Warung HikSolo merupakan jenis warung makan tradisional khas Kota Surakarta (Solo) yang identik dengan suasana sederhana dan bersifat merakyat. Warung ini umumnya beroperasi pada malam hari dan menggunakan gerobak sebagai tempat berjualan. Menu yang disajikan di warung Hik meliputi makanan dalam porsi kecil seperti nasi kucing, aneka gorengan, serta berbagai jenis minuman hangat yang dikenal sebagai wedangan. Warung Hik tidak hanya berfungsi sebagai tempat makan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial bagi masyarakat setempat, terutama kalangan muda dan pekerja malam. Pada tahun 2021, Warung Hik Solo resmi ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).[1]
Sejarah
Warung Hik Jaman Dulu
Sejarah Hik di Kota Surakarta dapat ditelusuri sejak masa kolonial Hindia Belanda, khususnya pada awal abad ke-20. HIK merupakan kependekan dari Hidangan Istimewa Kampung.[2] Pada tahun 1902, Kota Surakarta mulai mengalami perkembangan sebagai pusat perkotaan yang semakin ramai. Beberapa kawasan telah teraliri listrik, sehingga suasana malam hari menjadi lebih terang dan hidup.[3]
Eetstalletje op Java, Warung Hik Jaman Dulu (2)
Perubahan ini mendorong percepatan pertumbuhan kota, ditandai dengan munculnya berbagai hiburan malam seperti pertunjukan layar tancap di alun-alun, bioskop di kawasan Taman Kebonrojo dan Sriwedari, serta fenomena urbanisasi yang khas. Kondisi tersebut menarik minat sejumlah pedagang dari wilayah Klaten untuk merantau ke Surakarta. Pada malam hari, mereka mulai menjajakan makanan ringan kepada para penonton hiburan malam. Pada masa itu, metode berjualan masih sederhana, yakni menggunakan pikulan, bukan gerobak atau lapak tetap. Para pedagang tersebut umumnya berkeliling menyasar lokasi-lokasi ramai seperti Taman Sriwedari dan Pasar Pon. Aktivitas para penjaja makanan keliling inilah yang kemudian dianggap sebagai embrio lahirnya HIK.[4]
Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, salah satu tokoh penting dalam sejarah awal HIK adalah Mbah Karso Dikromo, seorang perantau asal Klaten yang mulai berdagang di Surakarta pada dekade 1930-an. Ia memulai usahanya dengan menjual terikan, yakni hidangan berkuah kental khas Jawa Tengah yang disajikan bersama lauk seperti tempe atau daging. Seiring waktu, variasi menu yang ditawarkan semakin beragam, mencakup berbagai jenis minuman, sate jeroan, hingga nasi kucing. Menu-menu inilah yang kemudian menjadi ciri khas dan identitas tetap dari warung HIK hingga masa kini.[5]
Perbedaan Hik dengan Angkringan
Perbedaan utama antara keduanya terletak pada asal-usul dan penyebutan. Istilah Hik lazim digunakan di wilayah Surakarta (Solo) dan sekitarnya, sedangkan sebutan angkringan lebih dikenal di wilayah Yogyakarta. Meskipun memiliki perbedaan nomenklatur regional, keduanya pada dasarnya mengacu pada bentuk usaha kuliner serupa, yakni warung tenda dengan harga terjangkau dan suasana santai.[6]