25 Juli 1976(1976-07-25) (umur59) Jakarta, Indonesia
Pekerjaan
Penulis, guru
Bahasa
Indonesia
Kebangsaan
Indonesia
Periode
1940-an sampai 1973
Genre
Cerita pendek, sejarah
Zuber Usman (12 Desember 1916–25 Juli 1976) adalah penulis cerita pendek dan perintis kritik sastra Indonesia. Lahir di Padang, ia dididik di sekolah-sekolah Islam sejak kecil sampai tahun 1937, kemudian menjadi guru bahasa. Berkecimpung dalam penulisan cerpen selama pendudukan Jepang di Indonesia dan perjuangan perang kemerdekaan, ia terus mengajar dan menulis tentang sastra sampai akhir hayatnya.
Selama periode pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945) dan perjuangan perang kemerdekaan (1945–1949), ia menulis sejumlah cerita pendek yang umumnya berkaitan dengan tema ketekunan dan perjalanan menuju cinta sejati. Sebelas dari cerita pendek yang ia tulis kemudian disusun dalam antologi Sepanjang Jalan (dan beberapa cerita lain), yang diterbitkan pada tahun 1953 oleh Balai Pustaka; pada tahun 2005, buku itu telah mengalami cetakan ketiga.[4] Setelah itu, ia menerbitkan dua buku sejarah sastra Indonesia, yaitu Kesusastraan Lama Indonesia (1954) dan Kesusastraan Baru Indonesia (1957).[1] Kedua buku ini ditulis ringkas dan disusun berdasarkan urutan waktu.[5] Bekerja sama dengan H.B. Jassin, ia juga menerjemahkan beberapa karya Poerbatjaraka yang kemudian ditulis dalam Tjerita Pandji pada tahun 1958.[6] Pada tahun 1960, ia menerbitkan sebuah karya akademis mengenai bahasa dan sastra Indonesia berjudul Kedudukan Bahasa dan Sastra Indonesia.[2]
Zuber Usman lulus dari Universitas Indonesia pada tahun 1961 dengan meraih gelar sarjana sastra sebelum mendapatkan diploma pada tahun berikutnya.[1] Selama lima belas tahun sesudah itu, sampai ia meninggal di Jakarta pada tanggal 25 Juli 1976, ia menulis secara ekstensif dan telah menghasilkan beberapa buku di antaranya 20 Dongeng Anak-Anak (1971) dan Putri Bunga Karang (1973).[1]
Pandangan
Usman mengartikan sastra Melayu lama sebagai sastra yang ditulis sebelum munuclnya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Menurut ia, Abdullah lebih memperhatikan masalah yang dihadapi orang dalam kehidupan sehari-hari, berbeda dari cerita tradisional yang penuh "dewa-dewa, raksasa-raksasa atau dongeng jang muluk-muluk dengan puterinya jang tjantik djelita serta dengan istananja jang indah permai".[7] Ini bisa dibedakan dengan periodisasi yang lebih nasionalis, seperti yang dilakukan A. Teeuw, yang menekankan kesadaran "Indonesia".[7]
Mengenai kebijikan bahasa Balai Pustaka selama masa kolonial, Usman menulis bahwa bahasa Melayu yang diwajibkan lebih bebas daripada bahasa Melayu tulis tradisional. Meski demikian, ia mengaku bahwa terbitan-terbitan di luar Balai Pustaka lebih bebas dalam penggunaan bahasanya.[8]
Warisan
Guru besar sastra dan bahasa Indonesia di Universitas Sydney Keith Foulcher mencatat Zuber Usman sebagai perintis kritik sastra Indonesia.[9]
Zuber Usman merupakan orang yang pertama kali yang mengemukakan ide pembentukan Fakultas Sastra dan Sosial Budaya dalam makalah yang dipaparkannya pada seminar "Pembangunan Daerah Sumatera Barat" di Padang pada tahun 1964. Makalah tersebut menuntut agar sarana pendidikan di Sumatera Barat dikembangkan agar provinsi tersebut dapat mengikuti perkembangan nasional, setelah beberapa tahun sebelumnya diasingkan karena menjadi tempat duduknya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Namun, Usman tidak membantu dalam urusan administratif sehingga fakultas itu didirikan pada tahun 1982.[10]
Pencetus Buku Pelajaran Bahasa Indonesia
Zuber Usman termasuk pencetus buku Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Hal tersebut karena selain membuat buku tentang kebahasaan, ia juga membuat beberapa cerita dongeng yang kemudian menjadi koleksi unggulan perpustakaan sekolah.[11]
Zuber berkonsentrasi terhadap buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia, salah satunya dilatarbelakangi atas kegelisahannya agar anak-anak bangsa Indonesia paham dan mengerti dengan Bahasa Indonesia. Jati diri anak bangsa hanya akan tumbuh subur apabila generasi itu pandai berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Selain itu, pepatah "jika hendak mengenal bangsa, pelajarilah bahasanya" tidak hanya ditujukan bagi orang lain, tapi yang paling lebih dahulu memahami bahasa Indonesia adalah anak-anak Indonesia itu sendiri.
Materi pendidikan formal yang diterima Zuber lebih banyak dari lembaga pendidikan Islam, juga memengaruhi tingkat kepeduliannya yang lebih terhadap materi Pelajaran Bahasa Indonesia. Bahwa santri maupun pelajar pada lembaga pendidikan Islam lebih banyak menerima pelajaran bahasa pada tingkat dasar. Seyogyanya hal itu juga berlaku pada Pelajaran Bahasa Indonesia.
Lingkungan tempat Zuber dibesarkan, yaitu Ranah Minang Kabau, juga menjadi bagian perenungannya hingga melahirkan karya Pelajaran Bahasa Indonesia. Bahwa Bahasa Minang Kabau sangat dominan di kalangan pelajar, hampir-hampir mengalahkan Bahasa Indonesia, meski di sekolah.
Kebanyakan buku cerita dongeng Zuber Usman diterbitkan oleh Balai Pustaka. Dongeng-dongeng itu disukai anak-anak sekolah. Antara lain, Dua Puluh Dongeng Anak-anak (1971), Putri Bunga Karang (1973), Penawar Haus (1979) dan Rujak Manis (1979). Buku-buku tersebut telah menginspirasi banyak anak-anak yang membacanya. Begitu juga dengan novel karyanya, antara lain Hikayat Iskandar Zulkarnain (1956) dan Damar Wulan (1975).
Kontribusi Zuber Usman sebagai seorang sastrawan Indonesia yang memajukan pendidikan dan budaya (khususnya Budaya Midang Kabau) tidak saja melalui menerbitkan buku, juga gigih mengirimkan tulisannya ke media masa seperti koran dan majalah. Bahkan menyampaikan usulan secara langsung kepada pengambil keputusan terkait pendidikan dan kebudayaan kerap dia lakukan.
Christomy, Tommy (2008). Signs of the Wali: Narratives at the Sacred Sites in Pamijahan, West Java (dalam bahasa Inggris). Canberra: Australian National University. ISBN978-1-921313-69-1.