Pada mulanya hanya terdapat Musim Dingin, karena tak sanggup menanggung kesepian, ia memilih untuk untuk membagi sebagian esensinya dan melahirkan Musim Semi. Atas kehendak Ibu Pertiwi, ia kembali membagi sebagian esensinya untuk melahirkan Musim Panas dan Musim Gugur, sehingga dimulailah siklus empat musim. Para Dewa memutuskan untuk memercayakan peran mereka kepada makhluk-makhluk Ibu Pertiwi, tetapi tak satu pun dari mereka yang mampu mengemban tugas tersebut. Umat manusia akhirnya dihadapkan dengan keputusasaan, mereka bersedia menjalankan kewajiban tersebut dengan imbalan kedamaian, kemakmuran, dan kestabilan di negerinya. Keempat Musim pun menganugerahkan kekuatan mereka kepada manusia sebagai Utusan Empat Musim.
Pengantar
Setiap negara memiliki versinya masing-masing tentang asal-usul dunia, meski mereka sepakat mengenai sifat musim, siang, dan malam. Musim dibawa oleh para Utusan, manusia yang dipercaya mengemban tugas ini oleh para dewa dengan nama yang sama, sementara siang dan malam tercipta dari panah yang dilesatkan ke langit oleh Pemanah Fajar dan Senja.
Keselamatan mereka terancam oleh "Pemberontak", yakni para individu yang membenci keempat musim atau siklus siang dan malam. Oleh karena itu, setiap Utusan dan Pemanah memiliki pengawalnya masing-masing. Pengelolaan dan perlindungan tokoh-tokoh ini dijalankan di bawah lembaga otonom maupun pemerintah.
Ceritanya berlatar pada masa kini di kepulauan Yamato, yang dikenal sebagai "Pohon Sakura Timur", yang merujuk pada susunan dahan bunga sakura dari pulau-pulaunya—Enishi, Teishu, Iyo, Tsukushi, dan Ryugu—yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
Seri novel ini dimulai pada 10 Februari, Tahun ke-20 Era Reimei, dengan kembalinya Hinagiku Kayo—seorang Utusan Musim Semi, setelah diculik oleh para Pemberontak selama sepuluh tahun—masa di mana musim semi tak kunjung tiba. Bersama pengawalnya, Sakura Himedaka, ia menuju kuil di Puncak Ryugu, tempat keduanya diam-diam ingin melaksanakan ritual pemanggilan musim semi. Namun, tujuan mereka sedikit berubah setelah bertemu seorang gadis di perjalanan ke puncak, dan pada akhirnya mereka berhasil menjalankan ritual tersebut dan memanggil kembali Musim Semi.
Kelanjutan cerita berfokus pada Utusan-utusan lainnya beserta para Penjaga mereka, mengisahkan perjalanan masing-masing serta perkembangan baru setelah kembalinya Hinagiku.