dan komitmen. Cinta paripurna mencakup ketiga komponen tersebut.[29]
Psikolog Amerika Serikat Zick Rubin berupaya mendefinisikan cinta melalui psikometrika pada tahun 1970-an. Karyanya mengidentifikasi tiga faktor berbeda yang membentuk cinta: kelekatan, kepedulian, dan keintiman.[30]
Mengikuti perkembangan dalam teori-teori kelistrikan seperti Hukum Coulomb, yang menunjukkan bahwa muatan positif dan negatif saling tarik-menarik, analogi dalam kehidupan manusia pun dibayangkan, seperti "kutub yang berlawanan akan saling menarik". Penelitian tentang perkawinan manusia umumnya menemukan bahwa hal ini tidak berlaku dalam hal karakter dan kepribadian—orang cenderung menyukai orang yang mirip dengan diri mereka sendiri. Namun, dalam beberapa ranah yang tidak biasa dan spesifik, seperti sistem kekebalan tubuh, tampaknya manusia lebih menyukai orang lain yang berbeda dari diri mereka sendiri (misalnya, dengan sistem kekebalan yang ortogonal), mungkin karena hal ini akan menghasilkan bayi yang memiliki perpaduan terbaik dari keduanya.[31]
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai teori ikatan manusia telah dikembangkan, yang dijelaskan dalam bentuk kelekatan, keterikatan, ikatan, dan afinitas. Beberapa pakar Barat [butuh klarifikasi] menjadi dua komponen utama, yaitu altruistik dan narsistik. Pandangan ini diwakili dalam karya-karya Scott Peck, yang penelitiannya di bidang psikologi terapan mengeksplorasi definisi cinta dan kejahatan. Peck mempertahankan argumen bahwa cinta adalah kombinasi dari "kepedulian terhadap pertumbuhan spiritual orang lain" dan narsisisme sederhana.[32] Dalam kombinasinya, cinta adalah sebuah aktivitas, bukan sekadar perasaan.
Psikolog Erich Fromm menyatakan dalam bukunya The Art of Loving bahwa cinta bukan semata-mata perasaan melainkan juga tindakan, dan pada kenyataannya "perasaan" cinta itu dangkal jika dibandingkan dengan komitmen seseorang untuk mencintai melalui serangkaian tindakan penuh kasih dari waktu ke waktu.[4] Fromm berpendapat bahwa cinta pada akhirnya bukanlah perasaan sama sekali, melainkan sebuah komitmen dan kepatuhan terhadap tindakan-tindakan penuh kasih terhadap orang lain, diri sendiri, atau banyak orang lain, dalam jangka waktu yang berkelanjutan.[4] Fromm juga menggambarkan cinta sebagai pilihan sadar yang pada tahap awalnya mungkin bermula sebagai perasaan tidak sukarela, tetapi kemudian di kemudian hari tidak lagi bergantung pada perasaan tersebut, melainkan hanya bergantung pada komitmen sadar.[4]
Dasar evolusioner

Psikologi evolusioner telah mencoba memberikan berbagai alasan mengenai cinta sebagai alat kelangsungan hidup. Manusia bergantung pada bantuan orang tua selama sebagian besar masa hidup mereka dibandingkan dengan mamalia lainnya. Oleh karena itu, cinta dipandang sebagai mekanisme untuk mendorong dukungan orang tua kepada anak-anak selama jangka waktu yang panjang ini. Lebih jauh lagi, para peneliti sejak zaman Charles Darwin mengidentifikasi ciri-ciri unik dari cinta manusia dibandingkan dengan mamalia lain dan menganggap cinta sebagai faktor utama dalam menciptakan sistem dukungan sosial yang memungkinkan perkembangan dan ekspansi spesies manusia.[butuh rujukan] Faktor lainnya mungkin karena penyakit menular seksual dapat menyebabkan, di antara efek lainnya, penurunan kesuburan permanen, cedera pada janin, dan meningkatkan komplikasi selama persalinan. Hal ini akan lebih mendukung hubungan monogami daripada poligami.[33]
Manfaat adaptif
Cinta antarpribadi antara pria dan wanita memberikan manfaat adaptif evolusioner karena memfasilitasi perkawinan dan reproduksi seksual.[34] Namun, beberapa organisme dapat bereproduksi secara aseksual tanpa kawin. Pemahaman mengenai manfaat adaptif dari cinta antarpribadi bergantung pada pemahaman tentang manfaat adaptif dari reproduksi seksual sebagai kebalikan dari reproduksi aseksual. Richard Michod meninjau bukti bahwa cinta, dan akibatnya reproduksi seksual, memberikan dua keuntungan adaptif utama.[34] Pertama, reproduksi seksual memfasilitasi perbaikan kerusakan pada DNA yang diwariskan dari orang tua ke keturunannya (selama meiosis, tahap kunci dari proses seksual). Kedua, suatu gen pada salah satu orang tua mungkin mengandung mutasi yang merugikan, tetapi pada keturunan yang dihasilkan melalui reproduksi seksual, ekspresi mutasi merugikan yang diturunkan oleh salah satu orang tua kemungkinan besar akan ditutupi oleh ekspresi gen homolog yang tidak terpengaruh dari orang tua lainnya.[34]
Kesehatan
Psikolog Abraham Maslow mengidentifikasi bahwa perasaan benar-benar dicintai merupakan kebutuhan dasar dan mendasar manusia.[35] Cinta terbukti memiliki korelasi yang kuat dengan kebahagiaan serta kemampuan untuk membangun hubungan dan mengembangkan komunitas.[35] Dampak buruk dari merasa tidak dicintai dapat menyebabkan kondisi seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD).[35]
Pandangan budaya
Yunani Kuno

Bahasa Yunani membedakan beberapa makna berbeda dari penggunaan kata "cinta". Orang Yunani Kuno mengidentifikasi empat bentuk cinta: hubungan kekerabatan atau keakraban (storge), persahabatan dan/atau hasrat platonis (philia), hasrat seksual dan/atau romantis (eros), serta pengosongan diri atau cinta ilahi (agape).[36] Penulis modern telah membedakan variasi cinta romantis lebih lanjut.[37] Namun, dalam bahasa Yunani (seperti halnya banyak bahasa lain), secara historis sulit untuk memisahkan makna kata-kata ini sepenuhnya. Pada saat yang sama, teks Yunani Kuno dari Alkitab memuat contoh-contoh di mana kata kerja agapo memiliki makna yang sama dengan phileo.
- Agape (ἀγάπηcode: grc is deprecated agápē)
- berarti cinta dalam bahasa Yunani modern. Istilah s'agapo berarti Aku cinta kamu dalam bahasa Yunani. Kata agapo adalah kata kerja Aku mencintai. Istilah ini umumnya merujuk pada jenis cinta yang "murni" atau tipe ideal, alih-alih daya tarik fisik yang disiratkan oleh eros. Meskipun demikian, terdapat beberapa contoh penggunaan agape yang bermakna sama dengan eros. Istilah ini juga telah diterjemahkan sebagai "cinta jiwa."[9]
- Eros (ἔρωςcode: grc is deprecated érōs)
- (dari dewa Yunani Eros) adalah cinta yang menggebu-gebu, disertai hasrat sensual dan kerinduan. Kata Yunani erota berarti jatuh cinta. Plato menyempurnakan definisinya sendiri. Meskipun eros pada awalnya dirasakan terhadap seseorang, melalui kontemplasi perasaan itu menjadi sebuah apresiasi terhadap keindahan di dalam diri orang tersebut, atau bahkan menjadi apresiasi terhadap keindahan itu sendiri. Eros membantu jiwa mengingat kembali pengetahuan tentang keindahan dan berkontribusi pada pemahaman tentang kebenaran spiritual. Para kekasih dan filsuf semuanya terinspirasi untuk mencari kebenaran oleh eros. Beberapa terjemahan mencatatnya sebagai "cinta tubuh".[9]
- Philia (φιλίαcode: grc is deprecated philía)
- cinta luhur yang tidak menggebu-gebu, merupakan konsep yang dibahas dan dikembangkan oleh Aristoteles dalam Etika Nikomakea-nya Buku VIII.[38] Cinta ini mencakup kesetiaan kepada teman, keluarga, dan komunitas, serta membutuhkan kebajikan, kesetaraan, dan keakraban. Philia didorong oleh alasan-alasan praktis; salah satu atau kedua belah pihak memperoleh manfaat dari hubungan tersebut. Istilah ini juga dapat berarti "cinta pikiran."
- Storge (στοργήcode: grc is deprecated storgē)
- kasih sayang alami, seperti yang dirasakan oleh orang tua terhadap keturunannya
- Xenia (ξενίαcode: grc is deprecated xenía)
- keramah-tamahan, merupakan praktik yang sangat penting di Yunani kuno. Praktik ini berupa persahabatan yang hampir diritualkan yang terjalin antara tuan rumah dan tamunya, yang sebelumnya mungkin saling tidak mengenal. Tuan rumah memberi makan dan menyediakan tempat tinggal bagi tamunya, yang diharapkan membalasnya hanya dengan rasa terima kasih. Pentingnya hal ini dapat dilihat di seluruh mitologi Yunani—terutama dalam Iliad dan Odisea karya Homerus.
Romawi Kuno (Latin)
Bahasa Latin memiliki beberapa kata kerja yang sepadan dengan kata "cinta" dalam bahasa Inggris. amōcode: la is deprecated adalah kata kerja dasar yang berarti *aku mencintai*, dengan bentuk infinitif amarecode: la is deprecated ("mencintai") yang masih digunakan dalam bahasa Italia saat ini. Orang Romawi menggunakannya baik dalam arti kasih sayang maupun dalam arti romantis atau seksual. Dari kata kerja ini lahirlah amanscode: la is deprecated —seorang kekasih, amatorcode: la is deprecated , "kekasih profesional" (sering kali dengan konotasi tambahan berupa kecabulan)—dan amicacode: la is deprecated , "pacar perempuan" dalam pengertian bahasa Inggris, yang sering diterapkan sebagai eufemisme untuk seorang pelacur. Kata benda yang sepadan adalah amorcode: la is deprecated (pentingnya istilah ini bagi orang Romawi digambarkan dengan baik oleh fakta bahwa nama kota Roma—dalam bahasa Latin: Romacode: la is deprecated —dapat dilihat sebagai anagram dari amorcode: la is deprecated , yang digunakan sebagai nama rahasia kota tersebut di kalangan luas pada zaman kuno),[39] yang juga digunakan dalam bentuk jamak untuk menunjukkan hubungan asmara atau petualangan seksual. Akar kata yang sama ini juga menghasilkan amicuscode: la is deprecated —"teman"—dan amicitiacode: la is deprecated , "persahabatan" (sering kali didasarkan pada keuntungan bersama, dan terkadang lebih dekat maknanya dengan "utang budi" atau "pengaruh"). Cicero menulis sebuah risalah berjudul *Tentang Persahabatan* (de Amicitiacode: la is deprecated ), yang membahas konsep tersebut secara cukup panjang lebar. Ovidius menulis panduan kencan berjudul Ars Amatoriacode: la is deprecated (*Seni Bercinta*), yang membahas secara mendalam segala hal mulai dari hubungan di luar nikah hingga orang tua yang terlalu protektif.
Bahasa Latin terkadang menggunakan amārecode: la is deprecated ketika bahasa Inggris hanya akan mengatakan *to like* (menyukai). Namun, konsep ini lebih umum diungkapkan dalam bahasa Latin dengan istilah placerecode: la is deprecated atau delectārecode: la is deprecated , yang digunakan secara lebih kasual, dan istilah yang terakhir sering digunakan dalam puisi cinta karya Catullus. Diligerecode: la is deprecated sering kali menyiratkan arti "menaruh kasih sayang kepada" atau "menghormati", dan jarang atau hampir tidak pernah digunakan untuk cinta romantis. Kata ini tepat untuk menggambarkan persahabatan antara dua pria. Namun, kata benda sepadannya, diligentiacode: la is deprecated , memiliki arti "ketekunan" atau "kehati-hatian", dan memiliki sedikit tumpang tindih semantik dengan kata kerjanya. Observarecode: la is deprecated adalah sinonim dari diligerecode: la is deprecated ; meskipun sekerabat dengan kata dalam bahasa Inggris, kata kerja ini beserta kata benda sepadannya, observantiacode: la is deprecated , sering kali menunjukkan "rasa hormat" atau "kasih sayang". Caritascode: la is deprecated digunakan dalam terjemahan bahasa Latin dari Alkitab Kristen untuk mengartikan "cinta kasih"; namun, makna ini tidak ditemukan dalam sastra Romawi pagan Klasik. Karena istilah ini muncul dari peleburan dengan kata Yunani, tidak ada kata kerja yang sepadan.
Tionghoa dan bahasa Sinik lainnya

Terdapat dua landasan filosofis tentang cinta dalam tradisi Tionghoa, yang satu berasal dari Konfusianisme yang menekankan tindakan dan kewajiban, sementara yang lain berasal dari Mohisme yang mendukung cinta universal. Konsep inti dalam Konfusianisme adalah 仁code: zh is deprecated (Ren, "cinta yang murah hati"), yang berfokus pada kewajiban, tindakan, dan sikap dalam suatu hubungan, alih-alih cinta itu sendiri. Dalam Konfusianisme, seseorang menunjukkan cinta yang murah hati dengan melakukan tindakan seperti bakti dari anak-anak, kebaikan dari orang tua, kesetiaan kepada raja, dan sebagainya.
