Warganet Terpesona Kebo-keboan Alasmalang, Tradisi Unik Tolak Bala dan Syukur Panen di Banyuwangi

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang, sebuah ritual unik yang digelar setiap bulan Muharram, kembali memukau warganet dengan keunikan dan kekayaan budayanya. Ritual ini menampilkan warga yang berdandan menyerupai kerbau dan diarak keliling desa sebagai simbol kehidupan agraris masyarakat setempat. Kebo-keboan Alasmalang menjadi salah satu tradisi yang masih lestari dan terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Alasmalang, Banyuwangi.

Ritual Unik Tolak Bala dan Syukur Panen

Ritual Kebo-keboan Alasmalang merupakan tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun dan masih terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Alasmalang. Ritual ini digelar sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan doa tolak bala agar hasil panen tidak diserang hama penyakit. Para petani membawa cambuk sebagai bagian dari prosesi yang menggambarkan aktivitas mengolah sawah. Bagi petani Desa Alasmalang, kerbau adalah simbol dari kesejahteraan dan kemuliaan.

Budayawan Banyuwangi, Aekanu Hariyono, mengatakan bahwa tradisi Kebo-keboan Alasmalang menyimpan makna yang lebih dalam. Tradisi ini menjadi wujud semangat kebersamaan masyarakat dalam memanjatkan doa kepada Tuhan, meski berasal dari latar belakang agama yang berbeda. “Di sini juga ada muatan permohonan yang dipanjatkan dari lintas agama, saya meyakini ada berbagai agama di sini bukan hanya Islam. Dan, bervariasi permohonan intinya tentang kesejahteraan, jadi tradisi ini menyimpan ribuan permohonan yang dipanjatkan dalam waktu bersamaan untuk kesejahteraan desa dan Banyuwangi,” kata Aekanu.

Nuansa Agraris dan Kearifan Lokal

Nuansa agraris dalam tradisi Kebo-keboan Alasmalang juga menjadi simbol gemah ripah loh jinawi, yang menggambarkan kondisi desa mereka sangat subur, makmur, kaya akan hasil bumi, serta aman dan tentram. “Yang paling tampak dari tradisi ini adalah komponen agraris ya, di mana ada penjor dan segala macam hasil bumi. Kalau kamu mau sejahtera, ya pelihara alamnya, ini adalah pesan yang terkandung dalam tradisi Kebo-keboan Alasmalang,” kata Aekanu.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut menghadiri ritual tersebut dan mengaku bangga melihat masyarakat Desa Alasmalang yang tetap memegang teguh tradisi dan terus berkreasi dalam melestarikan budaya daerah. “Saya sangat senang dan bahagia melihat seluruh masyarakat begitu bahagia dan kreatif,” kata Ipuk.

Dampak dan Makna Tradisi Kebo-keboan

Tradisi Kebo-keboan bukan hanya sekadar tradisi, tapi budaya yang membangun karakter. Dalam tradisi ini terkandung nilai kerja keras gotong royong dan disiplin dari masyarakat agraris. “Nilai ini sesuai dengan semangat Banyuwangi ‘tandang bareng’ kerja bersama, tumbuh bersama. Di mana semua capaian prestasi dan hasil kinerja Banyuwangi hasil gotong royong seluruh masyarakat,” kata Ipuk.

Wisatawan asal Michigan, Amerika Serikat (AS), Lara Cummings, mengaku terpukau dengan tradisi tahunan tersebut hingga mengikuti hampir seluruh rangkaian acaranya. “Saya merasakan kehangatan di sini karena semua orang datang bersama sama dan semuanya tersenyum, tertawa bahagia bersama sama, makan bersama dan melihat pertunjukan bersama,” kata Lara.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang masih terus dilestarikan dan menjadi salah satu ikon budaya Banyuwangi. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam melestarikan tradisi ini. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan stakeholder terkait untuk terus melestarikan tradisi Kebo-keboan Alasmalang.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/travel-news/d-8551571/kebo-keboan-alasmalang-tradisi-tolak-bala-syukur-panen-di-banyuwangi-pikat-turis-asing, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *