Wehib lahir pada tahun 1877 di Yanya, Vilayet Janina (kini Ioannina, Yunani), yang pada masa itu merupakan bagian dari Kekaisaran Utsmaniyah. Ia berasal dari keluarga terpandang di kota tersebut; ayahnya, Mehmet Emin Efendi, pernah menjabat sebagai wali kota. Asal-usul keluarganya diperdebatkan, apakah keturunan Albania[3][4][5][6] atau Turki.[1][2] Leluhur mereka ditelusuri hingga Taşkentli Mehmet Veliyettin Kaçıhan, seorang panglima Turki yang berpindah dari kawasan yang kini menjadi Tashkent, Uzbekistan, pada masa pemerintahan Sultan Murad II.
Ketika Undang-Undang Nama Keluarga diberlakukan di Kekaisaran, Vehib memilih nama keluarga "Kaçı", sementara saudara-saudaranya menggunakan "Bülkat" dan "Taşkent". Kakaknya, Esad Pasha, dikenal sebagai tokoh yang memimpin pertahanan di Gallipoli pada tahun 1915. Adiknya, Mehmet Nakyettin Bey, merupakan ayah dari Kâzım Taşkent, pendiri Yapı Kredi, bank swasta nasional pertama di Turki.
Vehib sendiri menempuh pendidikan di Sekolah Teknik Militer Kekaisaran (Mühendishane-i Berrî-i Hümâyûn) dan lulus pada tahun 1899. Ia kemudian melanjutkan ke Akademi Militer Utsmaniyah (Mekteb-i Erkân-ı Harbiye-i Şâhâne), tempat ia menamatkan pendidikan sebagai kapten staf, sebelum bergabung dengan Angkatan Darat Keempat yang saat itu ditempatkan di Yaman.
Pada tahun 1909, setelah peristiwa Insiden 31 Maret, ia dipanggil ke Konstantinopel dan mulai bekerja di Kementerian Perang. Tak lama kemudian, Mahmud Shevket Pasha mengangkatnya sebagai komandan Sekolah Kadet (setingkat sekolah menengah militer, Askerî İdadi). Pada masa ini, ia mencapai pangkat mayor.
Perang Balkan
Wehib sebagai reprentatic daring kakaknya yaitu Mehmet Esat menyerahkan kota Ioannina kepada Yunani.
Wehib Pasha berperan dalam berbagai front selama Perang Dunia I. Ia dikenal karena kepemimpinannya dalam Kampanye Gallipoli dan kemudian sebagai komandan Tentara Ketiga di Front Kaukasus.
Pada tahun 1915, Wehib memimpin Divisi ke-14 Utsmaniyah dalam Kampanye Gallipoli. Divisinya ditempatkan di sektor selatan semenanjung, terutama di Cape Helles, tempat pasukan Inggris dan Prancis mendarat pada 25 April. Di bawah komandonya, pasukan Utsmaniyah mampu menahan serangan awal dan memperlambat laju Entente meskipun menghadapi bombardemen laut dan keunggulan persenjataan musuh. Dalam Pertempuran Krithia, ia mengawasi pembangunan sistem parit pertahanan serta melancarkan serangan balasan yang berhasil menjaga garis pertahanan.
Setelah penarikan pasukan Entente dari Gallipoli, Wehib dipindahkan ke Front Kaukasus dan ditunjuk sebagai komandan Tentara Ketiga Utsmaniyah. Ia menghadapi pasukan Rusia di bawah Jenderal Nikolai Yudenich, tetapi mengalami beberapa kekalahan besar, termasuk jatuhnya Erzincan pada tahun 1916. Meskipun demikian, ia tetap memimpin hingga akhir perang. Walaupun tidak sepopuler Mustafa Kemal, Wehib Pasha dianggap sebagai salah satu komandan berpengalaman yang berperan dalam mempertahankan wilayah Utsmaniyah selama Perang Dunia I.
Wehib Pasha memimpin Divisi ke-14 Utsmaniyah selama Kampanye Gallipoli tahun 1915. Divisinya merupakan bagian dari Korps III yang ditempatkan untuk mempertahankan sektor selatan semenanjung, khususnya daerah Cape Helles tempat pasukan Inggris dan Prancis mendarat pada 25 April. Meskipun menghadapi kekuatan tembakan yang lebih besar dan bombardemen laut yang berat, pasukannya mampu memberikan perlawanan efektif dan memperlambat laju Entente.
Dalam Pertempuran Krithia yang berlangsung setelahnya, Wehib Pasha mengawasi pembangunan sistem parit pertahanan dan memimpin serangan balasan terhadap gempuran Entente yang berulang kali. Keahliannya sebagai insinyur militer turut berperan dalam memperkuat posisi pertahanan, yang terbukti penting dalam mempertahankan garis pertahanan di bawah tekanan terus-menerus.