Konsep 愛code: zh is deprecated (bahasa Mandarin: ài) dikembangkan oleh filsuf Tionghoa Mozi pada abad ke-4 SM SM sebagai reaksi terhadap cinta yang murah hati dalam Konfusianisme. Mozi mencoba menggantikan apa yang ia anggap sebagai keterikatan berlebihan orang Tionghoa yang sudah lama tertanam pada struktur keluarga dan klan dengan konsep "cinta universal" (兼愛code: zh is deprecated , jiān'ài). Dalam hal ini, ia menentang keras para penganut Konfusianisme yang percaya bahwa adalah hal yang alami dan benar bagi orang-orang untuk mempedulikan orang yang berbeda dalam tingkatan yang berbeda pula. Sebaliknya, Mozi percaya bahwa pada prinsipnya orang-orang harus mempedulikan semua orang secara setara. Mohisme menekankan bahwa alih-alih menerapkan sikap yang berbeda terhadap orang yang berbeda, cinta harus bersifat tanpa syarat dan diberikan kepada semua orang tanpa memandang balasan; tidak hanya kepada teman, keluarga, dan hubungan Konfusianis lainnya. Belakangan dalam Buddhisme Tionghoa, istilah Ai (愛code: zh is deprecated ) diadopsi untuk merujuk pada cinta yang penuh gairah dan kepedulian, serta dianggap sebagai keinginan yang mendasar. Dalam Buddhisme, Ai dipandang dapat bersifat egois maupun tidak mementingkan diri sendiri, di mana sifat yang terakhir merupakan elemen kunci menuju pencerahan.
Dalam bahasa Mandarin, 愛code: zh is deprecated (ài) sering digunakan sebagai padanan dari konsep cinta Barat. 愛code: zh is deprecated (ài) digunakan baik sebagai kata kerja (misalnya 我愛你code: zh is deprecated , Wǒ ài nǐ, atau "Aku cinta kamu") maupun kata benda (seperti 愛情code: zh is deprecated àiqíng, atau "cinta romantis"). Namun, karena pengaruh dari konsep Konfusianis 仁code: zh is deprecated (rén), frasa 我愛nicode: zh is deprecated (Wǒ ài nǐ, Aku cinta kamu) membawa rasa tanggung jawab, komitmen, dan kesetiaan yang sangat spesifik. Alih-alih sering mengucapkan "Aku cinta kamu" seperti dalam beberapa masyarakat Barat, orang Tionghoa cenderung mengungkapkan perasaan kasih sayang dengan cara yang lebih kasual. Oleh karena itu, "Aku suka kamu" (I've got a problem with thatcode: zh is deprecated , Wǒ xǐhuan nǐ) merupakan cara yang lebih umum untuk mengekspresikan kasih sayang dalam bahasa Mandarin; ungkapan ini lebih santai dan tidak terlalu serius.[40] Hal ini juga berlaku dalam bahasa Jepang (suki da, 好きだcode: ja is deprecated ).
Jepang
Bahasa Jepang menggunakan tiga kata untuk menyampaikan padanan kata "love" dalam bahasa Inggris. Karena "cinta" mencakup berbagai emosi dan fenomena perilaku, terdapat nuansa yang membedakan ketiga istilah tersebut.[41][42] Istilah ai (愛code: ja is deprecated ), yang sering dikaitkan dengan cinta keibuan[41] atau cinta yang tidak mementingkan diri sendiri,[42] pada mulanya merujuk pada keindahan dan sering digunakan dalam konteks keagamaan. Setelah Restorasi Meiji pada tahun 1868, istilah ini menjadi diasosiasikan dengan "cinta" untuk menerjemahkan sastra Barat.
Sebelum adanya pengaruh Barat, istilah koi (恋 atau 孤悲code: ja is deprecated ) umumnya mewakili cinta romantis, dan sering menjadi subjek dalam antologi puisi Jepang yang populer, Man'yōshū.[41] Koi menggambarkan kerinduan terhadap lawan jenis dan biasanya ditafsirkan sebagai sifat egois dan penuh keinginan.[42] Asal-usul istilah ini berasal dari konsep kesendirian yang sepi akibat perpisahan dengan orang yang dicintai. Meskipun penggunaan modern dari koi berfokus pada cinta seksual dan kegilaan, para penyair Manyō menggunakan istilah tersebut untuk mencakup situasi yang lebih luas, termasuk kelembutan, kemurahan hati, dan keinginan material.[41]
Istilah ketiga, ren'ai (恋愛code: ja is deprecated ), merupakan bentukan yang lebih modern yang menggabungkan karakter kanji untuk ai dan koi, meskipun penggunaannya lebih menyerupai koi dalam bentuk cinta romantis.[41][42]
Amae (甘えcode: ja is deprecated ), yang merujuk pada keinginan untuk dicintai dan dimanjakan oleh figur otoritas, merupakan aspek penting lainnya dari perspektif budaya Jepang tentang cinta, dan telah dianalisis secara terperinci dalam buku karya Takeo Doi yang berjudul The Anatomy of Dependence[43]
India

Dalam sastra kontemporer, kata dalam bahasa Sanskerta untuk cinta adalah sneha. Istilah lainnya meliputi priya yang merujuk pada cinta murni, prema yang merujuk pada cinta spiritual, dan kama yang biasanya merujuk pada hasrat seksual.[44] Namun, istilah tersebut juga merujuk pada kenikmatan indrawi, daya tarik emosional, dan kesenangan estetis apa pun seperti dari seni, tari, musik, lukisan, patung, dan alam.[45]
Konsep kama ditemukan dalam beberapa bait paling awal yang diketahui dalam Weda. Sebagai contoh, Kitab 10 dari Rig Veda menggambarkan penciptaan alam semesta dari ketiadaan oleh panas yang dahsyat. Dalam lagu pujaan 129, dinyatakan:
कामस्तदग्रे समवर्तताधि मनसो रेतः परथमं यदासीत |
सतो बन्धुमसति निरविन्दन हर्दि परतीष्याकवयो मनीषा ||[46]
Setelah itu bangkitlah Hasrat di awal mula, Hasrat yang menjadi benih utama dan tunas dari Roh,
Para bijak yang mencari dengan kedalaman hati mereka menemukan pertalian antara yang ada dan yang tiada.
Persia
Templat:Citation needed section
Anak-anak Adam adalah anggota dari satu tubuh
Yang diciptakan dari satu esensi.
Ketika kemalangan waktu menimpa salah satu anggota tubuh
Anggota tubuh yang lain tidak dapat berdiam diri.
Jika Anda tidak memiliki simpati atas penderitaan orang lain
Anda tidak layak disebut dengan nama "manusia".
Rumi, Hafiz, dan Sa'di adalah ikon dari gairah dan cinta yang dihadirkan oleh budaya dan bahasa Persia. Kata Persia untuk cinta adalah Ishq, yang berasal dari bahasa Arab; namun, istilah ini dianggap oleh sebagian besar orang terlalu kuat untuk cinta antarpribadi dan lebih umum digantikan dengan "doost dashtan" ("menyukai"). Dalam budaya Persia, segala sesuatu dilingkupi oleh cinta dan semuanya adalah demi cinta, mulai dari mencintai teman dan keluarga, suami dan istri, hingga akhirnya mencapai cinta ilahi yang merupakan tujuan akhir dalam hidup.
Pandangan agama
Abrahamik

Yudaisme
Dalam bahasa Ibrani, אהבהcode: he is deprecated (ahava) adalah istilah yang paling umum digunakan untuk cinta antarpribadi maupun cinta antara Tuhan dan ciptaan-Nya. Chesed, yang sering diterjemahkan sebagai kasih setia atau kebaikan penuh kasih, digunakan untuk menggambarkan banyak bentuk cinta antarmanusia.
Perintah untuk mencintai orang lain diberikan dalam Taurat, yang menyatakan, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Imamat Imamat 19:18). Perintah Taurat untuk mencintai Tuhan "dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan Ulangan 6:5) ditafsirkan oleh Mishnah (teks utama dari hukum lisan Yahudi) sebagai rujukan pada perbuatan baik, kesediaan untuk mengorbankan nyawa daripada melakukan pelanggaran serius tertentu, kesediaan untuk mengorbankan seluruh harta benda, dan bersyukur kepada Tuhan terlepas dari kesengsaraan yang dihadapi (traktat Berachoth 9:5). Sastra rabi berbeda pendapat mengenai bagaimana cinta ini dapat ditumbuhkan, misalnya dengan merenungkan perbuatan-perbuatan ilahi atau menyaksikan keajaiban alam.
Adapun cinta antara pasangan suami istri, hal ini dianggap sebagai unsur penting dalam hidup: "Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi" (Pengkhotbah Pengkhotbah 9:9). Rabi David Wolpe menulis bahwa "cinta bukan hanya tentang perasaan sang kekasih... Melainkan ketika seseorang percaya pada orang lain dan menunjukkannya." Ia lebih lanjut menyatakan bahwa "cinta... adalah perasaan yang mengekspresikan dirinya dalam tindakan. Apa yang benar-benar kita rasakan tercermin dalam apa yang kita lakukan."[48] Kitab Song of Solomon dalam Alkitab dianggap sebagai metafora yang diungkapkan secara romantis tentang cinta antara Allah dan umat-Nya, tetapi dalam pembacaan harfiahnya, kitab ini terbaca seperti lagu cinta. Rabi abad ke-20 Eliyahu Eliezer Dessler sering kali dikutip karena mendefinisikan cinta dari sudut pandang Yahudi sebagai "memberi tanpa berharap untuk menerima".[49]
Kekristenan

Paham Kekristenan memandang bahwa cinta berasal dari Allah, yang adalah cinta itu sendiri (1 John John&chapter=4:8# 4:8). Cinta antara pria dan wanita—eros dalam bahasa Yunani—dan cinta kepada sesama yang tidak mementingkan diri sendiri (agape), sering kali masing-masing dikontraskan sebagai cinta yang "turun" dan "naik", tetapi pada akhirnya merupakan hal yang sama.[50]
Terdapat beberapa kata Yunani untuk "cinta" yang sering dirujuk dalam lingkaran Kristen.
- agape
- Dalam Perjanjian Baru, agapē bersifat penuh kasih, tidak mementingkan diri sendiri, altruistis, dan tanpa syarat. Ini adalah cinta orang tua, yang dipandang menciptakan kebaikan di dunia; ini merupakan cara Allah mengasihi umat manusia, dan dipandang sebagai jenis cinta yang dicita-citakan oleh umat Kristen untuk dimiliki satu sama lain.[9]
- phileo
- Juga digunakan dalam Perjanjian Baru, phileo merupakan tanggapan manusia terhadap sesuatu yang mendatangkan kesenangan. Dikenal juga sebagai "cinta persaudaraan".
Dua kata untuk cinta dalam bahasa Yunani lainnya, yaitu eros (cinta seksual) dan storge (cinta anak kepada orang tua), tidak pernah digunakan dalam Perjanjian Baru.[9]
Umat Kristen percaya bahwa *mengasihi Allah dengan segenap hati, akal budi, dan kekuatanmu* serta *mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri* adalah dua hal yang paling penting dalam hidup (yang menurut Yesus merupakan hukum yang terutama dalam Taurat Yahudi; lih. Injil Markus Mark 12:28–34). Santo Agustinus merangkum hal ini ketika ia menulis "Kasihilah Allah, dan lakukanlah apa yang kaukehendaki."[51]
Rasul Paulus memuliakan cinta sebagai kebajikan yang paling penting dari semuanya. Saat menggambarkan cinta dalam penafsiran puitis yang terkenal dalam 1 Korintus, ia menulis, "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Corinthians Corinthians&chapter=13:4–7#NIV 13:4–7:NIV)
Rasul Yohanes menulis, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes John 3:16–17:niv) Yohanes juga menulis, "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 John John&chapter=4:7–8#NIV 4:7–8:NIV)
Santo Agustinus menulis bahwa seseorang harus mampu membedakan antara cinta dan hawa nafsu. Hawa nafsu, menurut Santo Agustinus, adalah pemuasan yang berlebihan, tetapi mencintai dan dicintai adalah apa yang ia cari sepanjang hidupnya. Ia bahkan menyatakan, "Aku jatuh cinta pada cinta."[butuh rujukan] Pada akhirnya, ia jatuh cinta dan dicintai kembali oleh Allah. Santo Agustinus mengatakan bahwa satu-satunya yang dapat mencintai Anda secara tulus dan sepenuhnya adalah Allah, karena cinta dengan manusia hanya menyisakan ruang bagi cela seperti "kecemburuan, kecurigaan, ketakutan, kemarahan, dan perselisihan."[52]: III.1 Menurut Santo Agustinus, mencintai Allah berarti "mencapai kedamaian yang menjadi milikmu."[52]
Agustinus menganggap perintah ganda tentang kasih dalam Matthew 22 sebagai inti dari iman Kristen dan penafsiran Alkitab. Setelah meninjau doktrin Kristen, Agustinus membahas masalah cinta dalam hal penggunaan dan penikmatan hingga akhir Buku I dari De Doctrina Christiana (1.22.21–1.40.44).[53]
Para teolog Kristen memandang Allah sebagai sumber cinta, yang tercermin dalam diri manusia dan hubungan kasih mereka sendiri. Teolog Kristen yang berpengaruh, C. S. Lewis, menulis sebuah buku berjudul The Four Loves. Benediktus XVI menamai ensiklik pertamanya God is love. Ia mengatakan bahwa manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah yang adalah kasih, mampu mempraktikkan cinta; untuk menyerahkan dirinya kepada Allah dan sesama (agape) serta dengan menerima dan mengalami kasih Allah dalam kontemplasi (eros). Kehidupan cinta ini, menurutnya, adalah kehidupan para kudus seperti Teresa dari Kalkuta dan Maria, ibu Yesus, serta merupakan arah yang diambil umat Kristen ketika mereka percaya bahwa Allah mengasihi mereka.[50]

Paus Fransiskus menegaskan bahwa "Salib (Yesus yang disalibkan) adalah makna terbesar dari cinta yang terbesar,"[54] dan dalam penyaliban itu ditemukan segalanya, semua pengetahuan, dan keseluruhan kasih Allah.[55] Paus Fransiskus mengajarkan bahwa "Cinta sejati adalah mencintai sekaligus membiarkan diri dicintai... yang penting dalam cinta bukanlah cara kita mencintai, melainkan membiarkan diri kita dicintai oleh Allah."[56] Oleh karena itu, dalam analisis seorang teolog Katolik, bagi Paus Fransiskus, "kunci menuju cinta... bukanlah aktivitas kita. Melainkan aktivitas dari yang terbesar, dan sumber dari segala kekuatan di alam semesta: yaitu milik Allah."[57]
Dalam Kekristenan, definisi praktis tentang cinta dirangkum oleh Tomas Aquinas, yang mendefinisikan cinta sebagai "menginginkan yang baik bagi orang lain," atau menghendaki orang lain untuk berhasil.[13] Ini merupakan penjelasan tentang kebutuhan umat Kristen untuk mengasihi sesama, termasuk musuh mereka. Tomas Aquinas menjelaskan bahwa cinta Kristen dimotivasi oleh kebutuhan untuk melihat orang lain berhasil dalam hidup, untuk menjadi orang yang baik.
Mengenai kasih terhadap musuh, Yesus dikutip dalam Injil Matius:
Kamu telah mendengar yang difirmankan: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari-Nya bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
Tertulianus menulis mengenai kasih terhadap musuh: "Kebaikan kita yang individual, luar biasa, dan sempurna terdiri dari mengasihi musuh kita. Mengasihi teman adalah praktik yang umum, tetapi mengasihi musuh hanya ada di antara umat Kristen."[58]
Islam

Cinta melingkupi pandangan hidup Islam sebagai persaudaraan universal yang berlaku bagi semua orang yang beriman. Di antara 99 nama Tuhan (Allah) terdapat nama Al-Wadud, atau "Yang Maha Pencinta," yang ditemukan dalam Surah 11:90 dan 85:14. Tuhan juga dirujuk pada awal setiap surah di dalam Al-Qur'an sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, atau "Maha Pengasih" dan "Maha Penyayang", yang menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih mencintai, penuh kasih, dan murah hati daripada Tuhan. Al-Qur'an merujuk Tuhan sebagai zat yang "penuh dengan kasih sayang."
Al-Qur'an mendesak orang-orang mukmin untuk memperlakukan [butuh klarifikasi], dengan birr atau "kebaikan yang mendalam" sebagaimana dinyatakan dalam Surah 6:8-9. Birr juga digunakan oleh Al-Qur'an untuk menggambarkan cinta dan kebaikan yang harus ditunjukkan anak-anak kepada orang tua mereka.
Ishq, atau cinta ilahi, ditekankan oleh Sufisme dalam tradisi Islam. Para praktisi Sufisme percaya bahwa cinta adalah proyeksi dari esensi Tuhan ke alam semesta. Tuhan berkeinginan untuk mengenali keindahan, dan seperti halnya seseorang yang melihat ke cermin untuk melihat dirinya sendiri, Tuhan "melihat" diri-Nya di dalam dinamika alam. Karena segala sesuatu merupakan refleksi dari Tuhan, aliran Sufisme mempraktikkan cara melihat keindahan di dalam hal yang tampaknya buruk. Sufisme sering kali disebut sebagai agama cinta.[59] Tuhan dalam Sufisme dirujuk dalam tiga istilah utama—Pencinta, Yang Dicintai, dan Kekasih—di mana istilah terakhir paling sering terlihat dalam puisi Sufi. Sudut pandang yang umum dalam Sufisme adalah bahwa melalui cinta, umat manusia dapat kembali kepada kesucian dan keanggunan bawaannya. Para wali Sufisme dikenal luas karena "mabuk" akibat cinta kepada Tuhan mereka; oleh karena itu, anggur terus-menerus dirujuk dalam puisi dan musik Sufi.
Agama Bahá'í
Dalam Khotbah-Khotbah Paris-nya, `Abdu'l-Bahá menggambarkan empat jenis cinta: cinta yang mengalir dari Tuhan kepada manusia; cinta yang mengalir dari manusia kepada Tuhan; cinta Tuhan terhadap Diri atau Identitas Tuhan sendiri; dan cinta sesama manusia bagi manusia lainnya.[60]
Darmik
Buddhism
Templat:Citation needed section Dalam Buddhisme, kāma adalah cinta yang berlandaskan nafsu indrawi dan seksual. Ini merupakan hambatan dalam jalan menuju pencerahan, karena sifatnya yang egois. Karuṇā adalah belas kasih dan kemurahan hati, yang meringankan penderitaan orang lain. Nilai ini melengkapi kebijaksanaan dan diperlukan untuk mencapai pencerahan. Adveṣa dan mettā adalah cinta kasih yang penuh kebajikan. Cinta ini bersifat tanpa syarat dan menuntut penerimaan diri yang besar. Hal ini sangat berbeda dari cinta biasa, yang biasanya berkaitan dengan keterikatan serta seks dan jarang terjadi tanpa adanya kepentingan pribadi. Sebaliknya, dalam Buddhisme, cinta merujuk pada ketidakterikatan dan kepedulian yang tidak mementingkan diri sendiri terhadap kesejahteraan orang lain.
Ideal Bodhisatwa dalam Buddhisme Mahayana melibatkan pengorbanan diri sepenuhnya demi memikul beban dunia yang penuh penderitaan.
Hinduisme

Dalam Hinduisme, kāma adalah cinta seksual yang menyenangkan, yang dipersonifikasikan oleh dewa Kamadewa. Bagi banyak aliran Hindu, ini merupakan tujuan hidup yang ketiga (Kama). Kamadewa sering kali digambarkan memegang busur dari tebu dan anak panah dari bunga; ia terkadang menunggangi seekor burung betet yang besar.Templat:Relevance inline Ia biasanya ditemani oleh permaisurinya, Rati, dan kawannya, Wasanta, penguasa musim semi.Templat:Relevance inline Relief batu Kamadewa dan Rati dapat dilihat pada pintu Kuil Chennakeshava, Belur, di Karnataka, India.Templat:Relevance inline *Maara* adalah nama lain untuk kāma.[butuh rujukan]
Berbeda dengan kāma, prema—atau prem—merujuk pada cinta yang luhur. Karuṇā adalah belas kasih dan kemurahan hati, yang mendorong seseorang untuk membantu meringankan penderitaan sesama. Bhakti adalah istilah bahasa Sanskerta yang berarti "pengabdian penuh kasih kepada Tuhan yang mahatinggi." Seseorang yang mempraktikkan bhakti disebut seorang bhakta. Para penulis, teolog, dan filsuf Hindu membedakan sembilan bentuk bhakti, yang dapat ditemukan dalam Bhagavata Purana dan karya-karya Tulsidas. Karya filosofis Narada Bhakti Sutra, yang ditulis oleh seorang penulis tidak dikenal (diduga Narada), membedakan sebelas bentuk cinta.
