Unit 731 (Jepang: 731部隊code: ja is deprecated , Hepburn: Nana-san-ichi Butai), secara resmi dikenal sebagai Detasemen Manchu 731 dan juga disebut sebagai Detasemen Kamo[6] dan Unit Ishii,[7] adalah fasilitas penelitian rahasia yang dioperasikan oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang antara tahun 1936 dan 1945. Fasilitas ini berlokasi di distrik Pingfang, Harbin, di negara boneka Jepang Manchukuo (sekarang bagian dari Tiongkok Timur Laut), dan memiliki banyak cabang di seluruh Tiongkok daratan dan Asia Tenggara.
Unit 731 bertanggung jawab atas penelitian perang biologis dan kimia skala besar, serta eksperimen manusia yang mematikan. Fasilitas ini dipimpin oleh Jenderal Shirō Ishii dan mendapat dukungan kuat dari militer Jepang. Aktivitasnya meliputi menginfeksi tahanan dengan penyakit mematikan, melakukan viviseksi, pengambilan organ, pengujian ruang hipobarik, amputasi anggota tubuh, dan paparan korban terhadap agen kimia dan bahan peledak. Tahanan—sering disebut sebagai "batang kayu" oleh staf—sebagian besar terdiri dari warga sipil Tiongkok, tetapi juga termasuk orang Rusia, Korea, dan lainnya, termasuk anak-anak dan wanita hamil. Tidak ada korban selamat yang tercatat.
Diperkirakan 14.000 orang tewas di dalam fasilitas tersebut.[8] Selain itu, senjata biologis yang dikembangkan oleh Unit 731 menyebabkan kematian antara 200.000[9] hingga 500.000[10][11] orang di kota-kota dan desa-desa Tiongkok, melalui pencemaran sengaja terhadap pasokan air, makanan, dan lahan pertanian.
Setelah perang, dua belas anggota Unit 731 diadili oleh Uni Soviet dalam pengadilan kejahatan perang Khabarovsk tahun 1949 dan dijatuhi hukuman penjara. Namun, banyak tokoh kunci, termasuk Ishii, diberikan kekebalan hukum oleh Amerika Serikat sebagai imbalan atas data penelitian mereka. Pemerintahan Truman menyembunyikan kejahatan unit tersebut dan membayar tunjangan kepada mantan personelnya.[12][13]
Pada tanggal 28 Agustus 2002, Pengadilan Distrik Tokyo secara resmi mengakui bahwa Jepang telah melakukan perang biologis di Tiongkok dan menyatakan negara tersebut bertanggung jawab atas kematian yang terkait.[14][15]
Sejarah
Shirō Ishii, pemimpin unit 731.
Pada tahun 1932, Ishii Shiro mendirikan suatu Laboratorium Pencegahan Epidemik di sekolah medis militer Tokyo dan Unit Togo di desa Bei-inho, sebelah tenggara kota Harbin.[16] Laboratorium ini sempat ditutup pada tahun 1934 karena 12 orang tawanan perang lari dari fasilitas tersebut dan pasukan gerilya Cina berhasil menyerang pasukan Ishii.[16] Dua tahun kemudian, Unit Togo dibuka kembali dan berganti nama menjadi Departemen Pencegahan Epidemik Tentara Kwantung (Unit Ishii) dan pada tahun 1940 diubah kembali menjadi Departemen Pencegahan Epidemik dan Purifikasi Air (menjadi Unit 731 pada tahun 1941).[16] Selain di Manchuria, militer Jepang juga memiliki cabang di Beijing (Unit 1855), Nanking (Unit 1644), Guangzhou (Unit 8604), dan Singapura (Unit 9420) dengan total 20.000 staf secara keseluruhan.[16] Masing-masing cabang melakukan eksperimen biologi dan kimia yang telah dikembangkan oleh Unit 731.[16]
Salah satu pendukung utama Ishii dari dalam Angkatan Darat adalah Kolonel Chikahiko Koizumi, yang kemudian menjadi Menteri Kesehatan Jepang sejak 1941 hingga 1945.