Meskipun tidak seterkenal komandan Utsmaniyah lainnya seperti Mustafa Kemal, Divisi Wehib Pasha memainkan peran penting dalam menggagalkan upaya Entente untuk menembus Alçıtepe. Kepemimpinannya di Cape Helles menjamin stabilitas front selatan dan menjadi faktor penting dalam keberhasilan pertahanan Utsmaniyah di Gallipoli.
Di bawah komandonya, Tentara Ketiga berhadapan dengan pasukan Rusia yang dipimpin Jenderal Nikolai Yudenich. Kondisi pasukan Utsmaniyah sangat buruk, dengan kekurangan logistik, persenjataan, serta moral yang rendah akibat kekalahan sebelumnya. Pada pertengahan 1916, pasukan Rusia melancarkan ofensif besar yang berujung pada jatuhnya Erzincan, memaksa Tentara Ketiga mundur jauh ke barat. Meskipun Wehib berupaya melakukan reorganisasi dan memperkuat garis pertahanan, ia tidak mampu membalikkan keadaan.
Hingga Revolusi Rusia tahun 1917, Tentara Ketiga tetap berada dalam posisi defensif. Situasi baru ini memberi kesempatan bagi Utsmaniyah untuk merebut kembali sebagian wilayah di Kaukasus. Namun, masa jabatan Wehib di front ini lebih banyak dikenang karena kekalahan besar tahun 1916 dan runtuhnya kekuatan Ottoman di Anatolia timur. Walaupun demikian, ia tetap dianggap sebagai perwira berpengalaman yang berusaha menjaga stabilitas tentara di tengah kondisi sulit.
Genosida Armenia
Vehib Pasha secara berulang kali mengecam Genosida Armenia dan memberikan kesaksian yang menegaskan terjadinya peristiwa tersebut. Ia juga memberikan keterangan di hadapan Komisi Mazhar dalam rangkaian Pengadilan Istanbul 1919–1920.
Pembantaian dan penghancuran orang-orang Armenia serta perampasan dan penjarahan harta benda mereka adalah hasil dari keputusan yang diambil oleh Komite Pusat Ittihad [Turki Muda]... Kekejaman tersebut dilaksanakan berdasarkan suatu program yang telah ditetapkan dan melibatkan kasus nyata dari perencanaan sebelumnya. Telah [pula] dipastikan bahwa kekejaman dan kejahatan ini didorong oleh para jaksa distrik yang kelalaiannya dalam menjalankan tugas yudisial di hadapan peristiwa ini, dan terutama sikap mereka yang tetap acuh tak acuh, menjadikan mereka sebagai pihak yang turut serta dalam kejahatan-kejahatan ini.[12][13][14]
Sebagai kesimpulan, inilah keyakinan saya. Deportasi orang-orang Armenia dilaksanakan dengan cara yang sama sekali tidak pantas bagi kemanusiaan, peradaban, dan pemerintahan. Pembantaian dan pemusnahan orang-orang Armenia, serta penjarahan dan perampasan harta benda mereka, adalah hasil dari keputusan Komite Pusat Ittihad dan Terakki. Para jagal manusia, yang beroperasi di zona komando Tentara Ketiga, disediakan dan dikerahkan oleh Dr. Bahaeddin Şakir. Para pejabat pemerintah berpangkat tinggi tunduk pada arahan dan perintahnya... Ia singgah di semua pusat utama di mana ia secara lisan menyampaikan instruksinya kepada badan-badan lokal partai dan kepada otoritas pemerintah.[15]
Pada tahun 1916, Vehib menyadari bahwa sebuah batalion kerja yang terdiri dari sekitar 2.000 prajurit Turko-Armenia tiba-tiba menghilang. Belakangan ia menemukan bahwa seluruh batalion tersebut telah dieksekusi; para prajurit diikat berempat-berempat lalu ditembak mati. Marah atas peristiwa itu, ia memerintahkan penangkapan Kör Nuri, komandan gendarmerie yang membawahi batalion kerja, serta Çerkez Kadir, kepala gerombolan yang melaksanakan pembantaian. Vehib menggiring keduanya ke pengadilan militer dan menjatuhkan hukuman gantung, sekaligus memperingatkan pasukannya agar tidak melakukan kekejaman serupa.
Selain itu, Vehib juga berupaya menyeret Bahaeddin Şakir serta Gubernur Provinsi Ahmet Müammer Bey—yang diketahui mengeluarkan perintah pembantaian—ke meja pengadilan militer. Namun, Şakir berhasil melarikan diri, sementara Müammer dipindahkan keluar dari wilayah yurisdiksi Vehib. Di kemudian hari, Şakir akhirnya tewas dibunuh oleh kelompok Armenia dalam operasi pembalasan yang dikenal sebagai Operation Nemesis.[16][17]
Kehidupan Setelah Perang Dunia I
Perang Kemerdekaan Turki
Wehib tidak mengambil bagian dalam Perang Kemerdekaan Turki. Setelah kembali ke Konstantinopel pada akhir Perang Dunia I, ia diadili atas tuduhan penyalahgunaan jabatan dan dijebloskan ke Penjara Bekirağa. Ia kemudian berhasil melarikan diri ke Italia. Kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah baru Turki.
Selama pengasingannya, ia tinggal di Italia, Jerman, Rumania, Yunani, dan Mesir. Sikap antipatinya terhadap Mustafa Kemal sudah dikenal luas, dan ia tidak pernah menyembunyikan rasa muaknya terhadap pemimpin baru Turki itu—seseorang yang dahulu pernah bertugas di bawah komandonya di Gallipoli. Wehib tidak kembali ke Istanbul hingga tahun 1940.[18]
Ketika Italia melancarkan invasi ke Ethiopia pada Perang Italia–Ethiopia Kedua pada pertengahan 1930-an, Wehib secara sukarela bergabung untuk membela pihak Ethiopia. Di sana ia dikenal dengan sebutan Wehib Pasha dan menjabat sebagai kepala staf bagi Ras Nasibu, Panglima Besar Ethiopia di front selatan.
Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, ia berkata: “Di sanalah akan menjadi kuburan bagi Fasisme Italia. Ketika pasukan pribumi Italia mendengar nama saya, mereka akan membelot.” Wehib kemudian merancang sebuah garis pertahanan kuat untuk Ethiopia yang dikenal dengan sebutan “Tembok Hindenburg”, meniru nama garis pertahanan terkenal Jerman pada Perang Dunia I, yaitu Garis Hindenburg.
Namun, pertahanan tersebut berhasil ditembus oleh Italia dalam Pertempuran Ogaden pada April 1936. Setelah Ethiopia kalah perang, Wehib meninggalkan negara itu dan kembali ke Istanbul.[19]
Referensi
12Nizamoğlu, Yüksel (2010). "Vehip Paşa (Kaçı)'nın Hayatı ve Askeri Faaliyetleri"(PDF) (dalam bahasa Turki). Istanbul University Institute of Social Sciences. Diakses tanggal 12 September 2025. Vehip Paşa'nın ağabeyi Esat Paşa kendi yazdığı biyografisinde; 1456 tarihinde Selanik'e gelmiş olan Taşkentli Mehmet Kaçı'nın ahfadındanım. Mehmet Kaçı II.Murat zamanında Yanya'yı teslim alan kimsedir. Dedem Yanya İlçesi Emlak Müdürü Vehib Efendi'nin torunu ve Yanya Belediye Başkanı Mehmet Emin Efendi'nin oğludur(oğluyum). şeklinde ataları hakkında bilgiler vermektedir. Benzer ifadeleri Vehip Paşa'nın kardeşi olan Nakıyüddin Efendi'nin oğlu Kazım Taşkent'in ifadelerinde de görmek mümkündür. Kazım Taşkent bizzat kaleme aldığı biyografisinde soyunu şöyle anlatır: … Soyum 1423 yılında Taşkent'ten Yanya'ya, anam soyum ise Kırım'dan Preveze'ye hicret ettikleri tarihten Yunanlılar tarafından bu yerlerin işgaline kadar, orada yaşadılar.
12Atacanlı, Sermet (2023). "Mehmet Vehip (Kaçı) Paşa"(PDF) (dalam bahasa Turki). Çanakkale Savaşları Ansiklopedisi. Diakses tanggal 12 September 2025.
12Vehib Pasha, the Albanian, was perhaps a tiger; but he was likewise both valiant soldier and grand- seigneur. (Rafael de Nogales, Four Years Beneath the Crescent, C. Scribner's sons, 1926, p. 22.)
12The Ottoman Albanian Vehib Pasha spoke to the Armenians in the language that any romantic nationalist could comprehend, and his point was clearly to cow his opponents with the depth of Ottoman determination. (Michael A. Reynolds, The Ottoman-Russian Struggle for Eastern Anatolia and the Caucasus, 1908-1918: Identity, Ideology and the Geopolitics of World Order, Volume 1, Princeton University, 2003, p. 424.)
12Vehib Pasha said I've been the commander of the Caucasian front for one and a half years. I researched Caucasians and learned. You Caucasians love cleanliness like us Albanians. I won't make these dirty Turkish soldiers to enter into the Caucasus, especially with this guise. (Vehip Paşa «Ben bir buçuk yıldır Kafkas cephesi kumandanıyım. Kafkasyalıları tetkik ettim öğrendim. Siz Kafkasyalılar da, biz Arnavutlar gibi temizliği seviyorsunuz. Bu pis Türk neferlerini, hem de bu kılıkta Kafkasya'ya sokamam.» diyor., Naki Keykurun, Azerbaycan İstiklâl Mücadelesinin Hatıraları, Azerbaycan Gençlik Derneği, 1964, p. 64.)