Warga Bergotong Royong Perbaiki Jalan, Negara Fokus pada Infrastruktur
Warga di sejumlah daerah Indonesia menunjukkan semangat gotong royong dengan bergotong royong memperbaiki jalan dan infrastruktur lainnya yang rusak. Fenomena ini muncul hampir bersamaan di berbagai daerah, seperti Brebes, Lampung Timur, dan Bener Meriah, Aceh. Mereka mengumpulkan uang, menjual ternak, hingga merogoh tabungan pribadi agar akses yang setiap hari mereka lewati kembali bisa digunakan.
Momen Penentu di Brebes
Di Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, aksi warga yang rela urunan bahkan menjual ternak demi memperbaiki jalan rusak sempat viral pada September 2025. Kisah tersebut memantik simpati publik sekaligus memunculkan pertanyaan mengapa masyarakat harus menanggung biaya perbaikan jalan. Menanggapi sorotan itu, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma turun langsung ke lokasi.
Ia menjelaskan bahwa perbaikan ruas Jalan SalemâTembongraja sebenarnya telah dianggarkan sejak Maret 2025 sebesar Rp 700 juta, terdiri atas Rp 500 juta untuk peningkatan jalan dan Rp 200 juta untuk pemeliharaan. “Sebenarnya jalan ini sudah masuk anggaran sejak Maret. Kontrak dengan penyedia pun sudah diteken 28 Agustus, target rampung awal Oktober,” ujar Paramitha.
Apa yang Terjadi di Lampung Timur
Di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur, video warga yang bergotong royong mengecor jalan menggunakan molen dengan biaya hasil iuran masyarakat viral di media sosial. Ada warga yang menyumbang hingga Rp 8 juta. Di dusun lain, iuran berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per kepala keluarga. Semua dilakukan agar jalan menuju permukiman dan lahan pertanian tetap bisa dilalui.
Irul, salah seorang warga, mengatakan tradisi swadaya bukanlah hal baru di desanya. “Kalau di Bandar Agung memang sudah banyak yang seperti ini. Hampir tiap dusun punya cara sendiri untuk menggalang dana dan membangun jalan,” katanya.
Mengapa dan Dampak
Masyarakat melakukan aksi gotong royong karena lamanya penantian untuk perbaikan jalan. “Sudah sangat lama jalan ini tidak disentuh. Terakhir ada pokir dari dewan 2016, itu pun kecil, hanya Rp 200 juta. Belakangan belum ada lagi penanganan,” kata Santoyo, warga Tembongraja.
Pemerintah Kabupaten Brebes kemudian memastikan akan menambah alokasi anggaran menjadi Rp 2 miliar pada 2026 agar penanganan ruas tersebut dapat diselesaikan lebih cepat. Paramitha juga menegaskan pemerintah harus hadir setelah masyarakat menunjukkan pengorbanannya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Semangat gotong royong warga patut diapresiasi, namun pertanyaan besar tentang hadirnya negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat masih harus dijawab. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur, terutama jalan dan jembatan, agar masyarakat tidak harus menanggung biaya perbaikan sendiri.
Warga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur, sehingga aktivitas mereka dapat berjalan lancar dan hasil panen dapat diangkut dengan mudah. “Harapan masyarakat tentu Lampung Timur bisa lebih baik, terutama jalannya. Kalau jalannya bagus, aktivitas warga dan mengangkut hasil pertanian juga lebih mudah,” ujar Irul.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/news/read/8246442/ketika-warga-turun-tangan-bantu-negara-perbaiki-jalan, without altering the facts of the original article.