Gaikindo Ingatkan Bahaya PHK Jika Hanya Mobil Listrik yang Diberi Insentif

Alasan Mobil Hybrid Layak Dapat Insentif

Jongkie menambahkan bahwa mobil elektrifikasi selain mobil listrik tidak membutuhkan infrastruktur pengisian daya yang masih terbatas di Indonesia saat ini, berbeda dengan mobil listrik murni yang sangat bergantung pada ketersediaan charging station. Apalagi kapasitas baterai yang digunakan jauh lebih kecil dibanding mobil BEV (Battery Electric Vehicles) murni. Jika BEV bisa menggunakan baterai berkapasitas besar untuk menempuh jarak ratusan kilometer, sementara mobil hybrid, PHEV, dan REEV cukup mengandalkan baterai kecil berkapasitas sekitar 80-100 kilometer saja. Baterai yang lebih kecil ini membuat harga jual kendaraan menjadi lebih terjangkau. “Harganya ini lebih terjangkau dibandingin mobil full BEV, karena baterainya kecil, yang ono gede. Ya kan? Betul sih bisa 700 kilo, 800 kilo. Tapi kita nggak perlu kok, yang kecil ini bisa 80 kilo, 100 kilo. Cukup,” kata Jongkie.

Dampak pada Industri Otomotif

Poin selanjutnya, mobil hybrid, plug-in hybrid, dan REEV masih menggunakan komponen-komponen kendaraan berbasis mesin bakar, seperti radiator, knalpot, hingga filter. Berbeda dengan mobil BEV yang sama sekali tidak memakai komponen-komponen tersebut. “Jadi saya nggak khawatir pabrik radiator tutup, pabrik knalpot tutup, pabrik filter tutup. Itu di mobil BEV kan nggak dipakai. Itu yang terjadi di Thailand. Nah kita jangan sampai begitu dong,” kata Jongkie. Gaikindo sejak awal telah mengusulkan agar insentif tidak hanya difokuskan pada mobil BEV. “Maka dari itu, waktu itu kami mengusulkan, Pak, tolong diperhatikan, ini mobil hybrid, plug-in hybrid, REEV. Jadi kalau nanti ada insentif, tolong dikasih deh. Nggak usah sama seperti BEV, tapi dikasih, karena ini juga bagus dan membantu program pemerintah,” katanya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Jongkie menilai dukungan terhadap mobil hybrid, plug-in hybrid, dan REEV sejalan dengan dua tujuan utama pemerintah dalam mengakselerasi kendaraan elektrifikasi, yakni mengurangi subsidi BBM dan menurunkan polusi sesuai perjanjian dalam Paris Agreement. “Program pemerintah itu purpose-nya apa, sih? Kan dua, ingin akselerasi mobil-mobil BEV supaya dua hal. Yang pertama, subsidi BBM bisa dikurangi. Yang kedua, karena kita menangani Paris Agreement, polusi harus diturunkan,” pungkasnya. Dengan demikian, pemberian insentif pada mobil hybrid, plug-in hybrid, dan REEV diharapkan dapat membantu meningkatkan penjualan kendaraan elektrifikasi di Indonesia, serta mengurangi dampak lingkungan yang negatif. Selain itu, hal ini juga dapat membantu menjaga keberlangsungan industri otomotif di Indonesia dan mencegah terjadinya PHK.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://oto.detik.com/berita/d-8574724/gaikindo-wanti-wanti-badai-phk-kalau-cuma-mobil-listrik-yang-dikasih-insentif, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *