Upacara Tawur Kesanga YogyakartaUmat Hindu mengikuti upacara Tawur Agung Kesanga mengelilingi Candi Prambanan, Yogyakarta dalam rangka Hari Raya Nyepi
Upacara Tawur Kesanga Yogyakarta merupakan ritual umat Hindu yang diadakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi untuk menyucikan alam semesta dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Upacara ini juga dikenal sebagai Bhuta Yadnya, yang bertujuan untuk memohon kesejahteraan dan keselarasan alam.[1]
Prosesi
Tawur Agung atau Tawur Kesanga merupakan upacara yang dilaksanakan sehari menjelang Hari Raya Nyepi, dan bertepatan dengan Tilem Sasih Kesanga (bulan mati kesembilan dalam penanggalan Bali). Upacara ini dilakukan pada siang hari sebagai bentuk ritual pecaruan atau tawur, yang artinya “membayar” atau “mengembalikan” sari-sari alam yang telah digunakan oleh manusia. Tujuan pelaksanaan Tawur Agung adalah memulihkan keselarasan dengan alam semesta melalui persembahan kepada Bhuta, sehingga energi-energi tersebut tidak mengganggu manusia, tetapi dapat hidup berdampingan dengan harmonis (butha somya).[2]
Upacara Tawur Agung di Kompleks Candi Prambanan diikuti oleh umat Hindu dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ritual ini merupakan salah satu rangkaian prosesi menjelang Hari Raya Nyepi atau pergantian Tahun Baru Saka yang dilaksanakan setiap tahun guna menjaga keselarasan hubungan antara Buana Agung (alam semesta) dan Buana Alit (umat manusia).[2]
Rangkaian upacara diawali dengan prosesi Mendak Tirta, yaitu pengambilan air suci dari sumber mata air di kawasan Keraton Ratu Boko, kemudian dilanjutkan dengan prosesi Mendak Tirta di area Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu. Setelah itu, dilakukan prosesi pradaksina, yakni mengelilingi Candi Siwa sebanyak tiga kali searah dengan putaran jarum jam. Air suci yang telah diambil selanjutnya dibawa ke pelataran Candi Prambanan, tempat berlangsungnya Upacara Tawur Agung.[3] Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta dengan didampingi para wasi dan dilaksanakan tepat pada tengah hari, saat matahari berada di titik puncaknya.[3]
Makna
Upacara ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Ritual ini mengandung makna spiritual yang mendalam, sebagai pengingat bagi umat untuk senantiasa mengamalkan kebijaksanaan dalam kehidupan serta menjaga kelestarian alam. Selain itu, pelaksanaan upacara ini juga berfungsi sebagai momentum untuk mempererat solidaritas dan memperkokoh hubungan persaudaraan, baik antarumat Hindu maupun dengan masyarakat sekitar.[4]
Rujukan
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.