Kegiatan
Eksperimen senjata biologi
Unit 731 melakukan eksperimen pembuatan senjata biologi dengan menginfeksi tawanan perang dengan pes, antraks, kolera, wabah demam berdarah, radang dingin (frostbite), dan bahkan penyakit menular seksual.[17][18] Walaupun sulit untuk mengetahui jumlah korban yang meninggal, diperkirakan sekitar 3.000 tawanan meninggal dunia akibat eksperimen yang dilakukan Jepang ini.[17] Para dokter yang bertugas di Unit 731 melakukan perbanyakan bakteri atau viruspatogen pada organ tubuh manusia kemudian menyebarkannya ke warga desa sekitar ketika telah didapatkan jumlah patogen yang mencukupi.[18] Organ tubuh tersebut didapatkan dari hasil pembedahan tubuh tawanan.[18] Berbagai pembedahan bagian tubuh dilakukan untuk melihat efek dari suatu senjata biologi.[18] Namun, pembedahan dan eksperimen yang dilakukan Jepang berlangsung dengan sadis, diantaranya adalah transfusi darah binatang ke manusia, pemecahan bola mata, pemotongan anggota tubuh dan menyambungkannya kembali ke sisi yang berlawanan, hingga percobaan pada bayi dan anak kecil yang menyebabkan kematian.[18]
Untuk melihat efek dari penyakit yang tidak dirawat, Jepang menginfeksi pria dan wanita dengan sifilis, membekukan manusia kemudian dicairkan kembali untuk mempelajari efek pembusukan daging, menempatkan manusia pada ruangan bertekanan tinggi, dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya.[19] Mayat-mayat korban yang telah diambil organ dalamnya kemudian dibuang dan dibakar dengan krematorium.[20]
Uji senjata
Selain digunakan untuk uji senjata biologi, para tawanan juga dimanfaatkan untuk uji senjata.[19] Para tawanan diikat pada jarak tertentu, diposisikan dengan sudut berbeda kemudian dilempar dengan granat, penyembur api, maupun bahan peledak.[19] Hal ini dilakukan untuk mengukur posisi dan kisaran terbaik untuk pelepasan senjata tersebut.[19]
Akhir perjalanan
Pada Agustus 1945, seluruh gedung dan peralatan Unit 731 dimusnahkan dan Jenderal Ishii Shiro kembali ke Jepang dengan naik pesawat. Dia menemui GHQ untuk meminta imunitas bagi bagi staf Unit 731 dan menukarnya dengan pengetahuan Jepang dalam pengembangan senjata kimia dan biologi.[16] Pada September 1947, Amerika sepakat untuk tidak menuntut Jepang terhadap kejahatan perang yang telah mereka lakukan.[16] Ini karena tidak cukup bukti eksperimen manusia. Beberapa personel medis Unit 731 masih dapat menduduki posisi penting di dalam masyarakat Jepang, contohnya Jenderal Masaji Kitano.[20] Kitano adalah orang yang menunjuk Ishii Shiro untuk memimpin Unit 731.[20] Dia tetap menjadi orang penting di Jepang karena menjadi direktur dari Green Cross Corporation, perusahaan ternama di Jepang yang memproduksi berbagai produk darah.[20] Ishii Shiro meninggal pada usia 69 tahun karena kanker tenggorokan (laring).[21] Selain itu, Dr. Tachiomaru Ishikawa, yang menjabat sebagai kepala tim patologi di Unit 731, adalah otoritas terkemuka yang membuktikan efektivitas akupunktur dan moksibusi menggunakan teknik medis modern setelah perang. Dr Ishikawa menemukan perubahan refleks dinding visceral tubuh dan elektrode kulit yang disebabkan oleh akupunktur. Demikian pula, Dr. Hisato Yoshimura, yang merupakan kepala Kelompok Penelitian Fisiologi Manusia, memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan Masyarakat Fisiologi pascaperang, dan merupakan pionir dalam penciptaan disiplin baru yang disebut biometeorologi, yang mengkaji hubungan antara manusia. tubuh dan cuaca.
Secara khusus, tidak ada keraguan bahwa eksperimen medis yang dilakukan oleh Unit 731 memberikan kontribusi besar pada hampir semua bidang medis setelah perang, termasuk penyakit menular, patologi, farmasi, bedah, anestesiologi, fisiologi, dan bedah saraf. Misalnya, sejauh mana organ dapat diangkat selama perawatan bedah untuk penyakit seperti kanker sangat ditentukan oleh hasil penelitian tim patologi Unit 731. Kozo Okamoto, kepala tim patologi lain di Unit 731, yang membuktikan bahwa genetika memainkan peran besar dalam hal-hal seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.
Setelah perang, ia menciptakan tikus hipertensi secara artifisial dan membuktikan bahwa tekanan darah tinggi juga merupakan faktor genetik.
↑Liu, Huaqiu, ed. (2000). 军备控制与裁军手冊[Handbook on Arms Control and Disarmament] (dalam bahasa Tionghoa). National Defense Industry Press. hlm.368. ISBN7-118-02282-9.
↑Materials on the Trial of Former Servicemen of the Japanese Army Charged With Manufacturing and Employing Bacteriological Weapons. Foreign Languages Publishing House. 1950.
↑Novick, Lloyd and Marr, John S. Public Health Issues Disaster Preparedness, (Google Books), Jones & Bartlett Publishers, 2001, p. 87, (ISBN0763725005).
↑Guillemin, Jeanne (2017). Hidden Atrocities: Japanese Germ Warfare and American Obstruction of Justice at the Tokyo Trial. Columbia University Press. ISBN978-0-231-18352-9.
1234567(Inggris) Miki Y. Ishikida (2005). Toward Peace: War Responsibility, Postwar Compensation, and Peace Movements and Education in Japan. iUniverse, Inc. ISBN 978-0-595-35063-6.Page.52-55
12(Inggris) Eric Croddy (2001). Chemical and Biological Warfare: A Comprehensive Survey for the Concerned Citizen. Springer. ISBN 978-0-387-95076-1.Page.224