Pada tanggal 26 Oktober 1937, saat pertahanan Tiongkok di Zhabei mulai goyah, Chiang Kai-shek berniat menarik seluruh pasukan Tiongkok untuk mempertahankan wilayah pedesaan di sebelah barat Shanghai. Ia memerintahkan penjabat komandan Wilayah Militer ke-3, Gu Zhutong, untuk meninggalkan Divisi ke-88 guna melindungi proses penarikan mundur tersebut. Gu memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Divisi ke-88 dan sangat menentang rencana ini; begitu pula komandan divisi tersebut, Sun Yuanliang, yang mengutus kepala stafnya, Zhang Boting, ke markas Gu untuk menyampaikan keberatan. Namun, keduanya ragu untuk menentang perintah Chiang secara langsung; Sun kemudian berpendapat bahwa jumlah pasukan yang ditinggalkan untuk melindungi penarikan mundur itu tidaklah menjadi masalah utama. Ia mengusulkan (melalui Zhang) agar hanya satu resimen yang ditinggalkan untuk mempertahankan satu atau dua wilayah berbenteng—sebuah rencana yang disetujui oleh Gu. Akan tetapi, sekembalinya ke markasnya sendiri, Sun merasa bahwa mengerahkan satu resimen akan mengakibatkan terlalu banyak nyawa yang terbuang sia-sia. Ia pun memutuskan untuk memerintahkan satu batalion yang diperkuat—yang secara teknis merupakan bagian dari Resimen ke-524 namun kekuatannya telah menyusut menjadi 423 personel—untuk mempertahankan markas divisi di Gudang Sihang. Xie Jinyuan, yang tergolong baru di Divisi ke-88, mengajukan diri untuk memimpin pasukan tersebut dan mengambil alih komando dari Yang Ruifu pada tanggal 26 Oktober.
Saat dipindahkan ke Resimen ke-524, Xie tidak mengenal satu pun prajurit yang berada di bawah komandonya. Ia memimpin pertahanan gudang tersebut dari tanggal 27 Oktober hingga 1 November. Lokasinya yang berdekatan dengan Kawasan Internasional Shanghai membuatnya terkenal di dunia dan menarik perhatian dunia terhadap perang antara Tiongkok dan Jepang, meskipun hanya untuk sementara waktu. Selama pertahanan, seorang pramuka perempuan Yang Huimin secara rahasia menyelipkan bendera Tiongkok kepada para pejuang.[1] Tentara yang melihat Yang membuka bajunya dan menyerahkan bendera menangis terharu. Xie Jinyuan berteriak, "Saudara-saudara pemberani, apa yang dipersembahkan kepada kita bukan hanya bendera agung negara kita, tetapi juga semangat tak tergoyah bangsa kita!" Xie memekik, "Saya akan mati bersama kalian di Gudang Sihang!". Ketika Yang bertanya kepada Xie tentang rencananya, Xie menjawab: "Bertahan sampai mati!" Terharu, Yang berjanji akan menyebarkan nama para pejuang sebagai pahlawan kepada segenap bangsa. Xie menyadari bahwa tindakan Yang akan memberikan informasi kepada pihak Jepang yang terkecoh memercayai bahwa yang menahan Gudang Sihang adalah satu resimen tempur, pahadal tidak. Namun, tidak ingin mengecewakan Yang, Xie memberikan sebuah daftar nama tentara dari Resimen ke-524 - 800 orang, hampir dua kali lipat jumlah tentara yang bertahan. Maka dari sana, pejuang yang berada di Gudang Sihang diberi julukan Delapan Ratus Pahlawan.[2]
Penangkapan
Xie dan anggota "Delapan Ratus Pahlawan" lainnya ditahan di kawasan Permukiman selama lebih dari tiga tahun. Selama masa penahanan tersebut, warga Shanghai kerap mengunjungi para prajurit untuk menyuguhkan pertunjukan dan hiburan. Para perwira membuka kelas bagi para prajurit, mengajarkan bahasa asing, matematika, dan bahkan teologi Kristen. Chen Wangdao, penerjemah Manifesto Komunis ke dalam bahasa Mandarin, juga sesekali mengunjungi kamp tersebut. Para prajurit menghabiskan hari-hari mereka dengan melakukan latihan militer. Kebiasaan mereka menyanyikan lagu kebangsaan Republik Tiongkok setiap hari terus-menerus diganggu oleh pihak berwenang asing, hingga akhirnya kegiatan tersebut dihentikan secara paksa dan keras oleh tentara bayaran Rusia Putih.
Jepang dan Pemerintahan Nasional Direorganisasi Republik Tiongkok pimpinan Wang Jingwei mencoba membujuk Xie dan narapidana lainnya untuk membelot kepada pihak mereka. Jepang menawarkan bahwa mereka akan dibebaskan dengan syarat mereka dilucuti senjata dan meninggalkan Shanghai sebagai pengungsi, namun Xie menolak. Wang Jingwei membujuknya dengan mengundangnya menjadi kepala staf di pasukannya, namun Xie marah memaki Wang, "Orang tua saya berdarah Tionghoa, dan putra mereka juga berdarah Tionghoa. Bangsa Tionghoa tidak pernah menjadi bangsa budak!".
Kematian
Pada pagi hari tanggal 24 April 1941, Xie dibunuh oleh Sersan Hao Dingcheng dan tiga tentara lainnya yang telah disuap oleh pemerintah kolaborator. Keempat pelaku segera ditangkap. Ketika mendengar kabar pembunuhan Xie, seluruh kota Shanghai berduka. Lebih dari 100.000 orang menghadiri pemakamannya.
Ia dianugerahi kenaikan pangkat anumerta menjadi mayor jenderal.[2] Pangkat anumerta tersebut diberikan pada 8 Mei 1941 dimana pemerintah Nasionalis memberikan surat perintah untuk mengangkat Xie Jinyuan menjadi mayor jenderal secara anumerta. 60,000 orang dari Shanghai memberi hormat kepada jasadnya. Lin Sen membuat spanduk yang bertulis "Teguh dan Setia" dan Chiang Kai-shek menulis sebuah prasasti untuk almarhum, "Teguh dan setia, ia gugur demi bangsanya. Darahnya bersinar di sebuah pulau terpencil untuk sepanjang masa. Arwah kepahlawanannya tidak akan pernah dilupakan. Mulai sekarang, ia bergaung di Sungai Huangpu".
Warisan
Atas keberanian Xie Jinyuan, lagu patriotik Lagu 800 Pahlawan, juga dikenal sebagai "Tiongkok tidak akan binasa" ditulis untuk mengenang perjuangan Xie dan 800 pasukannya, menjadi salah satu lagu patriotik Tiongkok yang dinyanyikan selama Perang Tiongkok–Jepang Kedua.[2] Xie diakui sebagai martir baik oleh pemerintahan Kuomintang dan juga oleh Partai Komunis Tiongkok yang kemudian berkuasa setelah perang berakhir. Xi Jinping pada 3 September 2014 menyatakan bahwa "ke-delapan ratus tentara Kuomintang (termasuk Xie) adalah perwakilan luar biasa terhadap bangsa Tionghoa yang tidak takut kekerasan dan siap berkorban demi bangsa".[3]