Dalam sekte Waisnawa tertentu di dalam Hinduisme, pencapaian cinta yang murni, tanpa syarat, dan tak henti-hentinya kepada Tuhan dianggap sebagai tujuan utama dalam hidup. Para penganut Gaudiya Waisnawa yang menyembah Krishna sebagai Kepribadian Tertinggi Tuhan dan penyebab dari segala sebab menganggap bahwa Cinta kepada Tuhan (Prema) bekerja dalam dua cara: sambhoga dan vipralambha (persatuan dan perpisahan)—dua hal yang saling berlawanan.<ref_name="Krishna Prema">Gour Govinda Swami. "The Wonderful Characteristic of Krishna Prema". Facebook. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 November 2012. Diakses tanggal 7 January 2012.</ref>
Dalam kondisi perpisahan, terdapat kerinduan yang mendalam untuk bersama sang kekasih, sedangkan dalam kondisi persatuan, terdapat kebahagiaan tertinggi dan [butuh klarifikasi]. Penganut Gaudiya Waisnawa menganggap bahwa Krishna-prema (Cinta kepada Tuhan) menghanguskan keinginan material seseorang, menembus hati, dan membasuh segalanya—keangkuhan seseorang, aturan agamanya, serta rasa malunya. Krishna-prema dianggap membuat seseorang tenggelam dalam samudra ekstasi dan kesenangan transendental. Cinta Radha, seorang gadis gembala sapi, kepada Krishna sering kali dikutip sebagai contoh tertinggi cinta kepada Tuhan oleh penganut Gaudiya Waisnawa. Radha dianggap sebagai potensi internal dari Krishna, dan merupakan pencinta Tuhan yang tertinggi. Teladan cintanya dianggap melampaui pemahaman alam material karena melebihi segala bentuk cinta egois atau hawa nafsu yang terlihat di dunia material. Cinta timbal balik antara Radha (pencinta tertinggi) dan Krishna (Tuhan sebagai Yang Paling Dicintai) menjadi subjek dari banyak komposisi puisi di India seperti Gita Govinda karya Jayadewa dan Hari Bhakti Shuddhodhaya.
Dalam tradisi Bhakti di dalam Hinduisme, dipercayai bahwa pelaksanaan pelayanan bakti kepada Tuhan menuntun pada pengembangan Cinta kepada Tuhan (taiche bhakti-phale krsne prema upajaya), dan seiring meningkatnya cinta kepada Tuhan di dalam hati, seseorang menjadi semakin bebas dari pencemaran material (krishna-prema asvada haile, bhava nasa paya). Menjadi sangat mencintai Tuhan atau Krishna membuat seseorang benar-benar bebas dari pencemaran material, dan ini adalah jalan mutakhir menuju keselamatan atau pembebasan. Dalam tradisi ini, keselamatan atau pembebasan dianggap lebih rendah daripada cinta, dan hanya merupakan produk sampingan yang tidak disengaja. Hanyut di dalam Cinta kepada Tuhan dianggap sebagai kesempurnaan hidup.[61]
Pandangan politik
Cinta bebas
Istilah "cinta bebas" telah digunakan[62] untuk menggambarkan suatu gerakan sosial yang menolak pernikahan, yang dipandang sebagai suatu bentuk keterikatan sosial. Tujuan awal dari gerakan cinta bebas adalah untuk memisahkan urusan negara dari masalah seksual seperti pernikahan, pembatasan kelahiran, dan perzinaan. Gerakan ini mengeklaim bahwa masalah-masalah tersebut merupakan kepentingan orang-orang yang terlibat, dan bukan orang lain.[63]
Banyak orang pada awal abad ke-19 percaya bahwa pernikahan merupakan aspek penting dalam hidup untuk "memenuhi kebahagiaan duniawi manusia."[64] Masyarakat Amerika kelas menengah mendambakan rumah menjadi tempat stabilitas di dunia yang tidak pasti. Mentalitas ini menciptakan visi tentang peran gender yang ditetapkan secara kuat, yang sebaliknya memicu kemajuan gerakan cinta bebas sebagai pembanding.[65]
Para pendukung cinta bebas memiliki dua keyakinan kuat: penolakan terhadap gagasan aktivitas seksual secara paksa dalam suatu hubungan dan pembelaan bagi perempuan untuk menggunakan tubuhnya dengan cara apa pun yang dia kehendaki.[66] Hal ini juga merupakan keyakinan dari feminisme.[67]
Pandangan filosofis
Filsafat cinta adalah bidang filsafat sosial dan etika yang mencoba menjelaskan hakikat cinta.[68] Penyelidikan filosofis tentang cinta mencakup tugas-tugas untuk membedakan berbagai jenis cinta pribadi, mempertanyakan apakah dan bagaimana cinta dibenarkan atau dapat dibenarkan, mempertanyakan apa nilai dari cinta, serta apa dampak cinta terhadap otonomi dari sang pencinta maupun yang dicintai.[67]
Lihat pula

- Aloha
- Teori roda warna cinta – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Hati jari – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Hati tangan – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Hati di tangan – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Ikatan manusia
- Isyarat ILY – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Cinta pada pandangan pertama
- Love-in – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Ikatan pasangan – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Poliamori – kelompok pasutri telah menikah tetapi sudah memiliki anak terdahulu
- Sains hubungan – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Romansa – perasaan positif dan kuat yang berasal dari ketertarikan
- Cinta diri
- Hubungan sosial – tindakan yang terjadi secara dua orang atau lebih yang bereaksi akan timbal balik melalui kontak langsung maupun tidak langsung.
- Bentuk tradisional, Agape, Philia, Philautia, Storge, Eros: istilah Yunani untuk cinta
Referensi
- ↑
- "Definition of love in English". Oxford English Dictionary. Diarsipkan dari asli tanggal 2 May 2018. Diakses tanggal May 1, 2018.
- "Meaning of love in English". Cambridge English Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 May 2018. Diakses tanggal May 1, 2018.
- Karandashev, Victor (2017). Romantic Love in Cultural Contexts. Cham: Springer International Publishing. doi:10.1007/978-3-319-42683-9. ISBN 978-3-319-42681-5.[halaman dibutuhkan]
- Hongladarom, Soraj; Joaquin, Jeremiah Joven, ed. (2021). Love and Friendship Across Cultures. Singapore: Springer Singapore. doi:10.1007/978-981-33-4834-9. ISBN 978-981-334-833-2. S2CID 243232407.[halaman dibutuhkan]
- Treger, Stanislav; Sprecher, Susan; Hatfield, Elaine C. (2014). "Love". Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 3708–3712. doi:10.1007/978-94-007-0753-5_1706. ISBN 978-94-007-0752-8.
Love is a universal human experience.
- ↑
- Oxford Illustrated American Dictionary. Oxford University Press. 1998. hlm. 485.
- "Love Definition & Meaning". Merriam-Webster. 27 Dec 1987. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 May 2019. Diakses tanggal 30 Sep 2021.
- "Love Definition & Meaning". YourDictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 July 2022. Diakses tanggal 2022-07-12.
- ↑
- Roget's Thesaurus. 1998. hlm. 592, 639.
- "Love Definition & Meaning". Merriam-Webster. 27 Dec 1987. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 May 2019. Diakses tanggal 30 Sep 2021.
- 1 2 3 4 5 6 Fromm, Erich (1956). The Art of Loving (Edisi Original English). Harper Perennial. ISBN 978-0-06-095828-2.
- ↑ Abbas, Azhar (2011-04-11). "Just Love". Diarsipkan dari asli tanggal 30 May 2012. Diakses tanggal 13 September 2011.
- ↑ Callerame, Emmanuelle (2022-02-03). "An Exploration of Love in Art History". Artsper Magazine (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2023-08-24.
- ↑ Fisher, Helen (2004). Why We Love: the nature and chemistry of romantic love. Henry Holt & Co. ISBN 978-0805069136.
- ↑
- Catron, Adrian (2014-12-05). "What Is Love? A Philosophy of Life". HuffPost (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 August 2020. Diakses tanggal 2020-10-02.
- Liddell, Henry George; Scott, Robert (1940). "φιλία". A Greek-English Lexicon. Oxford: Clarendon Press. Diarsipkan dari asli tanggal 3 January 2017. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- The Bhagavad Gita. Penguin Classics. Diterjemahkan oleh Mascaró, Juan. Penguin. 2003. ISBN 978-0-14-044918-1.
- 1 2 3 4 5 Nygren, Anders Theodor Samuel (1936). Agape and Eros.
- ↑ Kay, Paul; Kempton, Willett (March 1984). "What is the Sapir–Whorf Hypothesis?". American Anthropologist. New Series. 86 (1): 65–79. doi:10.1525/aa.1984.86.1.02a00050.
- ↑ "Ancient Love Poetry". TrueOpenLove. Diarsipkan dari asli tanggal 30 September 2007.
- ↑ Aristotle. Nicomachean Ethics. VIII.
- 1 2 Aquinas, Thomas (1485). Summa Theologiae. New Advent. I–II, Q26, Art.4.
- ↑ Kirsh, Marvin Eli (2013). "Philosophy, Science and Value". SSRN Electronic Journal. doi:10.2139/ssrn.2250431. ISSN 1556-5068. SSRN 2250431.
- ↑ Leibniz, Gottfried (1673). "Confessio philosophi". Wikisource edition. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 April 2009. Diakses tanggal 25 March 2009.
- ↑ Baba, Meher (1995). Discourses. Myrtle Beach: Sheriar Press. hlm. 113. ISBN 978-1-880619-09-4.
- ↑ Griffith, Jeremy (2011). "What is love?". The Book of Real Answers to Everything!. ISBN 978-1-74129-007-3. Diarsipkan dari asli tanggal 16 January 2013.
- ↑ "Love" entry in The Devil's Dictionary at Dict.org
- ↑ Jones, Russell (2008). Loan-Words in Indonesian and Malay. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 67. ISBN 978-979-461-701-4.
- ↑ "Cinta - KBBI Daring". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses tanggal 12 Juli 2026.
- ↑ "Paraphilia". DiscoveryHealth. Diarsipkan dari asli tanggal 12 December 2007. Diakses tanggal 16 December 2007.
- ↑ Lewis, Thomas; Amini, F.; Lannon, R. (2000). A General Theory of Love. Random House. ISBN 978-0-375-70922-7.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Langeslag, Sandra (2024). "Refuting Six Misconceptions about Romantic Love". Behavioral Sciences. 14 (5): 383. doi:10.3390/bs14050383. PMC 11117554. PMID 38785874.
- ↑ Aron, Arthur; Fisher, Helen; Mashek, Debra J.; Strong, Greg; Li, Haifang; Brown, Lucy L. (July 2005). "Reward, Motivation, and Emotion Systems Associated With Early-Stage Intense Romantic Love". Journal of Neurophysiology. 94 (1): 327–337. doi:10.1152/jn.00838.2004. PMID 15928068.
- ↑ Fisher, Helen E.; Aron, Arthur; Mashek, Debra; Li, Haifang; Brown, Lucy L. (2002). "Defining the Brain Systems of Lust, Romantic Attraction, and Attachment". Archives of Sexual Behavior. 31 (5): 413–419. doi:10.1023/A:1019888024255. PMID 12238608.
- ↑ Fisher, Helen; Aron, Arthur; Brown, Lucy (13 Nov 2006). "Romantic love: a mammalian brain system for mate choice". Philosophical Transactions of the Royal Society. 361 (1476): 2173–2186. doi:10.1098/rstb.2006.1938. PMC 1764845. PMID 17118931.
- 1 2 Holt World History: The Human Legacy. Holt, Rinehart, & Winston. 2008-01-01. ISBN 978-0-03-093780-4.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Emanuele, Enzo; Politi, Pierluigi; Bianchi, Marika; Minoretti, Piercarlo; Bertona, Marco; Geroldi, Diego (April 2006). "Raised plasma nerve growth factor levels associated with early-stage romantic love". Psychoneuroendocrinology. 31 (3): 288–294. doi:10.1016/j.psyneuen.2005.09.002.
- ↑ Sternberg, R.J. (1986). "A triangular theory of love". Psychological Review. 93 (2): 119–135. doi:10.1037/0033-295x.93.2.119.
- ↑
- Rubin, Zick (1970). "Measurement of Romantic Love". Journal of Personality and Social Psychology. 16 (2): 265–273. CiteSeerX 10.1.1.452.3207. doi:10.1037/h0029841. PMID 5479131.
- Rubin, Zick (1973). Liking and Loving: an invitation to social psychology. New York: Holt, Rinehart & Winston. ISBN 978-0030830037.
- ↑ Berscheid, Ellen; Walster, Elaine H. (1969). Interpersonal Attraction. Addison-Wesley Publishing Co. ISBN 978-0-201-00560-8. LCCN 69-17443.
- ↑ Peck, Scott (1978). The Road Less Traveled. Simon & Schuster. hlm. 169. ISBN 978-0-671-25067-6.
- ↑ Campbell, Lorne; Ellis, Bruce J. (2005). "Commitment, Love, and Mate Retention". Dalam Buss, David M. (ed.). The Handbook of Evolutionary Psychology. John Wiley & Sons, Inc.
- 1 2 3 Michod, Richard E. (1989). "What's love got to do with it? The solution to one of evolution's greatest riddles". The Sciences: 22–27. doi:10.1002/j.2326-1951.1989.tb02156.x.
- 1 2 3 Geher, Glenn (27 May 2022). "The Psychology of Feeling Unloved". psychologytoday.com. Psychology Today. Diakses tanggal 19 January 2024.
- ↑
- Lewis, C. S. (1960). The Four Loves.
- Kristeller, Paul Oskar (1980). Renaissance Thought and the Arts: Collected Essays. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-02010-5.
- ↑ Stendhal, in his book On Love ("De l'amour"; Paris, 1822), distinguished carnal love, passionate love, a kind of uncommitted love that he called "taste-love", and love of vanity. Denis de Rougemont in his book Love in the Western World traced the story of passionate love (l'amour-passioncode: fr is deprecated ) from its courtly to its romantic forms. Benjamin Péret, in the introduction to his Anthology of Sublime Love (Paris, 1956), further identified "sublime love", a state of realized idealisation perhaps equatable with the romantic form of passionate love.
- ↑ "Philosophy of Love". Internet Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 August 2017. Diakses tanggal 24 August 2017.
- ↑ Köves-Zulauf, Thomas (173), Reden und Schweigen, Munich: Fink
- ↑ Miller, JFK (2009-02-04). "Why the Chinese Don't Say I Love You". Diarsipkan dari asli tanggal 24 January 2010.
- 1 2 3 4 5 Ryang, Sonia (2006). Love in Modern Japan: Its Estrangement from Self, Sex and Society. Routledge. hlm. 13–14. ISBN 978-1-135-98863-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 July 2016. Diakses tanggal 3 February 2016.
