Psikolog: Membantah Bisa Jadi Tanda Positif Remaja, Tapi..

Psikolog Ungkap Alasan Remaja Sering Membantah, Bisa Jadi Tanda Positif Remaja sering membantah dan ingin memiliki ruang sendiri, yang dapat membuat orang tua merasa bingung. Namun, menurut psikolog Pritta Tyas, kondisi ini sebenarnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang remaja. Remaja usia 12 hingga 18 tahun sedang berada dalam fase pencarian identitas diri, sesuai teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson. Fase ini membuat remaja ingin diakui bahwa pikiran dan perasaannya valid. Mereka juga membutuhkan ruang untuk mencoba banyak hal sendiri tanpa terlalu banyak campur tangan orang tua. Menurut Pritta, inilah yang sering memunculkan konflik di rumah. Ketika anak mulai berkata, “Aku maunya begini” atau “Sekarang zamannya sudah beda,” orang tua sering menganggap itu sebagai bentuk pembangkangan. ## Momen Kritis dalam Perkembangan Remaja Pritta menjelaskan bahwa remaja yang sering membantah sebenarnya sedang membangun kemandirian. “Lebih baik anak remaja ngelak daripada jawab ‘terserah’ terus. Itu artinya dia sedang belajar punya pendapat,” ujarnya. Jika anak terlalu bergantung pada keputusan orang tua, mereka berisiko mengalami role confusion atau kebingungan identitas. ## Apa yang Terjadi pada Remaja? Remaja mulai ingin memiliki identitas diri sendiri dan memisahkan diri dari orang tua. Beberapa tandanya antara lain hubungan pertemanan menjadi lebih utama, kebutuhan privasi meningkat, keinginan mengeksplorasi kemampuan diri, hingga rasa malu jika terlalu ‘ditempeli’ orang tua di ruang publik. “Kadang orang tua dianggap memalukan bagi remaja, bukan karena mereka tidak sayang, tapi karena mereka sedang membangun identitas sosialnya sendiri,” kata Pritta. ## Mengapa Remaja Sering Membantah? Remaja sering membantah karena mereka sedang mencari identitas diri dan ingin diakui sebagai individu yang mandiri. Mereka juga ingin memiliki ruang untuk mencoba banyak hal sendiri tanpa terlalu banyak campur tangan orang tua. Menurut Pritta, orang tua perlu memahami bahwa memberi kebebasan bukan berarti melepas sepenuhnya. ## Dampak bagi Remaja ke Depan Orang tua tetap perlu hadir, tetapi dengan cara yang lebih adaptif: memberi kepercayaan, memantau seperlunya, dan tetap menghormati batas privasi anak. Lewat pengalaman-pengalaman kecil seperti mengatur jadwal sendiri, menentukan kegiatan, atau bepergian tanpa selalu diantar, remaja belajar self-management, mengambil keputusan, dan memahami konsekuensi. Menurut Pritta, proses inilah yang penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan memiliki identitas yang kuat. ## Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh Pritta menegaskan bahwa orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk membangun identitas diri. Dengan demikian, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan memiliki identitas yang kuat. Orang tua perlu memahami bahwa remaja yang sering membantah sebenarnya sedang membangun kemandirian dan mencari identitas diri.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://wolipop.detik.com/love/d-8554709/psikolog-ungkap-alasan-remaja-sering-membantah-bisa-jadi-tanda-positif, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *