Vaginoplasti (vaginoplasty) adalah prosedur bedah untuk membuat, mengkonstruksi, atau merekonstruksi vagina. Vaginoplasti merupakan salah satu jenis dari genitoplasti. Vaginoplasti dapat dibutuhkan seperti pada kasus ditemukannya kelainan kongenital pada vagina atau pada uretra atau rektum, pada saat setelah pengangkatan sel kanker atau abses yang mengganggu struktur atau fungsi vagina, serta pada beberapa kasus lainnya seperti turunnya kandung kemih (sistosel) atau rektum (rektosel) ke arah vagina.[1] Konstruksi vagina melalui vaginoplasti dapat dilakukan pada kasus kelainan bawaan lahir seperti hiperplasia adrenal kongenital yang dapat memengaruhi struktur dan fungsi dari vagina, atau ketika vagina tidak terbentuk pada tubuh.[2] Vaginoplasti juga dapat dilakukan terhadap bayi yang lahir dengan mikrofalus, penderita agenesis Müller dengan hipoplasia vagina, wanita transgender atau transseksual, serta pada wanita yang telah menjalani vaginektomi akibat maligna atau trauma.[3][4]
Kegunaan medis
Vaginoplasti dapat mencakup beberapa prosedur pembedahan sebagai berikut.
Pemisahan uretra dan vagina yang menyatu akibat kelainan bawaan lahir[5]
Beberapa kondisi seperti hiperplasia adrenal kongenital (congenital adrenal hyperplasia, CAH) menyebabkan virilisasi pada perempuan akibat kurangnya enzim 21-hidroksilase. Sejumlah prosedur yang tercatat pernah dilakukan dilakukan terhadap orang dengan CAH adalah pengecilan klitoris, labiaplasti, pembuatan vagina, serta dilasi terhadap vagina.[11] Atresia atau ketiadaan vagina saat lahir dapat menjadi alasan lain untuk pembuatan vagina.[12] Vaginoplasti juga ada pada rangkaian prosedur dalam penanganan perempuan yang lahir dengan kandung kemih yang berada di luar abdomen. Setelah prosedur, beberapa pasien dapat hamil dan melahirkan tetapi berisiko mengalami prolaps.[1]
Vaginoplasti dapat dilakukan pada anak-anak atau remaja dengan kondisi interseks atau gangguan perkembangan seks.[13] Terdapat kekhawatiran mengenai etika pada vaginoplasti dan pembedahan organ kelamin lainnya yang dilakukan pada anak-anak yang belum cukup umur untuk mengerti dan memberi izin terhadap penanganan medis yang dilakukan terhadap tubuhnya.[14][15] Kekhawatiran ini juga mencakup fungsi seksual pascaoperasi[16] serta asumsi heteronormativitas.[17] Tidak terdapat pandangan konsensus di kalangan medis mengenai kepentingan, waktu, cara, atau evaluasi pelaksanaan prosedur-prosedur tersebut.[11]
↑Horbach, Sophie E.R.; Bouman, Mark-Bram; Smit, Jan Maerten; Özer, Müjde; Buncamper, Marlon E.; Mullender, Margriet G. (2015). "Outcome of Vaginoplasty in Male-to-Female Transgenders: A Systematic Review of Surgical Techniques". The Journal of Sexual Medicine. 12 (6): 1499–1512. doi:10.1111/jsm.12868. ISSN1743-6095.
12Lee PA, Nordenström A, Houk CP, Ahmed SF, Auchus R, Baratz A, etal. (2016). "Global Disorders of Sex Development Update since 2006: Perceptions, Approach and Care". Horm Res Paediatr. 85 (3): 158–80. doi:10.1159/000442975. ISSN1663-2818. PMID26820577.