- 1 2 3 4 Abe, Namiko. "Japanese Words for "Love": The Difference between "Ai" and "Koi"". About.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2014. Diakses tanggal 5 November 2014.
- ↑ Smith, Herman W.; Nomi, Takako (2000). "Is amae the Key to Understanding Japanese Culture?". Electronic Journal of Sociology. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2014-02-20.
- ↑
- Monier-Williams, Monier. "काम, kāma". Monier-Williams Sanskrit English Dictionary. Motilal Banarsidass. hlm. 271. Diarsipkan dari asli tanggal 19 October 2017.
- Lochtefeld, James (2002). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism. Vol. 1. New York: Rosen Publishing. hlm. 340. ISBN 0-8239-2287-1.
- ↑
- Morris, Kate (2011). The Illustrated Dictionary of History. Lotus Press. hlm. 124. ISBN 978-81-89093-37-2.
- Van Voorst, Robert E. (2012). RELG: World. Cengage Learning. hlm. 78. ISBN 978-1-111-72620-1.
- Prasad, Rajendra (2008). A Conceptual-analytic Study of Classical Indian Philosophy of Morals. History of Science, Philosophy and Culture in Indian Civilization. Vol. 12. Concept Publishing Company. hlm. 249–270. ISBN 978-81-8069-544-5.
- ↑ "Rig Veda". Book 10, Hymn 129, Verse 4. Diarsipkan dari asli tanggal 16 February 2018.
- ↑ The Hymns of the Rigveda. Vol. 2. Diterjemahkan oleh Griffith, Ralph T.H. Benares: E.J. Lazarus and Co. 1897. Book X, Hymn CXXIX, Verse 4, p. 575. Diarsipkan dari asli tanggal 10 April 2016.
- ↑ Wolpe, David (February 16, 2016). "We Are Defining Love the Wrong Way". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 February 2019. Diakses tanggal February 14, 2019.
- ↑ Dessles, Eliyahu. "Kuntres ha-Chesed". Michtav me-Eliyahu (dalam bahasa Ibrani). Vol. 1.
- 1 2 Pope Benedict XVI. "papal encyclical, Deus Caritas Est". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2011. Diakses tanggal 11 June 2008.
- ↑ Augustine of Hippo, "Homily 7 on the First Epistle of John", Homilies on First John, diterjemahkan oleh Browne, H., New Advent, 8
- 1 2 Augustine of Hippo. Confessions.
- ↑ Woo, B. Hoon (2013). "Augustine's Hermeneutics and Homiletics in De doctrina christiana". Journal of Christian Philosophy. 17: 97–117. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2023. Diakses tanggal 24 March 2014.
- 1 2 McLellan, Justin. "'Do you cry?' pope asks 800,000 young people at WYD; so does Jesus, he says". Diakses tanggal 9 August 2023.
- ↑ Brockhaus, Hannah (22 April 2020). "Pope Francis: The entirety of God's love is found in the crucifix". Diakses tanggal 9 August 2023.
- ↑ Pope Francis (18 January 2015). "Meeting with the young people in the sports field of Santo Tomas University". w2.vatican.va. Manila. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 February 2018. Diakses tanggal 24 February 2018.
- ↑ Nidoy, Raul (13 February 2015). "The key to love according to Pope Francis". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 February 2018. Diakses tanggal 24 February 2018.
- ↑ Tertulliam, Ad Scapulam, vol. I
- ↑ Lewisohn, Leonard (2014). Cambridge Companions to Religion. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 150–180.
- ↑ "The Four Kinds of Love". Paris Talks (Edisi 11th). Bahá'í Reference Library (dipublikasikan 1972). 4 January 1913. hlm. 179–181. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 August 2014. Diakses tanggal 4 September 2014.
- ↑ A. C. Bhaktivedanta Swami (29 November 1966). "Perfectly in Krishna Love". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2014. Diakses tanggal 7 January 2012.
- ↑ Hand-book of the Oneida Community. 1867. Diarsipkan dari asli tanggal 13 June 2010. Claims to have coined the term around 1850, and laments that its use was appropriated by socialists to attack marriage, an institution that they felt protected women and children from abandonment.[halaman dibutuhkan]
- ↑ McElroy, Wendy (1996). "The Free Love Movement and Radical Individualism". Libertarian Enterprise. 19: 1.
- ↑ "Free love - Connexipedia article". www.connexions.org. Diakses tanggal 2024-01-20.
- ↑ Spurlock, John C. (1988). Free Love, Marriage, and Middle-Class Radicalism in America. New York: New York University Press.
- ↑ Passet, Joanne E. (2003). Sex Radicals and the Quest for Women's Equality. Chicago: University of Illinois Press.
- 1 2 Laurie, Timothy; Stark, Hannah (2017), "Love's Lessons: Intimacy, Pedagogy and Political Community", Angelaki: Journal of the Theoretical Humanities, 22 (4): 69–79, doi:10.1080/0969725x.2017.1406048, S2CID 149182610, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 February 2023, diakses tanggal 3 January 2018
- ↑ Kierkegaard, Søren (1847). Works of Love.
Sumber
- Chadwick, Henry (1998). Saint Augustine Confessions. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-283372-3.
- Fisher, Helen (2004). Why We Love: the Nature and Chemistry of Romantic Love. New York : H. Holt. ISBN 978-0-8050-6913-6.
- Giles, James (1994). "A theory of love and sexual desire". Journal for the Theory of Social Behaviour. 24 (4): 339–357. doi:10.1111/j.1468-5914.1994.tb00259.x.
- Kierkegaard, Søren (2009). Works of Love. New York: Harper Perennial Modern Classics. ISBN 978-0-06-171327-9.
- Oord, Thomas Jay (2010). Defining Love: A Philosophical, Scientific, and Theological Engagement. Grand Rapids, MI: Brazos. ISBN 978-1-58743-257-6.
- Singer, Irving (1966). The Nature of Love. Vol. (in three volumes) (Edisi v.1 reprinted and later volumes from The University of Chicago Press, 1984). Random House. ISBN 978-0-226-76094-0.
- Sternberg, R.J. (1986). "A triangular theory of love". Psychological Review. 93 (2): 119–135. doi:10.1037/0033-295X.93.2.119.
- Sternberg, R.J. (1987). "Liking versus loving: A comparative evaluation of theories". Psychological Bulletin. 102 (3): 331–345. doi:10.1037/0033-2909.102.3.331.
- Tennov, Dorothy (1979). Love and Limerence: the Experience of Being in Love. New York: Stein and Day. ISBN 978-0-8128-6134-1.
- Wood Samuel E., Ellen Wood and Denise Boyd (2005). The World of Psychology (Edisi 5th). Pearson Education. hlm. 402–403. ISBN 978-0-205-35868-7.
Bacaan lanjutan
- Bayer, A, ed. (2008). Art and love in Renaissance Italy. New York: The Metropolitan Museum of Art.
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Cinta pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Entri basisdata #Q316 di Wikidata | |
- History of Love, Internet Encyclopedia of Philosophy
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
