Harga Bahan Baku Naik, Perajin Tahu Tempe Was-Was

Harga bahan baku yang terus naik membuat perajin tahu dan tempe was-was. Kenaikan beban biaya produksi dalam beberapa waktu belakangan telah membuat mereka mengurangi ukuran tahu dan tempe untuk menghemat biaya. Ketua Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta, Hedy Kuswanto, mengungkapkan bahwa kenaikan beban biaya produksi yang menekan produsen.

Kenaikan Biaya Produksi yang Signifikan

Hedy Kuswanto mengatakan bahwa harga kedelai impor di tingkat perajin berkisar Rp 10.800-11.100 per kilogram (kg). Angka ini masih di bawah harga acuan pembelian (HAP) pemerintah maksimal Rp 12.000 per kg di tingkat pengrajin. Namun, beban biaya produksi tak sebatas pada bahan baku. Ada beban lain yang berasal dari komponen pendukung, seperti harga bahan bakar minyak (BBM), biaya logistik, hingga kemasan plastik.

Dalam hitungannya, rata-rata kenaikan biaya produksi mencapai 32 persen. “Rata-rata kenaikan beban biaya produksi 36,24 persen,” ungkapnya. Hedy memberikan rincian kenaikan beban biaya produksi dari Januari-Juni 2026. Di antaranya BBM 32,58% yang berasal dari hitungan penggunaan BBM non subsidi Pertamax. Lalu, plastik kemasan naik 57,14%, serta ongkos angkutan logistik naik 20%.

Dampak Kenaikan Biaya Produksi

Kenaikan beban ini berdampak pada menipisnya margin keuntungan usaha pengrajin tahu-tempe. Kemudian, ukuran produk mengecil, menurunnya kapasitas produksi, sulitnya modal usaha, penurunan daya saing, hingga risiko berhentinya usaha. Perajin tahu dan tempe telah meminta pemerintah untuk membantu menstabilkan harga bahan baku dan memberikan subsidi.

Penanganan yang Diperlukan

Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) telah mendesak pemerintah segera merealisasikan program subsidi kedelai bagi pengrajin tempe dan tahu. Desakan itu muncul di tengah lonjakan biaya produksi yang dinilai semakin menekan keberlangsungan usaha para pengrajin. Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengatakan kondisi saat ini sudah semakin memberatkan pelaku usaha tempe dan tahu.

Karena itu, pihaknya menagih komitmen pemerintah untuk menjalankan program subsidi yang sebelumnya telah dibahas lintas kementerian. “Kondisi ini memberatkan perajin tempe tahu. Kami menagih janji pemerintah,” kata Wibowo. Gakoptindo telah mengirimkan surat kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan untuk meminta percepatan realisasi program sekaligus menyerahkan data calon penerima subsidi yang telah diverifikasi.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Perajin tahu dan tempe masih harus menunggu realisasi program subsidi kedelai dari pemerintah. Mereka berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan harga bahan baku dan memberikan subsidi untuk meringankan beban biaya produksi. Dengan demikian, mereka dapat menjalankan usaha dengan lebih stabil dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/bisnis/read/8196128/perajin-tahu-tempe-keluhkan-beban-biaya-produksi-naik, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *