Yvonne Margaret Balding (nama lahir Barr; 11 Maret 1932 – 13 Februari 2016),[1] merupakan seorang ahli virologi berkebangsaan Irlandia yang berperan dalam penemuan virus Epstein–Barr (EBV).[2][3] Penemuan ini disebut sebagai "salah satu penemuan ilmiah terpenting abad ke-20" karena berhasil mengidentifikasi virus sebagai penyebab kanker pada manusia.[4]
Kontribusi Barr dalam penemuan EBV, atau human herpesvirus 4, sangatlah krusial. Ia bertanggung jawab dalam menyiapkan sampel untuk penelitian,[5] sekaligus mengidentifikasi ciri-ciri morfologis dan biologis virus tersebut.[6]
Pendidikan dan Karier
Barr pernah menjadi Kepala Prefek di Sekolah Menengah Banbridge Academy[7] dan meraih gelar dengan predikat kehormatan di bidang zoologi dari Trinity College, Dublin pada tahun 1953.[4][8] Setelah menyelesaikan pendidikannya, Barr bekerja di berbagai laboratorium penelitian kedokteran hewan dan kedokteran di Inggris dan Kanada.
Pada tahun 1955, Barr memulai kariernya sebagai asisten peneliti dan mengasah keterampilan laboratoriumnya. Selama bekerja di London National Institute for Medical Research, ia menguasai teknik propagasi sel, terutama teknik kultur sel. Dengan menggunakan teknik ini, ia meneliti bakteri yang diidentifikasi sebagai penyebab kusta atau penyakit Hansen. Saat bekerja di Universitas Toronto, tugasnya sebagai asisten peneliti mencakup penelitian tentang patogen yang berhubungan dengan virus distemper pada anjing.[4]
Pada tahun 1963, Barr dipekerjakan sebagai salah satu dari dua asisten peneliti pertama oleh Michael Anthony Epstein, seorang ahli patologi dan virologi asal Inggris yang menerima dana penelitian dari US National Institutes of Health (NIH).[9] Mereka bekerja di Bland-Sutton Institute of Pathology yang berlokasi di Rumah Sakit Middlesex, London, dan Epstein kemudian menjadi pembimbing untuk penelitian PhD-nya[5][10][11]
"Barr saat itu sudah terkenal karena keahlian laboratoriumnya yang sangat baik," dan kemampuannya dalam menumbuhkan sel di bawah kondisi terkontrol dianggap sebagai "kunci utama dalam penelitian ini," seperti yang diungkapkan Gregory J. Morgan dalam bukunya Cancer Virus Hunters; A History of Tumor Virology (2022). Hal ini terutama karena Epstein "mengalami kesulitan" dengan teknik propagasi sel. Menurut The Irish Times, Barr awalnya merasa bahwa Epstein "terlalu cepat membuang sel-sel yang masih bagus," sementara metode yang ia terapkan memungkinkan tim untuk menghasilkan sekelompok sel yang cukup besar. Hal ini memungkinkan Bert Achong, "ahli mikroskop elektron" yang merupakan asisten peneliti kedua Epstein, untuk mendapatkan gambar yang jelas sehingga Epstein dapat mengidentifikasi virus herpes baru.[4]
Pada tahun 1964, Barr dan Epstein berkolaborasi dan berhasil menemukan EBV.[10] Virus ini diberi nama berdasarkan kultur sel tempat virus tersebut diidentifikasi.[12] Sebelum menentukan hal-hal spesifik tentang EBV, Epstein, Barr, dan Achong menerbitkan penelitian awal mereka di The Lancet.[13] Para peneliti di Universitas Pennsylvania kemudian mengkonfirmasi bahwa virus baru tersebut merupakan penyebab jenis tumor yang tengah diteliti oleh tim peneliti tersebut.[4]
Pada tahun 1966. Barr lulus dari Universitas London dengan gelar PhD.[10] Saat dia menikah, pindah ke Australia, di sana ia tidak mendapat posisi penelitian, akhirnya dia menjadi guru fisika, biologi, kimia, dan matematika di berbagai sekolah menengah swasta.[14]
Kehidupan pribadi
Barr lahir di Carlow, County Carlow, Irlandia,sebagai anak tertua dari empat bersaudara pasangan Robert dan Gertrude Barr. Robert Barr adalah seorang manajer perbankan.[4] Dia meninggal di Melbourne, Australia pada usia 83 tahun.[1]
Pada tahun 1965, Barr menikah dengan seorang ahli kimia industri asal Australia, bernama Stuart Balding.[15] Pada tahun 1966, mereka pindah ke Australia dan dikarunia dua anak, Kirsten dan Sean Balding.[4]