Bani Saud telah diasingkan di Kuwait sejak 1893, setelah kehancuran Negara Saudi Kedua dan kebangkitan Emirat Jabal Shammar di bawah Dinasti Rashid. Pada tahun 1902, Ibnu Saud berhasil merebut kembali kota Riyadh, bekas ibu kota Dinasti Saud. Dia melanjutkan untuk menaklukkan seluruh Najd, Al-Hasa, Jabal Shammar, 'Asir, dan Hijaz (wilayah tempat dua kota suci Umat Islam, Mekkah dan Madinah) antara tahun 1913 dan 1926. Kemudian dibentuk Kerajaan Nejd dan Hijaz pada tahun 1927 hingga kemudian dilanjutkan konsolidasi dengan Al-Hasa dan Qatif, dan akhirnya terbentuklah Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932.
Terebutnya Mekah merupakan sebuah pukulan berat bagi Kesultanan Utsmaniyah yang telah berdaulat atas kota suci tersebut sejak 1517. Akhirnya Kesultanan Utsmaniyah memutuskan untuk mengambil tindakan melawan Bani Saud. Tugas untuk menghancurkan Saudi diberikan kepada raja mudaMesir yang kuat, Muhammad Ali Pasha, yang kemudian mengirim pasukan ke wilayah Hijaz dan merebut kembali Mekkah. Anaknya, Ibrahim Pasha, sementara itu memimpin pasukan Utsmaniyah ke jantung Najd, merebut kota demi kota yang dikenal sebagai Ekspedisi Najd. Setibanya di ibu kota Saudi di Diriyah, Ibrahim mengepung kota tersebut selama beberapa bulan sampai akhirnya Saudi menyerah pada musim dingin tahun 1818. Ibrahim kemudian mengirim banyak anggota Bani Saud dan Muhammad bin Abdul Wahhab ke Mesir dan ibu kota Kesultanan Utsmaniyah, Konstantinopel dan selanjutnya memerintahkan penghancuran Diriyah secara sistematis. Pemimpin (amir) Saudi terakhir, Abdullah bin Saud, kemudian dieksekusi di Konstantinopel.
Penaklukan Saudi atas Hijaz adalah sebuah kampanye yang dilakukan oleh Sultan Saudi Abdulaziz Al Saud untuk mengambil alih Kerajaan Hashemite Hijaz pada tahun 1924–1925. Kampanye tersebut berhasil berakhir pada bulan Desember 1925, dengan jatuhnya Jeddah. Selanjutnya, pada tahun 1926, Abdulaziz diproklamasikan sebagai raja Hijaz, dan mengangkat Nejd menjadi sebuah kerajaan juga pada tahun 1927. Selama lima tahun lebih berikutnya, wilayah Saudi disebut sebagai Kerajaan Nejd dan Hijaz, meskipun keduanya dikelola sebagai unit administratif terpisah.
Gerakan Ikhwan
Keadaan pasti di mana organisasi Ikhwan (saudara, persaudaraan) muncul masih belum jelas. Namun, diketahui bahwa mereka terdiri dari orang Badui yang dijiwai semangat Wahhabi di pemukiman yang disebut hijra. Mereka memainkan peran penting dalam naiknya kekuasaan Saudi, meskipun besarnya peran tersebut terkadang masih diperdebatkan.[1]
Commins, David (2006). The Wahhabi Mission and Saudi Arabia. London, New York: I. B. Tauris. hlm.80–94. ISBN978-1-84511-080-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Referensi
↑Commins, David (2006). The Wahhabi Mission and Saudi Arabia. London, New York: I. B. Tauris. hlm.80–94. ISBN978-1-84511-080-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)