Dr.Ulrich Kozok (dikenal sebagai Uli Kozok; lahir 26 Mei 1959) adalah seorang sejarawan, filolog dan paleograf kelahiran Jerman. Ia dikenal sebagai peneliti budaya, sejarah dan bahasa yang ada di Indonesia, khususnya Sumatra. Saat ini, ia merupakan guru besar di Universitas Hawaii dalam bidang Kajian Keindonesiaan.[1] Sebelumnya, ia menjadi dosen di Universitas Auckland, Selandia Baru.[2]
Riwayat hidup dan karier
Uli Kozok lahir pada tanggal 26 Mei 1959 di Hildesheim, Jerman dengan nama Ulrich Kozok.[2] Uli tertarik mempelajari sejarah, budaya dan bahasa yang ada di Sumatra, dan ketertarikan ini yang ia bawa saat menempuh studi MA dan doktoral di Universitas Hamburg, Jerman.[1] Saat masa studinya, Uli juga memperoleh beasiswa dari DAAD untuk menjadi mahasiswa tamu di Universitas Sumatra Utara[2] dan juga meneliti di Universitas Leiden.[1] Ia kemudian diterima untuk menjadi dosen di Universitas Auckland, dan mengajar dari tahun 1994 - 2001. Saat ini, Uli Kozok merupakan guru besar dalam bidang kajian keindonesiaan (Indonesian Studies) di Universitas Hawaii.[3]
Penelitian
Kajian Uli berfokus pada sejarah dan kebudayaan Melayu dan Batak. Saat meneliti naskah-naskah kuno di Kerinci, ia menemukan sebuah naskah di desa Tanjung Tanah yang kemudian dikenal sebagai naskah Melayu tertua.
Dalam bukunya, Utusan Damai di Kemelut Perang, Uli mengungkapkan bahwa para misionaris di Tanah Batak memiliki peranan dalam proses kolonialisasi Belanda di Tanah Batak. Hasil pembacaannya terhadap surat-surat L.I. Nommensen yang diterbitkan secara bulanan oleh organisasi zending Jerman Rheinische Missionsgesellschaft, menunjukkan bahwa Nommensen meminta bantuan dari Belanda "untuk menganeksasi Tanah Batak".[4] Pandangan tersebut—yang memosisikan Nommensen sebagai "agen" Belanda, dan bukan "independen" darinya—adalah berbanding terbalik dengan pandangan masyarakat Batak modern yang memandang Nommensen sebagai pahlawan,[5] terutama dalam isu mengenai hubungan Nommensen dengan Sisingamangaraja XII yang disebut Nommensen sebagai "musuh bebuyutan zending dan pemerintah".[6]
Bibliografi
(Indonesia)2011, Utusan Damai di Kemelut Perang. Peran Zending dalam Perang Toba. Berdasarkan Laporan L.I. Nommensen dan Penginjil RMG lain.. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia ISBN ISBN 978-979-461-776-2
(Indonesia)2006, Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah. Naskah Melayu yang Tertua. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Naskah Nusantara ISBN 979-461-603-6
(Inggris)2005, Reference list to the Bataksch - Dutch dictionary by H.N. van der Tuuk (Daftar rujukan untuk kamus bahasa Batak- Belanda oleh H.N. van der Tuuk. Jakarta: Wedatama Widya Sastra
(Inggris)2004, The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript. Cambridge: St Catharine's College and the University Press.
(Indonesia)1999, Surat Batak. Pengantar Filologi dan Aksara Batak, Medan: University of North Sumatra Press.
Masih akan terbit
(Jerman) [akan terbit]. Die Bataksche Klage: Toten-, Hochzeits- und Liebesklagen in oraler und schriftlicher Tradition. Wiesbaden: Harrassowitz.
(Inggris) bersama Masdi Soenardi dan Suzanne Weatherburn. [akan terbit]. Pak Bei. A Linguistic and Cross-Cultural Exploration of Indonesia. Jakarta: Gramedia.